
Ana melihat banyak perubahan pada sikap suaminya, ia mencoba untuk menggodanya malam ini dengan pakaian yang terbuka agar Arkan mau menyentuhnya.
"Mas sudah lama kita gak melakukan hubungan, bukannya kamu sangat menginginkan itu." Tanyanya.
Entahlah melihat penampilan Ana malam ini ia tak bergairah, Ana yang sudah menggodanya berbagai cara namun Arkan tetap saja cuek.
"Mas kamu ini kenapa? aku pulang dari Amerika itu buat bertemu kamu buat nyenengin kamu, kok kamu malah biasa aja sih."
"Maaf Ana malam ini aku tak bisa melakukannya, aku capek!"
"Alasan mu gak masuk di akal mas, apa aku harus bilang pada ayah mu kalau sikap mu berubah sudah tak ingin menyentuhku lagi."
Itulah sisi kelemahan Arkan adalah Ayahnya, ia tak bisa berbuat apa apa jika sudah menyangkut Ayahnya.
Arkan pun dengan terpaksa mengikuti kemauan istrinya untuk malam ini.
"Yang semangat dong mas bikin anaknya bukannya kamu menginginkan anak dari ku."
Arkan pun melakukannya dengan Ana namun rasanya sangat berbeda dengan Kanaya, Tentu saja berbeda karena Kanaya masih suci sedangkan bersama Ana sudah lama.
Arkan benar benar tak semangat untuk melakukannya, namun ia terpaksa untuk menuntaskan hasrat sang istri.
"Terima kasih mas, kamu memang paling hebat di atas ranjang." Ujarnya.
Kanaya yang ingin mengantarkan kopi ke kamar Arkan pun ia tak sengaja menjatuhkan cangkir nya kelantai sehingga membuat Arkan dan Ana kaget dengan suara pecahannya.
Dengan cepat Kanaya berlari menuju kamarnya, ia membiarkan pecahan itu berserakan di lantai. Entah kenapa Kanaya merasakan sakit di dadanya setelah mendengar percintaan yang dilakukan suami istri oleh Kakak tirinya itu.
__ADS_1
Arkan pun penasaran lalu ia berjalan menuju pintu kamarnya sedangkan Ana sibuk dengan ponselnya.
"Siapa yang membawa kopi kesini, apakah Kanaya?" Gumamnya.
Arkan memanggil bi Atum untuk membersihkannya, ia juga bertanya pada bi Atum siapa yang mengantarkan kopi.
"Kanaya yang mengantarkan kopi tuan kesini, karena memang tiap hari Kanaya selalu mengantarkan kopi tuan."
Arkan baru mengingatnya dengan tugas Kanaya yang harus membuatkan kopi untuknya.
"Apa Kanaya mendengar aktifitas ku dengan Ana? apa ia marah sehingga menjatuhkan kopi yang di bawanya." Ucapnya dalam hati.
Setelah itu Arkan kembali kedalam, di lihatnya Ana sudah tidur ke alam mimpinya.
"Aku harus menemui Kanaya." Dengan cepat Arkan bergegas menuju kamar Kanaya yang tidak dikunci ia pun langsung masuk kedalam kamar Kanaya.
Di peluknya Kanaya dari belakang membuatnya terbangun.
"Tolong lepaskan tangan mu, untuk apa Kak Arkan kesini!"
"Aku ingin tidur bersama mu."
"Apa Kak Arkan sudah gila hah, setelah memperkosa ku apa Kak Arkan tak merasa bersalah padaku."
"Kanaya maafkan aku, aku benar benar tidak sengaja melakukannya karena memang pengaruh obat yang membuatku seperti itu."
"Lalu sekarang aku harus bagaimana Kak, masa depanku sudah hancur hanya dengan semalam."
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab soal itu, aku akan membayar denda berapapun yang kamu inginkan."
Kanaya merasa seperti ditusuk duri oleh ucapan Arkan yang dengan gampangnya ingin membayar denda.
"Aku bukan seorang penjual kesucian ku, aku tak butuh uang. Aku ingin kau mengembalikan kesucianku."
Kanaya memukul dada Arkan dengan amarahnya.
"Kau tega menghancurkan masa depanku hiks hiks."
"Kanaya maafkan aku, jadi aku harus bagaimana? apa aku harus membawa mu kedokter untuk mengembalikan kesucianmu."
"Pikiran macam apa itu hah,"
"Kalau begitu aku harus tanggung jawab dengan apa, apa kau ingin ku nikahi."
"Kau konyol sekali Kak, apa kau tak berfikir sudah memiliki seorang istri, apa kau tega menyakiti istrimu hah."
"Lalu aku harus melakukan apa agar kamu bisa memaafkan ku, kalau begitu mari kita menikah diam diam."
Kanaya tak menjawabnya lagi, ia semakin menangisi nasibnya yang entah harus bagaimana kedepannya.
"Beri aku waktu 1 bulan untuk memikirkannya, aku akan bertanggung jawab dengan apa yang telah aku lakukan padamu."
"Aku benar benar minta maaf atas kesalahan yang aku lakukan." Setelah itu Arkan meninggalkan Kanaya yang masih menangis, ia kembali ke kamarnya.
Arkan meminta waktu 1 bulan pada Kanaya untuk memikirkannya, ia ingin bukti yang kuat untuk mengetahui sikap Ana. Jika memang Ana mengkhianatinya maka Arkan akan menceraikannya lalu menikahi Kanaya, namun jika Ana tak pernah mengkhianatinya maka ia hanya bisa membayar denda pada Kanaya yang sudah dirugikan nya.
__ADS_1
"Aku akan segera menuntut Ana untuk mengandung benih ku, kalau ia tak mau maka aku harus meninggalkannya." Dipandangnya Ana yang sedang tertidur nyenyak, namun hatinya tak sama seperti dulu. Ia merasa ada yang hilang dalam dirinya, entah kenapa setelah tahu perlakuan Ana di belakangnya membuat cintanya perlahan pudar.