
POV Kanaya.
Aku tak percaya sewaktu bangun tidur melihat Kak Arkan yang sedang mencium ku, aku terkejut kenapa Kak Arkan melakukan itu padaku. Bagaimana kalau Kak Ana tahu semua ini, membayangkannya saja aku tak sanggup Kak Ana pasti akan marah besar padaku.
Tapi kenapa Kak Arkan terlihat biasa saja seperti tak ada beban?
Setelah selesai sarapan aku pun membersihkan kamar Kak Arkan yang terlihat rapih, tapi aku harus tetap membersihkannya.
"Permisi Kak, aku mau membersihkan ruangan ini."
"Ya silahkan, jangan sampai ada debu yang menempel sedikit pun." Ujarnya sambil fokus pada layar ponselnya.
"Baik Kak." Aku pun mulai membersihkan dari mengganti seprai hingga membersihkan toilet, ah rasanya sangat lelah sekali.
"Kanaya," Panggilnya.
"Ya Kak, ada apa?"
"Apa kamu pernah pacaran."
"Belum pernah Kak memangnya kenapa?"
"Tidak apa apa, aku harap kamu fokus saja pada kuliahmu."
Rasanya aneh sekali Kak Arkan mencampuri kehidupan ku, padahal aku yang menjalaninya.
Tiba tiba Kak Arkan berjalan ke arah ku, tapi kenapa jantung ku seketika berdegup kencang.
Semakin dekat dia berjalan ke arahku dan aku pun semakin mundur hingga batas dinding kamar Kak Arkan, aku tak bisa berkutik lagi.
"Kak Arkan ada apa?" Namun dia tak menjawabnya, Kak Arkan malah menatapku dengan serius.
Semakin tidak ada jarak diantara aku dan Kak Arkan, semakin jantung ku berdegup. Aku pun memejamkan mataku tak ingin melihat tatapan Kak Arkan yang terus menatapku seperti itu.
"Hahaha," Kak Arkan menertawai ku, apa maksudnya dia tertawa apa ada yang salah dengan ku.
"Kenapa mata mu terpejam seperti itu, apa kamu pikir aku akan mencium mu lagi."
"Apa maksud Kak Arkan, aku hanya tidak ingin melihat tatapan Kak Arkan."
"Jangan salah paham, aku hanya mau mengambil sesuatu di rambut mu, nah lihat ini apa." Kak Arkan memperlihatkan daun kering yang ada di rambutku, aku juga tak tahu sejak kapan ada daun di rambutku. Dari tadi aku hanya diam di kamarku, ah mungkin saja daun itu tertiup angin dan terkena rambutku.
"Terima kasih Kak, aku kira ada apa hehe."
__ADS_1
"Kalau gitu aku permisi dulu Kak,"
"Hem ya."
Setelah keluar dari kamar Kak Arkan akhirnya jantung ku tidak berdebar seperti tadi lagi, untung saja Kak Arkan tak tahu kalau jantungku berdegup kencang.
Akhirnya aku bisa rebahan lagi di tempat tidurku yang nyaman dan empuk.
Aku pun membuka ponselku saling bertukar pesan dengan Nita, kami saling melempar candaan hingga perutku sakit sekali karena terus menertawai Nita yang menurutku sangat lucu.
Tiba tiba saja ada pesan dari Kak Arif mengajakku untuk bertemu di taman, aku bingung harus dengan alasan apa untuk menolaknya karena Kak Arkan pasti tidak akan mengizinkan aku pergi dengan seorang pria.
Menurutku aneh juga dengan sikap Kak Arkan yang tiba tiba saja melarang ku untuk pacaran apalagi bertemu dengan seorang pria, aku hanya bisa berfikiran positif saja, mungkin Kak Arkan ingin melindungi ku walaupun aku bukan Adik kandungnya.
***
"Wil bagaimana dengan kegiatan Ana disana? apa ada sesuatu." Tanyanya lewat pada William lewat telponnya.
"Sejauh ini belum ada yang mencurigakan dari nona Ana, hanya seminggu yang lalu ia bertemu dengan pria yang bernama Jack."
"Tolong cari tahu siapa pria itu dan tetap awasi istriku, jangan sampai ada yang tahu."
"Baik tuan, siap laksanakan."
Kemudian Arkan pun menutup telponnya, ia merasa ada yang aneh dari Ana namun Arkan mencoba menepis pikiran negatifnya, ia tak mau salah paham dulu pada istrinya itu.
Namanya seorang pria pasti punya hasrat jika tidak dituntaskan maka akan membuatnya jengah.
"Kapan Ana pulang, dua minggu sangatlah lama bagiku, tidak mungkin kan kalau aku harus membayar wanita malam. Aku tak ingin terkena penyakit karena kesalahan ku." Gumamnya.
Arkan mencoba menghubungi Ana lewat video call tapi Ana malah mematikannya alasannya ia sedang sibuk.
"Sayang aku rindu padamu, apa kamu tak ingin mengobati hasratku." Kata Arkan.
"Maaf mas aku sibuk, nanti minggu depan aku pulang kok."
"Itu sangat lama bagiku Ana, sampai kapan aku harus menahannya."
"Sabar dong mas," Ujarnya di sebrang sana.
"Lebih baik kamu berhenti bekerja lagi, aku akan memberimu istana untuk tempat tinggal kita."
"Tidak bisa mas, bahkan kau sudah janji akan menunggu ku sampai habis kontrak. Hanya satu tahun lagi kok mas, sabar ya."
__ADS_1
"Hem ya sudah,'' Lalu Arkan menutup telponnya, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Nona mau kemana?" Tanya bi Atum yang melihat Kanaya berjalan menuju pintu keluar.
"Bi tolong jangan beri tahu Kak Arkan, aku mau keluar dulu sebentar."
"Aduh non bahaya, nanti tuan marah."
"Sebentar aja kok bi, teman ku sudah nunggu di depan gerbang." Kanaya tak peduli dengan ucapan bi Atum lagi, ia dengan cepat berjalan menuju gerbang untuk menemui Arif.
Sebelumnya Kanaya sudah menolak untuk bertemu dengan Arif, tapi Arif memaksanya ingin bertemu dengan Kanaya membuat Kanaya menyetujuinya.
"Kak Arif maaf ya lama,"
"Gak apa apa kok."
"Memangnya Kak Arif mau membicarakan tentang apa sih, aku nunggu nih cepetan!"
"Santai dong gak usah buru buru seperti itu, ini kan ngobrolnya di depan rumah kamu masa gak bisa santai."
"Aku banyak kerjaan Kak, dan aku sudah memberi tahu Kak Arif kalau rumah ini bukan punyaku tapi punya Ayah angkat ku."
"Sama saja kan sekarang sudah jadi Ayah mu."
"Cepetan Kak Arif mau bilang apa,"
"Aku cuma mau ngasih kado buat kamu."
"Kado? ini bukan hari ulang tahun ku Kak."
"Iya aku tahu, aku hanya ingin memberi padamu. Nanti dibuka yah, kalau sudah tahu isinya nanti hubungi aku."
"Baik Kak, kalau gitu gak ada yang ingin dibicarakan lagi kan."
"Iya sekarang aku mau pulang, maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu ya."
"Iya Kak gak apa apa, hati hati dijalan ya Kak."
"Iya sayang," Ujarnya dengan memberi senyuman manis pada Kanaya.
"Sayang? apa maksudnya dia bilang sayang." Gumamnya dalam hati. Kemudian Kanaya kembali masuk dengan membawa sebuah kotak kecil pemberian dari Arif.
"Hem bawa apa itu?" Kata Arkan yang baru saja turun dari tangga menuju ruang utama.
__ADS_1
"Ah ini paket dari teman ku Kak, aku permisi dulu." Dengan cepat Kanaya segera meninggalkan Arkan membuat Arkan penasaran dengan isi sebuah kotak yang dipegang Kanaya.
"Ah akhirnya aku selamat dari Kak Arkan." Ujar Kanaya dengan mengusap dadanya.