Mencintai Saudara Tiri

Mencintai Saudara Tiri
Chapter 35


__ADS_3

"Hari ini kay berangkat siang seharusnya kamu berangkat pagi pagi karena kamu anak baru disini." Ujar putri pada Kanaya yang baru saja datang.


"Maaf mbak tadi jalanan macet,"


"Bohong kamu cih mana ada pagi pagi macet, makanya harus berangkat pagi biar ga macet. Masih baru tapi sudah banyak tingkah."


Kanaya tak ingin berdebat dengan putri kemudian ia pergi keruangan Arkan untuk melakukan pekerjaannya sebagai office girl.


Kanaya pun membereskan kertas yang berantakan di meja Arkan ia juga membersihkannya namun Kanaya masih teringat pada Ana yang datang tiba tiba memeluk Arkan.


"Apa mereka belum bercerai ya?" Ucapnya dalam hati.


"Aish aku ini kenapa sih malah memikirkan mereka berdua padahal kan bagus kalau mereka menjalin hubungan kembali."


Arkan baru saja datang ke ruangannya, ia melihat Kanaya yang sedang menata bunga di meja kerjanya.


"Ehemmm,,,"


"Eh tuan sudah datang?"


"Tak usah formal gitu jika sedang berbicara berdua, panggil saja aku Kakak."


"Tapi aku gak enak tuan takut ada yang dengar."


Arkan pun menggelengkan kepalanya setelah mendengar alasan dari Kanaya.


"Biarkan saja orang lain mendengarnya, memangnya kenapa? lebih bagus kalau kamu mengakui ku sebagai calon suami mu."


"Jangan gila Kak, tadi saja kalian sedang berpelukan di parkiran. Aku tahu kalian masih saling mencintai padahal tinggal balikkan aja."


"Cieee, jadi kamu cemburu?"


"Tidak kok, untuk apa cemburu!"


"Hahahaha rupanya kau pintar berbohong tapi kau tak bisa menyembunyikan raut wajah mu itu."


"Jangan lupa nanti sore kamu harus memakai gaun dari pemberianku jangan sampai tidak dipakai."

__ADS_1


"Em iya baik Kak, kalau begitu aku permisi dulu."


***


"Argh sialan kau Arkan, rupanya sekarang kau berani menolakku, ini semua gara gara gadis murahan."


Ya Ana sedang marah marah di apartemennya dengan membantingkan barang barangnya, Ana seorang wanita yang susah mengontrol emosinya sampai ia harus menghancurkan isi apartemennya apalagi sekarang ia sedang mengalami permasalahan dengan mantannya.


***


Hari sore pun sudah tiba Kanaya memakai gaun silver pemberian Arkan, ia sangat cantik sekali dengan penampilannya.


Tok tok tok pintu kamar Kanaya diketuk oleh seseorang yang mengunjungi nya.


"Kanaya apa kau sudah siap?"


"Sudah Kak aku sudah siap." Kanaya pun membuka pintu kamarnya begitu dengan Arkan tak percaya dengan penampilan Kanaya yang berubah cantik seperti bidadari.


"Kamu sangat cantik, kalau begitu aku tunggu di depan ya."


"Baik Kak terima kasih."


"Kak jangan begini, kau buat ku malu."


"Tak apa apa, ini kan tempat privasi untuk kita berdua."


"Em sebenarnya Kak Arkan untuk aoa membawaku kesini? kok aku jadi tidak enak ya!"


"Sesuatu! nanti juga kau akan tahu dengan sendirinya kalau begitu ayok makan dulu cake nya, aku sengaja memesankan ini untuk mu."


"Ta tapi aku tak suka makanan yang manis manis Kak, aku hanya bisa makan sedikit,"


"Baiklah tak apa apa kau mencobanya sedikit."


Arkan membawa sebuah kotak di kantong jas nya, lalu ia mengeluarkannya dengan perlahan dan memperlihatkannya pada Kanaya.


"Kanaya, mau kah kau menikah denganku, mau kah kau menerima cincin pemberianku." Arkan memperlihatkan sebuah kotak yang berisi 2 buah cincin manis.

__ADS_1


"Mau kah kau menjadi istri ku." Seketika Kanaya menjadi gugup dengan perlakuan Kakak tirinya, ia juga bingung harus berbuat apa sedangkan ia sudah janji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah dengan Arkan.


"Maaf Kak, tapi aku tak bisa." Ucapnya dengan hati hati.


"Kanaya tolong katakan yang sejujurnya, aku tahu isi hatimu, aku tahu kau juga mencintaiku."


"Aku serius Kak aku tak mencintaimu maafkan aku." Ucapnya namun lagi lagi Arkan mencoba meyakinkan Kanaya.


"Kanaya ini hanya satu kali lagi untuk berbicara padamu, aku mencintaimu Kanaya maukah kau menjadi istri ku untuk seumur hidupku aku ingin hidup bersama mu."


"A aku tidak bisa Kak, maafkan aku." Dengan terpaksa Kanaya menolaknya kembali padahal hatinya berkata sebaliknya.


Arkan pun menarik nafas dengan panjang ia mengelus dadanya yang terasa sakit namun ia menahannya.


"Baiklah kalau begitu makan sore kita cukup sampai disini kau bisa pulang menggunakan taxi, aku ingin menenangkan hatiku dulu ternyata sesakit ini setelah tau kau masih menolakku." Arkan pun pergi meninggalkan Kanaya yang masih duduk dengan menunduk disana tak terasa kini air matanya luruh setelah kepergian Arkan.


"Maafkan aku Kak." Hatinya ikut merasakan sakit apa yang dirasakan Arkan, namun egoisnya yang terlalu tinggi membuat ia menolaknya kembali.


Sudah setengah jam Kanaya masih duduk disana, ia berharap Arkan akan menjemputnya kembali namun harapannya tak sesuai kenyataan, Kanaya malah mendapat kabar dari William bahwa Arkan kecelakaan.


"APA?"


"Bagaimana mungkin hiks Kak Arkan." Kanaya langsung lemas setelah mendengar ucapan William kemudian ia pun pergi dengan William menuju tempat dimana Arkan kecelakaan.


"Kanaya Arkan tidak bisa di selamatkan, mobilnya masuk ke jurang dan terbakar."


"Tidak Kak tidak hiks hiks Kak Arkan pasti masih hidup, Kak Wil tolong bantu dia."


"Maaf nona aku tak bisa membantunya, aku sudah melakukannya yang terbaik tapi aku tak bisa menyelamatkan Arkan."


"Tolong Wil aku harus bagaimana, tidak mungkin Kak Arkan berada disana."


"Kak Arkan hiks hiks Kak Arkan aku menyesal telah mengatakan itu pada my Kak tolong jangan tinggalkan aku hiks hiks." Teriaknya.


"Nona apa anda masih mencintainya."


"Tentu saja aku mencintainya Wil."

__ADS_1


"Kak Arkan aku mencintaimu, tolong selamatkan dia tuhan aku sangat mencintainya hiks hiks hiks." Kanaya pun sudah lemas ia tak kuat lagi untuk berteriak, Kanaya benar benar histeris melihat mobil Arkan yang masuk kejurang dengan terbakar.


Bersambung.


__ADS_2