
Arkan mengikuti Kanaya dari belakang lalu ia menahan tangannya.
"Ada apa lagi Kak?"
"Aku mau bicara padamu, duduklah disana." Ujarnya dengan menunjuk pada sebuah sofa.
Kanaya pun menurut dengan apa yang dikatakan Arkan, kemudian mereka duduk di sofa dengan berhadapan.
"Apa kau ingin melanjutkan kuliah mu lagi?" Tanya Arkan.
"Tidak Kak, aku tidak mau kuliah lagi."
"Bukan kah kau ingin cita cita mu tercapai, kembalilah kuliah aku yang akan membiayai kamu."
"Tidak aku tidak mau melanjutkan kuliahku lagi, biarkan cita cita ku tak tergapai karena aku tak berharap lagi."
"Kanaya kau tak boleh seperti itu, aku sudah menawarkan nya untukmu jadi kau harus menerimanya sebelum aku berubah pikiran lagi."
"Ini black card untuk kamu gunakanlah dengan baik sekarang aku yang akan mengatur hidupmu karena ini juga perintah Ayah." Sambungnya lagi.
Namun Kanaya tidak mengambil kartu yang di berikan Arkan akan tetapi ia malah mengembalikan nya.
"Ambillah kembali kartu mu, aku tak butuh ini dan aku tak ingin melanjutkan kuliahku. Aku akan bekerja untuk menghidupi diriku sendiri." Ujarnya.
"Kanaya ada apa dengan mu, aku ini Kakak mu walaupun bukan Kakak kandungmu. Aku ingin kau sukses suatu saat nanti."
"Maaf Kak, aku tetap pada pendirianku dan mulai besok aku akan mencari pekerjaan jadi Kak Arkan tak perlu memberiku uang apalagi memberi kartu itu." Kemudian Arkan kembali mengambil kartunya dengan perasaan geram karena Kanaya sekarang beda dengan Kanaya yang kemarin.
"Ya sudah kalau kau tak mau, aku tak ingin membantu mu lagi. Silahkan cari kerja sana dan jangan bergantung hidup padaku." Setelah mengucapkan itu Arkan pun pergi meninggalkan Kanaya sebenarnya ia benar benar ikhlas ingin membantu Kanaya sampai ia sukses namun ternyata responnya tak sesuai dengan keinginannya.
***
Pagi ini Kanaya sudah bersiap siap untuk mencari pekerjaan ia juga membawa sebuah lamaran walaupun hanya lulusan SMA, semoga saja ada perusahaan yang menerimanya.
"Nona tumben sekali masih pagi sudah rapih?" Tanya bi Atum.
"Aku mau melamar kerja bi, doakan aku yah agar diterima."
"Iya nona semoga nona dapat pekerjaan," Walaupun bi Atum heran dengan keinginan Kanaya untuk bekerja padahal Kanaya bisa meminta uang pada Arkan yang kaya raya begitulah dalam pikiran bi Atum.
Kemudian Kanaya pun pamit pada bi Atum karena Arkan belum bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Semoga saja aku bisa dapat pekerjaan, aku gak mau kalau harus minta sama Kak Arkan bisa malu nanti." Ucapnya dalam hati.
Sebelumnya Kanya sudah mencari informasi tentang perusahaan yang sedang membutuhkan karyawan dan ia akan mengunjungi perusahaan itu.
"Ah akhirnya aku sampai ternyata perusahaan nya sangat besar."
Kemudian Kanaya pun duduk disalah satu bangku yang ada di perusahaan itu lalu ia di panggil oleh seseorang untuk menyerahkan lamarannya.
"Saya bawa dulu lamarannya ya bu, tapi saya belum bisa menentukan diterima atau tidaknya."
"Iya pak tidak apa apa tapi semoga saja saya bisa kerja disini karena saya memang sangat butuh pekerjaan."
"Kalau begitu saya permisi dulu mau menemui atasan saya dulu." Kanaya pun duduk kembali sambil berdoa ia berharap bisa diterima di perusahaan ini.
***
"Bi apa Kanaya belum bangun?" Tanya Arkan pada bi Atum yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.
"Sudah tuan, nona sudah berangkat tadi pagi."
"Berangkat kemana?"
"Katanya mau cari pekerjaan."
"Bibi juga heran tuan, padahal kan bisa minta uang pada tuan yang kaya raya hehe maafkan bibi sudah lancang."
Setelah selesai sarapan pagi Arkan pun berangkat untuk ke kantor di jemput oleh William.
"Wil apa kau pernah menemui wanita yang suka menolak pemberian."
"Em maksudnya pemberian seperti apa tuan?"
"Misalnya seperti uang atau black card, aku rasa semua wanita sangat menginginkan uang."
"Ya mungkin memang ada wanita yang seperti itu, tapi hanya ada satu atau dua orang yang gak matre."
"Hemmm apa mungkin iya."
"Memangnya siapa tuan."
"Ada lah," Ujarnya.
__ADS_1
***
"Maaf bu saya lama ya, karena hari ini banyak sekali yang melamar, kalau begitu anda bisa ikut saya untuk masuk kedalam."
"Terima kasih pak." Hati kanaya sudah berdebar ia sangat berharap untuk bekerja di perusahaan ini.
"Namanya Kanaya lulusan ijazah SMA ya?"
"Iya pak."
"Begini Kanaya disini kebanyakan yang melamar sudah kuliah tapi hanya anda yang berijazah SMA, aku rasa anda ini sangat pintar dengan nilai yang tinggi kenapa anda tidak melanjutkan kuliah saja."
"Maaf pak tapi saya butuh biaya makanya saya melamar kesini untuk melanjutkan kuliah saya."
"Sebenarnya sudah tidak ada lowongan lagi, tapi hanya ada bagian office girl apa kamu mau untuk bekerja sebagai office girl?"
"Tentu saja aku mau pak, yang penting halal.
"Baiklah kalau begitu anda diterima, saya akan memanggilkan ketua office girl dulu ya."
Dengan senang hati Kanaya mendapatkan pekerjaan walaupun harus bekerja paling bawah ia tak peduli yang penting ia bisa mendapatkan uang untuk biaya hidupnya.
"Ini namanya Kanaya dia akan bekerja sebagai office girl, tolong ajarkan dia." Ujarnya pada ketua office girl.
"Baik tuan, mari Kanaya ikut saya." Kanaya pun menuruti dengan apa yang diperintahkan ketua office girl.
"Panggil saya Bu Sarah disini saya akan membimbing mu sebagai office girl." Kemudian Bu Sarah memberikan tugas apa saja yang akan dikerjakan oleh Kanaya, menurutnya ini pekerjaan sangat mudah karena Kanaya sudah terbiasa bekerja dirumahnya.
"Kalau begitu sekarang kamu bersihkan ruangan bos ya di lantai 20, pokonya harus sampai bersih agar bos puas dengan cara kerja mu."
"Baik bu kalau begitu saya ke lantai 20 dulu ya bu."
"Tunggu dulu, kamu harus pakai seragam ini agar kamu terlihat bekerja disini sebagai office girl."
"Terima kasih bu." Lalu Kanaya berjalan menuju lift untuk pergi ke lantai 20 dengan membawa kemoceng dan kain lap di tangan nya.
Setelah sampai ruangan bos Kanaya pun tidak lupa mengetuk pintu dulu.
"Permisi tuan saya mau membersihkan ruangan ini." Ujar Kanaya.
"Ya silahkan." Kata seorang pria yang duduk membelakanginya dengan menikmati pemandangan ke arah jendela.
__ADS_1
"Lah kok aku kaya kenal suara ini, apa hanya mirip saja ya?" Ucapnya dalam hati, begitu juga dengan pria yang duduk membelakanginya ia juga seperti mengenal suara yang tak asing baginya kemudian ia memutarkan kursinya dengan terkejut ia melihat Adik tirinya yang bekerja dikantornya.
"Kanaya!" Kata Arkan. Lalu Kanaya memutar badannya menghadap Arkan ia juga tak kalah terkejutnya melihat Arkan disana ternyata ia bekerja di perusahaan Arkan.