
Selama satu minggu Kanaya dirawat di rumah sakit tersebut sekarang ia sudah di izinkan pulang oleh dokter.
"Hati hati Kanaya biar aku yang membantu mu," Ujar Arkan.
"Tak perlu, lepaskan tanganku."
Selama satu Minggu Arkan menemani Kanaya di rumah sakit namun sikap Kanaya tak berubah ia sangat ketus pada Arkan.
Arkan mencoba meminta maaf, merayu, dan membujuknya namun semuanya tak berhasil, Kanaya tetap bersikap ketus seperti tak menyukai Arkan.
"Kanaya biar aku yang membantu mu, aku tahu kau masih merasakan sakit walaupun dokter sudah menyatakan bahwa kamu sembuh."
Kanaya benar benar membenci Arkan, ia tak suka dengan keberadaan Arkan di sisinya.
"Aku bilang aku bisa jalan sendiri, jangan menyentuhku." Ketusnya.
Arkan hanya bisa mengelus dadanya ia terpaksa membiarkan Kanaya berjalan dengan sendirinya.
Setelah sampai mobil Arkan membukakan pintu depan untuk Kanya.
"Silahkan masuk adik ku."
"Aku ingin di belakang."
"Kanaya kau harus duduk di depan, aku ini bukan sopir mu."
"Aku bilang aku mau dibelakang,"
__ADS_1
"Hem baiklah."
Selama dalam perjalanan Kanaya hanya melihat ke arah jendela mobil, entah apa yang dipikirkan nya ia menangis Kembali mengingat kejadian minggu lalu.
Arkan merasa kasihan padanya namun ia tak bisa berbuat apa apa, ia juga tak ingin Kanaya semakin membencinya.
Setelah sampai rumah Arkan membukakan pintu mobilnya, kemudian ia menuntunnya namun Kanaya malah menepisnya dengan kasar ia tak ingin di sentuh oleh Arkan.
"Lepaskan, aku bisa sendiri!"
Disana sudah ada Atika dan Louis yang sedang menunggu kepulangan anaknya.
"Sayang ibu senang akhirnya kau pulang," Kanaya tak menghiraukannya ia melewati mereka begitu saja.
"Kanaya," Panggil Louis.
"Ayah ingin berbicara dengan mu setelah nanti kau istirahat."
"Ya baik ayah." Kemudian Kanaya kembali berjalan menuju kamarnya, setelah sampai sana ia menangis sesenggukan dengan mengunci pintunya.
"Aku benci mereka semua," Gumamnya dengan memegang perut yang masih terasa sakit.
Harusnya Kanaya senang jika ia tidak mengandung lagi karena ia bisa bebas dan tidak memikirkan Arkan dan juga kandungannya, namun tidak dengan Kanaya ia sangat menyayangi kandungannya walaupun dari hasil hubungan gelap.
Bagaimana pun bayi yang pernah ia kandung itu tak bersalah, maka dari itu Kanaya sangat menyayanginya dengan tulus akan tetapi sekarang ia hanya bisa menerima takdir bahwa bayinya tak bisa bertahan lama.
"Kanaya buka pintunya, aku ingin bicara dengan mu." Ujar Arkan dari luar pintu kamar.
__ADS_1
Entahlah Kanaya sudah tidak peduli lagi pada Arkan ia ingin segera menjauh darinya jika melihat Arkan ia malah semakin mengingat kejadian minggu lalu.
Akhirnya Arkan bisa masuk kedalam dengan kunci cadangan, ia melihat Kanaya yang sedang meringkuk dengan tertutup selimut. Arkan tahu Kanaya pasti akan membencinya tapi ia tak akan menyerah begitu saja, Arkan akan tetap terus meminta maaf Sampai Kanaya ingin memaafkannya.
"Kanaya," Dengan lembut Arkan mengelus rambutnya.
"Aku minta maaf sudah membuat mu seperti ini, sebenarnya aku kesini ingin mengungkapkan perasaanku pada mu bahwa aku sangat mencintaimu Kanaya, sekarang ayah sudah menyetujui kita untuk menikah apakah kamu mau menjalin hubungan dengan ku kejenjang serius."
Kanaya mendengar penuturan Arkan rasanya ingin memukul bibirnya beraninya dia mengajak nikah setelah ia mengalami masa sulitnya, bagaimana pun sekarang Kanaya sudah tidak ingin menjalin hubungan dengan Arkan lagi.
"Kanaya maukah kau menjadi istri ku." Kanaya semakin geram di buatnya.
"Tolong pergi dari kamar ku dan jangan pernah mengungkapkan kata kata konyol itu, pergi dari sini teriaknya." Namun Arkan malah memeluknya membuat Kanaya semakin memberontak.
"Lepaskan aku sialan."
"Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaan ku aku tak akan pernah melepaskan mu." Kanaya pun tersenyum sinis.
"Aku tidak mencintai mu, mulai sekarang jangan pernah mengatakan kata kata konyol itu lagi sampai kapan pun aku tak akan pernah menikah dengan mu."
"Hem baiklah aku mengalah, aku tahu kau masih marah padaku kalau begitu aku akan pergi dulu jika nanti sudah ada jawabannya kau bisa memberitahu ku, jadi tolong tenangkan hatimu dulu,"
CUP
CUP
Arkan dengan berani mengecup keningnya tanpa izin dari Kanaya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Kanaya." Lalu Arkan pun pergi meninggalkan Kanaya yang masih menangis di atas tempat tidurnya, entah kenapa Kanaya tak bisa menahan air matanya yang lolos begitu saja.