Mencintai Saudara Tiri

Mencintai Saudara Tiri
Chapter 17


__ADS_3

Setelah sampai rumah Kanaya langsung terburu buru masuk ke dalam namun ia malah bertemu dengan Ana diruang tamu.


"Kanaya kau sudah pulang."


"Iya Kak, aku permisi dulu mau ke kamar."


"Tunggu!" Panggil Ana kemudian ia menunjuk pada plastik yang dibawa Kanaya.


"Itu isinya apa, kamu membeli obat apa?" Dengan cepat Kanaya menjauhkan obatnya.


"Ini obat sakit perut Kak."


"Loh kok obatnya kotak dan panjang yah?"


"Ah ini aku beli banyak Kak," Kanaya sempat deg degan dengan pertanyaan Ana, ia takut Ana mengetahuinya.


"Oh gitu," Ujar Ana dengan menganggukkan kepalanya.


Tak ingin berlama lama dengan Ana ia pun langsung pergi ke kamarnya dengan cepat.


"Bisa bisanya dia beli tespack, lalu siapa yang membuatnya hamil tapi belum tentu juga hasilnya positif tetap saja ia pasti sudah berhubungan dengan seorang pria, makin sini aku semakin mencurigainya." Gumamnya.


"Sayang kau sedang apa disini?" Tanya Arkan yang baru saja datang.


"Aku baru saja mengobrol dengan Kanaya mas."


"Lalu sekarang Kanaya ada dimana,"


"Dia sudah masuk kamarnya, memangnya mas ngapain kesini tanya tanya Kanaya."


"Lah aku mau minum, memangnya gak boleh kalau aku ngambil air ke dapur."


"Lagian juga di ruang kerja mas ada air, mas juga bisa manggil aku atau bi Atum kan."


Arkan menggaruk rambutnya yang tak gatal, apa yang dikatakan Ana memang benar ia hanya mencari alasan saja padahal ia ingin bertemu Kanaya namun malah terhalang oleh Ana.


Kanaya sedang menunggu hasil tespack nya, ia sengaja menutup matanya karena ia takut dengan hasilnya setelah 3 menit ia pun membuka matanya dengan perlahan.


"Semoga saja hasilnya negatif."


Namun harapannya tak sesuai kenyataannya, hasilnya menandakan garis dua bahwa memang sedang mengandung benihnya Arkan.


Kanaya pun terkulai lemas, ia menangis sejadi jadinya ia benat benar frustasi sekarang.


"Apa yang harus aku lakukan, kenapa cepat sekali tumbuh di perutku hiks hiks Kak Arkan harus bertanggung jawab."

__ADS_1


Akan tetapi ia mencoba kembali tespack yang kedua dan hasilnya pun ternyata sama, ia juga mencoba lagi yang ke tiga karena masih belum percaya sepenuhnya namun hasilnya tetap sama.


"Kanaya," Panggil Ana yang sudah berada di dalam kamarnya Kanaya.


"I,, iya Kak ada apa? aku sedang di toilet."


"Oh ya sudah Kakak tunggu disini ya." Ana sengaja masuk kedalam kamar Kanaya karena memang ia sangat penasaran dengan gadis yang menurutnya polos.


Ana pun melihat lihat buku yang ada di meja belajarnya, ia menemukan sebuah cincin permata uang indah dan juga surat yang pernah diberikan oleh Arif. Ana pun membacanya surat itu.


"Apakah namanya Arif yang berhubungan dengan Kanaya, ini pasti cincin yang sangat mahal aku yakin pria ini orang kaya." Gumamnya.


"Maaf ya Kak aku lama," dengan cepat Ana mengembalikan suray dan cincinnya ke tempat sebelumnya.


"Em ah tidak apa apa, maaf Kakak tak sengaja mengambil cincin mu."


"Tak apa apa Kak, kalau Kakak mau boleh ambil aja,"


"Loh ini kan pemberian kekasihmu masa di kasih ke Kakak sih."


"Dia bukan kekasih ku Kak, dia hanya teman ku."


"Masa, tapi kok dia ngasih cincin seromantis ini."


"Karena aku sudah menolaknya Kak."


"Aku tak peduli Kak, aku tak butuh pemberian seperti itu."


Ana pun memperhatikan mata kanaya yang sedikit sembab namun ia tak ingin bertanya.


"Aduh Kanaya Kakak pengen buang air kecil nih, Kakak ikut ke toilet mu ya."


"Iya Kak boleh."


Ana hanya beralasan kebelet buang air kecil padahal ia ingin pencari hasil tespack Kanaya.


Ana mengeluarkan isi tempat sampah yang ada di dalam toilet namun ia masih tak menemukannya.


"Dimana dia menyimpan bekas testpack nya, aku harus segera mencarinya biar tahu."


Namun Ana tak sengaja melihat bekas plastik di bawah bathtub, ia pun mengambilnya dan benar saja Kanaya menyembunyikan hasil testpack nya.


"Nah akhirnya aku menemukan ini." Dengan syok Ana melihat hasil testpack tersebut.


"Positif, lalu ia hamil dengan siapa? aku harus mencari tahu pria mana yang menghamilinya." Ana pun keluar dari toilet dengan wajah biasa saja.

__ADS_1


"Maaf Kanaya Kakak lama ya, Kakak sakit perut nih."


"Iya Kak tak apa apa, sebenarnya Kakak ada apa kesini."


"Oh itu Kakak ingin mengajak mu ke mall karena besok Kakak harus kembali ke Amerika untuk 2 hari saja."


"Oh begitu Kak, tapi uang Kanaya sudah limit Kak hehe kayanya Kanaya gak bisa ikut."


"Tak apa apa biar Kakak yang traktir kamu, kalau begitu sekarang kamu siap siap dulu ya. Kakak mau menemui Kak Arkan dulu."


"Oh iya sudah Kak aku mau ganti baju dulu."


Kanaya ingin menolak permintaan Ana namun ia tal bisa karena Ana memang selalu memaksanya.


"Sayang ayo kita ke mall bersama Kanaya, aku mengajaknya untuk membeli sesuatu."


"Baiklah aku akan mengantar kalian berdua."


"Terima kasih mas."


Ana ingin memberitahu soal kehamilan Kanaya, namun ia berfikir lagi takut Kanaya dimarahi Arkan jadi Ana merahasiakannya sendiri.


***


Kanaya duduk dibelakang menyaksikan sepasang suami istri yang saling bermesraan membuat hati Kanaya panas.


Tanpa rasa malu Ana selalu saja mencumbu Arkan, walaupun Arkan selalu ingin menolaknya namun Ana malah semakin melakukannya.


"Ana tolong jangan lakukan ini, apa kamu gak lihat kita bertiga di dalam mobil."


"Mas kamu ini dari tadi menolak terus lagian Kanaya juga gak sepolos yang aku kira"


"Apa maksud mu."


"Tidak apa apa, hem Kanaya apa kamu terganggu dengan kami." Tanya Ana.


"Tidak Kak, aku biasa aja."


"Tuh kan mas Kanaya juga tidak apa apa, mas kenapa sih menolak terus."


"Ana apa kamu tak melihat aku yang sedang mengemudi, tolong jangan begini aku tak suka dengan sikap mu yang seperti ini." Arkan mulai kesal dengan Ana yang terus saja manja pada dirinya.


Ana pun mulai bete dengan sikap suaminya padahal ia hanya ingin memancing Kanaya saja bagaimana reaksinya melihat sepasang suami istri bermesraan di depannya.


"Kak Ana benar benar sangat mencintai Kak Arkan, bagaimana jika ia tahu bahwa aku sedang mengandung benih suaminya apa ia akan mengusirku. Bayi yang ada dikandungan ku ini adalah ulah suaminya harusnya aku yang menuntutnya tapi karena Kak Ana baik padaku jadi aku memilih merahasiakannya dulu." Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Setelah sampai di mall Kanaya hanya mengikuti sepasang suami istri dari belakang, sudah setengah jam keliling namun Kanaya tidak membeli apa apa ia hanya menemani Ana saja.


Sedangkan Arkan membeli sesuatu untuk Kanaya tanpa sepengetahuan Ana, Arkan membeli kalung berbentuk huruf untuk Kanaya. Ia membeli huruf K&A awalan dari nama mereka berdua.


__ADS_2