
Arkan mendatangi kamar Kanaya kembali namun ternyata Kanaya menguncinya dari dalam membuat Arkan tak bisa masuk, ia memanggilnya nama Kanaya namun Kanaya tak menjawabnya membuat Arkan khawatir akan tetapi Arkan juga tak kehabisan ide ia mempunyai kunci cadangan.
Setelah berhasil Arkan pun masuk kedalam namun Kanaya tidak ada di kamarnya kemudian ia mencari Kanaya di kamar mandi dan benar saja Kanaya berada disana.
"Kanaya bangun," Rupanya Kanaya tak sadarkan diri mungkin ia kelelahan dan banyak pikiran membuatnya jatuh pingsan.
Kemudian Arkan pun membawanya ke tempat tidur lalu membaringkan Kanaya disana, ia sudah mencoba berbagai cara agar Kanaya bangun dari tidurnya namun hasilnya tetap sama dan ia pun segera menghubungi teman dokternya.
"Kanaya bangunlah, aku minta maaf sudah membuatmu seperti ini."
Arkan menggenggam tangan Kanaya yang terasa dingin ia jadi sangat mengkhawatirkan kandungan Kanaya.
Dokter Raisa pun datang ke kamar Kanaya lalu ia memeriksanya, Kanaya memang terlalu kelelahan apa lagi ia sedang mengandung.
"Ini obatnya dan ini vitamin untuk kehamilan nya maaf aku tak bisa lama lama karena pasien ku sedang menunggu."
"Sebelumnya terima kasih dok."
"Sama sama." Setelah selesai Dokter Raisa pun pamit.
Dua jam kemudian Kanaya bangun dari pingsannya ia merasakan sakit di kepalanya namun ia menyadari ada seseorang yang tidur disampingnya.
__ADS_1
Kanaya pun terkejut dengan Arkan yang berada di sampingnya.
"Kak bangun kenapa Kakak tidur disini, kembalilah pada Kak Ana."
Walaupun Arkan belum membuka mata sepenuhnya tapi ia mendengar ucapan Kanaya.
"Aku ingin disini bersama mu Kanaya,"
"Kak tolong jangan begini, jangan membuat Kak Ana marah lagi padaku, dia pasti kecewa setelah tahu kau tidur bersama ku."
"Aku tak peduli lagi Kanaya, kau tahu dia malah lebih parah dariku, Ana melakukan hubungan dengan mantannya."
"Nanti juga kau tahu, tidurlah kau tenang saja Ana tak akan masuk kesini karena aku sudah menguncinya dari dalam."
"Lebih baik Kak Arkan keluar saja, aku tak mau tidur dengan pria yang bukan suami ku. Pergilah dan berbahagialah dengan Kak Ana."
"Aku bilang aku tak ingin bersama Ana lagi."
"Terserah sajalah," Ujarnya.
Ana merapihkan bajunya kembali ia berniat akan pergi ke Amerika lagi, Sebenarnya pagu tadi Ana sudah naik kedalam pesawat namun ia melupakan sesuatu jadi ia membatalkannya.
__ADS_1
Dan hari ini Ana akan ke Amerika, ia ingin menghilangkan jejak cctv yang ada di ruangannya.
"Aku harus secepatnya pergi, untuk kali ku biarkan mas Arkan dengan Kanaya yang terpenting aku harus menyelamatkan hidupku agar Arkan tak boleh tahu tentang cctv ku." Dengan cepat Ana meninggalkan rumahnya tanpa izin dari Arkan.
"Nona anda mau kemana kenapa membawa koper mu." Tanya bi Atum.
"Jangan ikut campur urusanku," Entah kenapa Ana sangat berbeda dengan sikap yang biasa, pelayan dirumahnya sangat mengagumi Ana dengan kecantikannya dan kebaikannya namun setelah insiden tadi pagi di kamar Kanaya membuat sikap aslinya keluar, Ana lebih sering berteriak dan marah marah pada pelayan yang tak punya salah.
"Kanaya,"
"Hem,"
"Jangan gugurkan bayi yang ada di kandungan mu." Kanaya pun heran dengan keputusan Arkan yang terus saja berubah ubah.
"Kenapa bukannya kau ingin anak ku mati."
"Tidak, aku menginginkan anak ku hidup, Kata kata yang tadi pagi akan ku tarik kembali, aku ingin kau mengandung dan melahirkan anakku."
"Cih mana bisa kata kata mu ditarik, kau sudah membuatku sakit hati Kak."
"Maafkan aku Kanaya, aku terlalu egois." Entah lah Kanaya tak ingin terlalu percaya karena pikiran Arkan yang sering berubah ubah.
__ADS_1