Mencintai Saudara Tiri

Mencintai Saudara Tiri
Chapter 6


__ADS_3

Kemudian Arkan turun kebawah untuk menemui Kanaya, Kanaya yang baru saja masuk takut terkejut dengan Arkan yang sudah berada didepan pintu utama dengan melipat tangannya.


"Dari mana saja kamu?"


"Aku baru pulang kuliah Kak." Ujar Kanaya dengan pandangan menunduk, ia takut dihukum lagi oleh Kakak tirinya itu.


"Barusan kamu pulang bersama siapa?"


"Itu teman aku Kak, namanya Kak Arif dia mengantarku karena tadi aku pingsan." Arkan memperhatikan wajah Kanaya yang pucat, kali ini ia percaya dengan ucapan Kanaya.


"Ya sudah sana masuk." Tegasnya.


"Terima kasih Kak," Kanaya pun langsung berjalan dengan cepat takut Arkan berubah pikiran.


"Mungkin benar dia pingsan gara gara semalam tidur diluar, tapi itu salahnya yang sudah berani membantahku." Gumamnya.


Kanaya pun langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, karena masih terasa pusing ia pun memejamkan matanya.


***


"Hai Ana," Ucap seorang pria yang menyapa Ana dengan segelas minuman ditangannya.


"Hallo Jack apa kabar?" Ana pun langsung memeluk pria yang bernama Jack itu.


"Aku baik baik saja, apa kamu sendirian?"


"Tentu saja aku sendirian, suamiku tak pernah mau ikut denganku."


"Kalau begitu mari kita minum bersama,"


Ana pun mengiyakan ajakan Jack, karena memang sudah lama ia tidak minum.


Tanpa Ana sadari ada seorang pria yang memperhatikannya dari jauh, dia adalah asisten Arkan namanya William. William ini sudah lama bekerja bersama Arkan, ia sudah jadi orang kepercayaannya.


William pn memotret kegiatan Ana kemudian ia mengirim buktinya pada Arkan.


Arkan menyeruput kopinya dengan fokus ke layar laptopnya kemudian ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerjanya.


"Ana, seperti inikah bila kau jauh dariku. Sudah lama aku menaruh curiga padamu semenjak kamu tak pernah ingin ku sentuh tapi kemarin malam kau melayaniku apa mungkin kau ingin aku tak mencurigai mu." Ucapnya dengan menatap foto kiriman dari William.


Semakin hari sikap Ana semakin berubah setelah karirnya meningkat, Ana tak pernah melayani Arkan kebutuhan Arkan pun semuanya dilakukan oleh bi Atum, tapi mulai hari ini Kanaya lah yang akan melayani kebutuhan Arkan. Namun hari ini Arkan memberi ruang istirahat untuk Ana karena ia tahu Ana sedang sakit. Sejahat apapun Arkan ia pria yang punya perasaan, ia tak tega bila melihat orang lain sakit begitupun pada pelayan dirumahnya ia selalu memperhatikan kesehatan bawahannya.


Kanaya terbangun dari tidurnya, lalu ia melihat jam dipergelangan tangannya dengan cepat Kanaya bangun dari tidurnya.


"Ini sudah jam 8 malam, kenapa aku ketiduran lama sekali. Bagaimana dengan Kak Arkan apa dia akan menghukum ku lagi."


Dengan cepat Kanaya pergi ke kamar mandu dari semenjak pulang kuliah ia belum membersihkan tubuhnya sampai sekarang.

__ADS_1


Setelah selesai, Ana pun pergi menuju ruang kerja Arkan karena mulai hari ini ia harus melayani kebutuhan Arkan.


Tok tok tok


"Kak boleh aku masuk,"


"Hem masuklah." Ujar Arkan dari dalam.


Dengan pelan Kanaya masuk ke ruang kerja Arkan kemudian ia menutup pintunya kembali.


"Ada apa kamu kesini?"


"Aku mau minta maaf Kak karena aku ketiduran, apa Kakak membutuhkan sesuatu biar aku akan melakukannya."


"Ya buatkan aku kopi tanpa gula."


"Tanpa gula Kak, nanti rasanya pahit bagaimana?"


"Jangan banyak bertanya, cepat buatkan."


"Baik Kak," Dengan sigap Kanaya pergi menuju dapur kemudian ia membuatkan kopi untuk Arkan.


"Bi memangnya Kak Arkan kalau bikin kopi tak pernah pakai gula ya?" Tanyanya pada bi Atum yang sedang mencuci piring.


"Iya karena tuan tak suka yang manis manis."


"Kurangi sedikit lagi nona, itu kebanyakan."


Setelah selesai membuat kopi Kanaya pun kembali keruang kerja Arkan.


"Hallo william ada apa?"


"Tuan tolong foto kan berkas yang kemarin, tuan Louis memintanya."


"Baiklah tunggu sebentar aku akan mengambil berkas ku dulu."


Lalu Arkan berdiri kemudian berbalik untuk mengambil berkasnya, namun Arkan berpapasan dengan Kanaya yang sedang membawa segelas kopi sehingga mereka bertabrakan.


Brukkkk...


Kening Kanaya bertemu dengan bibir Arkan, Karena Arkan lebih tinggi dari Kanaya begitu juga dengan kopinya yang tumpah di baju Arkan.


Kanaya menatap Arkan dengan rasa takut begitu pun Arkan menatap Kanaya dengan rasa marah namun Arkan terpesona dengan mata indah Kanaya, ia sangat lama menatapnya tanpa ada jarak diantara mereka.


Kanaya merasa heran pada Arkan yang tersenyum, lalu ia pun langsung menyadarkan Arkan.


"Kakak maaf aku tak sengaja, biar ku bersihkan bajunya."

__ADS_1


Dengan cepat Kanaya pun mengambil tissue di atas meja kerjanya kemudian ia mengelapnya ke baju Arkan yang basah.


Kemudian Arkan menghentikannya dengan memegang tangan Kanaya.


"Sudah hentikan, tolong siapkan baju gantiku."


"Baik Kak," Kanaya mengira Arkan akan marah padanya tapi ternyata Arkan tak seperti yang dipikirkannya.


"Kenapa diam, cepat ambilkan baju gantiku."


"Memangnya aku boleh masuk ke kamar Kakak."


"Masuklah, carikan saja di lemari ku. Aku akan mencari berkas ku dulu."


Arkan dan Kanaya pun masuk ke kamarnya, Arkan mencari berkas di lacinya kemudian memotretnya pada William, sedangkan Kanaya mengambil baju tidur Arkan.


"Ini Kak baju gantinya."


"Kenapa kau mengambil hanya bajuku saja, ambilkan celanaku dan juga dalaman ku. Aku mau tidur masa pakai celana kerja."


"Ah iya Kak maaf." Kanaya pun mengambil lagi celana untuknya, namun Arkan kembali menyuruhnya lagi.


"Dalaman ku mana?"


Kanaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, baru kali ini ia harus mengambil dalaman seorang pria.


"Cepat Ambilkan."


"I iya Kak." Kanaya pun kembali menuju Almari.


"Kenapa harus mengambil dalaman juga sih, harusnya ini kan tugas Kak Ana," Ucapnya dalam hati.


"Ini Kak **********," Kanaya sengaja mengalihkan pandangan dari tangannya, ia merasa matanya ternodai oleh dalaman pria.


Arkan tersenyum senang setelah mengerjai Kanaya.


"Rupanya adik tiriku lucu juga," Ujarnya.


"Apa maksud Kakak."


"Tidak, kau kembali saja ke kamarmu aku tak membutuhkanmu lagi, apa kau ingin melihatku memakai bajuku." godanya.


"Tidak Kak, aku pergi dulu. Permisi." Kanaya pun dengan cepat pergi dari kamar Arkan, ia tak ingin banyak bicara lagi dengan Arkan.


"Hahaha rupanya dia lucu sekali, dasar anak kecil." Hati Arkan merasa hangat kembali dengan adanya Kanaya, ia sangat senang mengerjai adik tirinya itu. Ia pun membayangkan mata indah Kanaya yang membuatnya terpesona.


"Ah tidak tidak, kenapa aku jadi membayangkan anak kecil." Dengan cepat Arkan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2