
Kanaya tak bisa tidur malam ini, ia mencoba menutup matanya tapi tak kunjung tidur.
"Ini sudah hampir jam 2 malam, tapi kenapa aku belum bisa menutup mataku." Bayangan Arkan yang terus saja menghantuinya membuat ia tak bisa memejamkan matanya.
"Ini semua gara gara Kak Arkan," Kesalnya.
Begitu juga dengan Arkan, ia tak bisa tidur malam ini namun Arkan mengalihkannya pada laptop ia tak ingin waktunya sia sia jadi lebih baik ia bekerja walaupun sudah malam bahkan sebentar lagi menuju pagi.
Setelah satu jam fokus dengan laptopnya, Arkan merasakan kantuk lalu ia pun menutup laptopnya dan tertidur dengan nyenyak.
Sudah jam 11 siang Kanaya masih belum bangun, karena semalam ia tak tidur sampai pagi.
"Bi Kanaya mana?" Tanya Arkan pada bi Atum.
"Sepertinya masih tidur tuan."
"Bisa bisanya anak gadis jam segini masih tidur." Lalu Arkan pun berjalan ke arah kamar Kanaya, ia membuka pintunya pelan pelan.
"Kenapa tidak dikunci, apa dia tidak takut kalau ada yang masuk ke kamarnya." Kanaya tertidur dengan sangat nyenyak, membuat Arkan ingin menjahilinya jadi ia masuk kedalam dan mengambil spidol warna di meja belajarnya Kanaya.
"Ini akibatnya kalau belum bangun," Kata Arkan dengan mencoret coret hidung Kanaya.
Namun tiba tiba Kanaya bermimpi sesuatu sampai ia memeluk Arkan dengan erat.
"Ayah aku merindukanmu, kenapa secepat ini ayah meninggalkan aku." Kanaya semakin mengeratkan pelukannya membuat Arkan menahan sesaknya.
"Lepaskan aku Kanaya, aku bukan Ayahmu."
Di pandangnya wajah Kanaya, ada rasa getaran di dada Arkan membuat Arkan terpesona dengan bibir ranumnya.
"Apa aku boleh mencoba bibir anak gadis ini, sepertinya sangat manis." Karena Arkan sudah lama tak merasakan kehangatan dari istrinya, ia jadi melampiaskannya pada Kanaya.
Cup, kecupan pertama membuat Arkan ingin mencobanya lagi.
Cup, kecupan kedua membuat Arkan terbuai.
"Kenapa sangat manis sekali, apa dia belum pernah melakukannya?"
Semakin dipandang semakin membuatnya terpesona, dengan berani Arkan menciumnya kembali. Namun Kanaya merasakan basah di bibirnya, kemudian Kanaya membuka matanya ia terkejut pada pria yang memainkan bibirnya, namun Arkan tidak sadar bahwa Kanaya sudah bangun dari tidurnya.
"aaaaa..." Kanaya mendorongnya hingga Arkan terjungkal kebelakang.
"Apa yang Kak Arkan lakukan padaku!"
"Em apa maksudmu, apa kau sedang bermimpi?" Arkan mengalihkan pertanyaannya, ia malu sudah tertangkap basah oleh adik tirinya.
"Jelas jelas barusan Kak Arkan yang mencium ku." Arkan langsung membekap mulut Kanaya, ia takut pelayan mendengarnya.
__ADS_1
Kanaya hanya bisa menahan nafasnya.
"Suts jangan berisik, Kakak gak sengaja melakukan ini." Kemudian Arkan melepaskan tangannya dari mulut Kanaya lalu ia pergi meninggalkan Kanaya tanpa merasa bersalah, sedangkan Kanaya ingin menangis setelah mengetahui perlakuan Arkan karena selama hidupnya ia belum pernah melakukan penyatuan bibir dengan seorang pria.
"Berani beraninya Kak Arkan melakukan ini padaku, dia sudah menikah apakah dia amnesia." Kanaya terus saja menggosok gosok bibirnya dengan selimut membuat bibirnya perih dan kemerahan.
"Bibirku ternodai hiks hiks,"
Akan tetapi Arkan tak merasa bersalah, dengan santainya ia duduk menikmati secangkir kopinya diruang kerja karena hari ini ia libur ke kantor.
Arkan terus saja meraba bibirnya dengan senyum yang tak bisa di artikan.
"Manis, ini membuatku menginginkan nya lagi."
Ting bunyi pesan masuk.
Kemudian Arkan mengambil ponselnya, ia sudah tahu siapa yang menghubunginya. Siapa lagi kalau bukan Ana istri tercintanya.
"Sayang sudah makan belum, maaf ya aku baru bisa mengabari mu. Hari ini aku benar benar sedih harus menyampaikan sesuatu padamu"
"Apa"
"Maaf aku tak bisa pulang minggu ini mas, aku minta satu minggu lagi untuk pulang kerumah"
"Ya terserah kau saja"
"Bagus deh kalau mas Arkan tak marah, aku bisa lebih bebas tinggal disini. Males banget kalau harus tinggal bersama suami tiap hari harus melakukan kebutuhannya." Ucapnya.
Arkan juga heran pada dirinya sendiri, kenapa ia malah menginginkan Ana lebih lama lagi di Amerika, jadi tak marah ataupun melarangnya pada Ana.
Kanaya yang baru selesai mandi kemudian ia mengganti bajunya lalu ia pergi menuju meja makan untuk sarapan pagi yang terlewat.
"Nona anda baru bangun, apa nona sakit."
"Tidak bi, semalam aku hanya tak bisa tidur."
"Kalau begitu silahkan makan nona."
Arkan dengan pakaian santainya berjalan menuju meja makan, Kanaya terkagum dengan penampilan Arkan yang terlihat lebih muda dari usianya.
"Tolong ambilkan makanan ku," Ujarnya pada Kanaya.
Dengan cepat Kanaya pun mengisi piringnya untuk Arkan.
"Aku tak suka udang," kemudian Kanaya mengambil ikan.
"Aku juga tak suka ikan," Kanaya pun mengambil ayam goreng.
__ADS_1
"Aku tak suka ayam goreng."
"Lalu Kakak mau makan dengan apa."
"Apa saja, yang penting jangan ikan atau daging aku tidak suka."
Kanaya pun mengambil sayur saja kemudian ia menyodorkannya pada Arkan.
"Dasar pria aneh gak suka ikan ataupun daging, jadi dia sukanya sayur aja kalau begitu kenapa gak jadi hewan aja sih." Ucapnya dalam hati karena ia benar benar kesal dengan sikap Kakak tirinya.
Arkan menatap bibir Kanaya yang kemerahan, dan ada sedikit darah di bibir Kanaya.
"Bibirmu kenapa?" Tanyanya.
"Ternodai."
"Hahaha," Arkan malah menertawakannya.
"Aku suka bibirmu yang manis Kanaya." Ujarnya tanpa ada rasa malu dan bersalah.
"Apa Kak Arkan gila! Kak Arkan ini sudah menikah berani sekali menodai bibir suciku."
"Ya memangnya kenapa," Ujarnya dengan santai.
"Apa kamu takut Ana akan marah." Sambungnya lagi.
Kanaya benar benar kesal dengan pertanyaan Arkan.
"Pria macam apa sebenarnya dia." Gumamnya.
"Kenapa diam saja, sebenarnya bukan aku yang mencium mu tapi kamu lah yang pertama mencium ku karena tiba tiba kamu memelukku dan mengatakan rindu pada ayahmu, bagaimana mungkin aku tak tergoda, aku ini pria normal." Ujarnya dengan berbohong padahal ia lah yang melakukannya walaupun memang Kanaya yang pertama memeluknya.
"Apa Kakak tidak berbohong."
"Tentu saja tidak, kau tak akan mengakuinya karena kau tidur." Kanaya percaya tidak percaya pada Arkan, tapi ia ingat semalam memang memimpikan Ayahnya.
"Apa mungkin kata Kak Arkan benar, aku sangat malu jika ini benar. Ya tuhan aku ingin menghilang saja." Gumamnya.
Arkan tersenyum senang sudah berbohong dan mengerjai Kanaya.
"Sudahlah tak usah dipikirkan, lupakan saja namanya juga mimpi pasti tidak sadar." Sambung Arkan.
"Aku minta maaf Kak, aku jadi malu sama Kak Arkan."
"Tak apa apa, aku tak mempermasalahkan itu. "
Arkan memang paling pintar berakting, Kanaya percaya saja pada ucapannya karena Kanaya melihat tidak ada kebohongan di raut wajah Arkan. Belum tahu saja dia dengan sikapnya Arkan.
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, dan favoritnya ya readers