Mencintai Saudara Tiri

Mencintai Saudara Tiri
Chapter 16


__ADS_3

Arkan pun keluar dari ruang kerjanya dan ia terkejut dengan keberadaan Ana yang berdiri didepan pintu.


"Sayang kamu disini."


"Iya mas,"


"Sejak kapan?"


"Dari tadi mas,"


"Ya sudah yuk kita ke kamar," Kemudian Arkan mengajak Ana ke kamarnya.


"Mas sebenarnya apa yang sedang dibicarakan oleh mu pada William?"


"Itu bukan apa apa, kamu tak perlu tahu soal pekerjaan ku."


"Tapi aku mendengar nama Kanaya dalam obrolan kalian."


"Kamu salah dengar Ana, tidak mungkin aku membawa nama Kanaya dalam urusan bisnis ku."


Namun hati Ana masih ada yang mengganjal, ia tak mungkin salah dengar dengan apa yang suaminya bicarakan.


"Mas besok aku harus kembali ke Amerika, hanya dua hari saja."


"Iya sayang, mas mengizinkan mu asal kamu tidak lupa untuk mengabari mas."


"Iya mas." Lalu Arkan dan Ana saling berpelukan untuk melepas rindu ya karena besok Ana harus meninggalkan Arkan lagi demi karirnya.


"Aku harus pasang cctv di kamar ini, aku ingin tahu kegiatan apa saja yang dilakukan suamiku." Ucapnya dalam hati.


Kanaya merasakan mual dan juga pusing, ia sudah dua kali mengeluarkan isi perutnya sehingga wajahnya terlihat pucat membuat bi Atum khawatir melihatnya.


"Nona lebih baik anda periksa ke dokter, bibi dari tadi liat nona muntah terus."


"Gak apa apa bi, ini hanya masuk angin saja."


"Kalau begitu biar bibi bikinkan air jahe ya, agar tidak mual lagi."


"Iya bi boleh."


Baru saja ingin merebahkan kembali tubuhnya namun Kanaya merasakan mual lagi.

__ADS_1


"Ya tuhan kenapa aku mual terus, perut seperti di aduk aduk padahal aku hanya makan sama sup ayam buatan Kak Ana tapi kenapa aku sering mual." Gumamnya.


Lalu bi Atum datang dengan membawa secangkir air jahe kemudian diberikannya pada Kanaya.


"Terima kasih bi ini benar benar membuat perutku tak merasakan mual lagi."


"Sama sama non nanti kalau mau lagi tinggal bilang sama bibi ya."


"Iya bi."


***


Kanaya pamit pada Arkan dan juga Ana untuk pergi ke apotik, Arkan menawarkan tumpangan pada Kanaya namun ia menolaknya karena Kanaya tak ingin Arkan tahu.


"Semoga Kak Arkan tidak memaksa ku untuk pergi bersama," Ucapnya dalam hati.


"Memangnya kamu mau ngapain ke apotik?" Tanya Ana.


"Aku mau beli obat Kak, aku sakit perut dari tadi bolak balik ke toilet."


"Oh ya sudah kamu bisa di antar mang Sardi kalau kamu tak mau di antar mas Arkan."


"Iya Kak, aku permisi dulu."


Sepertinya Ana menyadari sesuatu dari Kanaya, ia pun menelpon seseorang untuk mengikuti Kanaya.


"Hallo Badru,"


"Ya nona ada apa?"


"Tolong ikuti Kanaya yang berada di mobil mang Sardi sekarang juga, katanya ia akan pergi ke apotik jadi tolong cari tahu ia membeli obat apa."


"Baik nona siap laksanakan."


Setelah sampai apotik yang tak jauh dari rumah Arkan, Kanaya langsung membeli tes kehamilan.


"Semoga saja hasilnya negatif," Ucapnya dalam hati.


"Ini nona Tespack nya, anda masih sangat muda tapi sudah menikah ya. Saya sangat bahagia jika hasilnya positif." Kata pelayan Apotik.


"Terima kasih mbak."

__ADS_1


Kemudian Kanaya kembali ke mobil mang Sardi, sebelum pulang Kanaya ingin ke supermarket dulu untuk membeli bahan makanan.


"Mbak boleh saya tanya." Ujar seorang pria yang setengah tua dia adalah Badru orang suruhan Ana.


"Ada apa ya pak?"


"Barusan wanita yang berambut pirang ia belu obat apa ya mbak."


"Oh mbak mbak yang barusan beli tespack pak."


"Kalau begitu terima kasih ya mbak."


Badru pun segera menghubungi Ana untuk memberitahu sesuatu yang di beli oleh Kanaya.


"Hallo Badru apa kau sudah tahu apa yang dibelinya."


"Sudah nona, dia membeli tespack sepertinya dia mau test kehamilan."


Ana sedikit syok mendengar pernyataan dari Badru.


"Ya iyalah tespack itu buat test kehamilan dasar ngaco." Ana pun menutup telponnya dengan perasaan tak percaya pada gadis yang terlihat polos.


"Apa Kanaya hamil, tapi dengan siapa? bukannya ia belum pernah pacaran, kok aku jadi curiga ya." Ana terus saja mondar mandir memikirkan Kanaya yang menurutnya gadis polos namun kenyataannya tidak sepolos itu.


"Mang Sardi tunggu disini dulu ya, aku mau beli cemilan dulu."


"Iya non."


Kanaya memilih beberapa cemilan untuk dirinya begitu juga dengan kebutuhan dapur, namun ia tak sengaja bertemu dengan Arif.


"Kak Arif." Arif tersenyum sinis pada Kanaya.


"Wanita pengkhianat." Gumamnya namun masih terdengar di telinga Kanaya.


Sungguh Kanaya sangat sakit hati dengan ucapannya.


Arif yang dulu sangat lemah lembut namun sekarang ia terlihat seperti pria Arogan yang membenci seorang wanita.


"Aku mendengar apa kata mu Kak, kau bilang kau tak ingin mengenalku tapi nyatanya kau tak bisa melupakan mu."


"Terlalu pede kau jadi wanita, cih wanita pembohong sok polos nyatanya tak sepolos yang ku pikirkan." Ujarnya membuat hati Kanaya perih dengan sikap Arif yang sudah berubah.

__ADS_1


Tanpa disadari air mata Kanaya lolos dengan sendirinya padahal ia sudah menahannya untuk sekuat mungkin namun ternyata ia sangat mudah menangis.


__ADS_2