
"Tolong lepaskan tangan ku Kak." Kata Kanaya.
"Ya aku minta maaf gak sengaja memegang tangan mu."
Kanaya tak suka jika Arkan yang terus saja mendekatinya, ia tak ingin disebut pelakor apa yang dikatakan Nita tadi.
Setelah sampai di kediaman Arkan, Kanaya langsung masuk ke dalam tanpa menghiraukan Arkan yang terus memanggilnya.
"Kanaya kau sudah pulang?" Tanya Ana.
"Sudah Kak, aku permisi dulu."
"Tunggu."
"Ada apa lagi Kak."
"Kamu pulang sama Arkan kan."
"Iya Kak, sama William juga." Kanaya pun berlalu dari hadapan Ana.
"Hai sayang kau sudah pulang." Ana langsung memberi pelukan serta kecupan pada suaminya.
"Iya aku pulang lebih awal,"
"Hai William apa kabar, kau sudah pulang dari tugas mu."
"Iya nona."
"Kalau begitu mari kita makan bersama, aku sudah memasak menu spesial untuk kalian loh." William pun mengiyakan ajakan Ana.
Kanaya yang berada di kamarnya ia masih memikirkan ucapan Nita, apa yang dikatakan Nita membuatnya berpikir bahwa ia sudah menjadi penghancur rumah tangga Kakak tirinya walaupun bukan kesalahannya.
"Semoga saja aku tak mengandung benih Kak Arkan, tapi kenapa sudah satu minggu belum datang bulan. Aku takut jika hamil bagaimana dengan ibu dan ayah angkat ku nanti, mereka pasti akan marah padaku apalagi jika Kak Ana tahu pasti ia akan kecewa padaku."
"Aku harus bagaimana, apa aku harus mengikhlaskan semuanya dan berpura pura tak terjadi apa apa. Ya tuhan memikirkannya saja membuatku tak sanggup menghadapi kehidupan ku yang sekarang."
Tok tok tok "Kanaya ayo kita makan bersama, Kakak sudah memasak buat kamu loh." Ujar Ana.
Kanaya langsung menghampiri Ana yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Ayo Kanaya,"
"Iya Kak,"
Disana sudah ada Arkan dan William yang sedang menunggunya untuk makan bersama, Kanaya tak menyangka ia bisa bertemu dengan William disini.
Waktu dulu Kanaya sempat dijodohkan oleh Ayahnya dengan William, namun pada saat itu William menolaknya karena Kanaya yang masih sangat muda sedangkan William sudah sangat dewasa. Ayah Kanaya dan Ayahnya William sudah bersahabat sejak kecil mereka ingin menjodohkan anak anaknya agar tidak putus untuk bersilaturahmi. Namun setelah penolakan dari William ayah Kanaya pun tak menuntutnya lagi untuk menikahi Kanaya karena mereka tak ingin memaksakan kehendaknya.
Tapi siapa sangka ternyata gadis kecil dan lugu itu sekarang sudah menjadi gadis cantik dan manis, William tak bisa mengalihkan pandangannya dari Kanaya karena ia sangat terpesona dengan kecantikannya yang berbeda jauh dengan dulu. Wajar saja karena dulu memang belum bisa mengurus diri.
__ADS_1
Kanaya yang terus saja ditatap William membuat ia gugup namun Arkan menyadari itu.
"Ehem."
"Eh ada apa tuan?" Kata William.
"Kenapa kamu menatap Kanaya terus, apa kau menyukainya."
"Ah em ti,, tidak tuan." Ujar William gelagapan.
"Ya ampun mas biarkan saja lah dia menatap Kanaya lagian kan Kanaya dan William sama sama jomblo,"
"Tidak bisa, mereka tidak boleh berpacaran." Tolak Arkan.
"Loh kenapa? kan tak ada salahnya kalau mereka saling menyukai, aku sangat setuju loh mas jika mereka bersama." Kata Ana namun, Arkan tak menyetujuinya ia cemburu bila Kanaya harus bersama William.
"Maaf Kak aku masih ingin fokus dengan kuliah ku."
"Ya ampun Kanaya kamu ini bagaimana sih, kamu ini sudah kuliah ya wajar saja jika kamu mau pacaran lagian pacaran tidak akan mengganggu kuliah mu kok, iya kan Wil."
"Em i,, iya nona."
"Ana sudahlah jangan membicarakan mereka terus, lebih baik kita makan tanpa berbicara."
"Iya iya mas, aku minta maaf."
Mereka berempat pun fokus pada makanannya tanpa ada yang memulai bicara lagi.
"Wah kolam ikannya sangat banyak mang, kok aku baru tahu sih ada kolam ikan disini." Tanya Kanaya pada mang Sardi yang sedang menikmati kopinya.
"Iya non, nona aja yang gak pernah keluar tiap hari ngumpet terus dikamar makannya baru tau kan ada kolam ikan seindah ini."
"Hehe iya mang, aku terlalu menghabiskan waktu ku dikamar karena aku selalu banyak tugas."
"Oh begitu non, ya sudah silahkan duduk disini saya mau pergi ke dapur dulu non."
"Terima kasih mang."
Setelah mang Sardi pergi dari sana kemudian William mendekati Kanaya.
"Hem apa kabar." Tanya William membuat Ana teronjak kaget dengan suara William yang tiba tiba ada di belakangnya.
"Eh ada Kak William, kabarku baik Kak."
"Apa kamu masih ingat padaku?" Tanya William.
"Iya aku masih ingat, dulu kita pernah bertemu dirumah ku kan."
"Haha iya benar juga ternyata kamu masih ingat ya, dulu kamu itu masih bicah ingusan."
__ADS_1
"Jangan ngeledek lah, tapi sekarang aku tak seperti dulu kan."
"Ya tentu saja sekarang kau semakin cantik."
"Hahaha Kak William ada ada saja, semua wanita itu cantik kok."
Mereka berdua saling bertukar cerita hingga mereka tidak sadar dengan keberadaan Arkan yang terus memperhatikannya.
"William beraninya kau mendekati Kanaya." Geramnya.
Arkan berjalan menghampiri mereka berdua dengan dada yang panas karena nahan cemburu.
"Kalian sedang apa disini."
"Ah ada tuan Arkan, sejak kapan anda disini tuan."
"Kau malah balik tanya Wil, aku yang duluan bertanya padamu sedang apa kau berduaan dengan Kanaya disini."
Kanaya pun menimpali ucapannya Arkan.
"Aku dan Kak William sedang bertukar cerita disini, memangnya kenapa Kak?"
"Apa maksud mu bilang dia Kakak, dia itu punya nama."
"Aku tahu." Kata Kanaya.
"Lalu kenapa kamu memanggilnya Kakak."
"Karena aku dan Kak William sudah sejak lama saling mengenal."
Arkan menatap William ingin mengetahui jawabannya dari William.
Kemudian William menceritakan awal mula bisa kenal dengan Kanaya, ia pun menceritakan perjodohannya pada Arkan membuat Arkan takut jika William dan Kanaya bisa bersama lagi.
"Oh begitu, kalau begitu aku ingin berbicara dengan mu Wil sekarang juga ikuti aku keruang kerja ku."
"Baik tuan."
Kanaya heran dengan sikap Arkan yang yak biasanya namun ia tak ingin peduli lagi dengan apa yang Arkan lakukan.
"Hai ikan, warna mu sangat indah sekali." Kanaya sangat senang memainkan kolam ikan, bahkan ia juga mengobrol dengan ikan jika ada yang melihatnya pasti ia akan dianggap orang sakit.
"Wil jangan pernah mendekati Kanaya."
"Aku tidak mendekatinya tuan,"
"Tapi tadi apa, kau sangat asik bersama dia."
"Saya minta maaf tuan."
__ADS_1
Ana yang mendengarkan obrolan suaminya di balik pintu membuat ia curiga.
"Sebenarnya ada apa dengan mereka, kenapa harus ada nama Kanaya dalam pembicaraan mereka. Kok hati ku jadi tak enak sepertinya ada sesuatu dengan mereka." Gumamnya.