Mencintai Saudara Tiri

Mencintai Saudara Tiri
Chapter 34


__ADS_3

Kanaya pergi meninggalkan Arkan yang masih berdiri di dekat kolam ikan entah kenapa hati Kanaya bahagia dengan kata kata Arkan yang ingin menikahinya namun mulutnya serasa tertahan tak bisa mengucapkan apa yang ada dalam hatinya.


"Aku tak tahu kenapa hatiku sakit sekali setelah menolaknya, apa aku ini egois."


Kanaya terus bertanya tanya pada hatinya rasanya ia ingin kembali menemui Arkan laly mengatakan bahwa ia juga menyukainya namun semua itu hanyalah mimpi Kanaya tak mau sampai terjadi menikah dengan Kakak tirinya.


Kanaya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan pikiran yang masih tertuju pada Arkan.


***


Arkan menyuruh William untuk datang kerumahnya, ia ingin membicarakan sesuatu dengan William.


"Ada apa tuan kenapa anda tiba tiba menyuruh saya kesini."


"Begini Wil aku butuh bantuan mu."


Kemudian Arkan pun menceritakan pada William ia juga merencanakan sesuatu di luar kendalinya membuat William ingin menolak perintah tuannya.


"Tapi ini bahaya tuan!"


"Tenang saja Wil, aku yang akan mengaturnya."


Entahlah apa yang sedang mereka bicarakan sepertinya sangat serius dengan suatu rencana.


"Baiklah tuan kalau gitu besok malam aku akan mempersiapkan makan malam yang romantis dengan Kanaya."


"Ya terima kasih Wil, kau memang paling bisa di andalkan.


***


Pagi hari ini Kanaya sudah bersiap untuk bekerja kembali, hari ini adalah hari kedua ia bekerja di perusahaan Arkan.

__ADS_1


"Ikut aku!" Kata Arkan yang baru saja turun dari tangga.


"Ikut kemana?"


"Kau mau kerja kan? ya sudah ayok kita berangkat bareng."


"Tidak Kak, aku sudah pesan taxi, Kak Arkan berangkat duluan saja."


"Ini perintah, apa.kau tak mendengar." Tegasnya.


Kanaya pun mengiyakan ajakan Arkan, lalu ia masuk ke mobil Arkan dan duduk di depan bersamanya.


Kanaya mencoba menarik sabuk pengamannya namun ia malah kesusahan, Arkan tak tinggal diam ia juga membenarkan sabur pengamannya pada tubuh Kanaya.


Ditatapnya wajah Arkan yang tampan serta hidung yang mancung dan bibir yang kecil membuat Kanaya mengakui bahwa Arkan pria tampan yang pernah ia temui, usia Arkan terbilang sudah lumayan tua namun wajahnya terlihat lebih muda dari biasanya.


"Ehem kenapa merhatiin aku seperti itu? apa kau terpesona dengan Kakak tirimu ini."


"Kanaya."


"Ya Kak ada apa?"


"Nanti sore setelah pulang kerja aku ingin mengajak mu kesebuah restoran." Ujarnya.


"Tapi untuk apa mengajakku Kak, aku kan gak tahu pulang kerja jam berapa?"


"Pokonya aku akan mengajak mu kesana dan jangan lupa dandan yang cantik." Lalu Arkan memberikan sebuah paper bag yang berisi gaun berwarna silver untuk dikenakan Kanaya nanti sore.


"Terima kasih Kak, nanti akan ku pakai."


"Sama sama."

__ADS_1


Tak terasa mengobrol di sepanjang jalan membuat Arkan baru sadar sudah sampai kantor, padahal ia masih betah ngobrol di dalam mobil bersama kanaya namun terpaksa ia harus menghentikannya dan membiarkan Kanaya masuk kedalam untuk memulai pekerjaannya.


"Aku tak menyangka bisa menyukai wanita yang masih kecil padahal dia bukan tipe ku tapi entahlah sekarang aku benar benar nyaman berada di dekatnya." Gumam Arkan.


Setelah Kanaya pergi meninggalkannya yang masih berada didalam mobil barulah Arkan keluar melangkah untuk menuju lantai 20, akan tetapi langkahnya malah berhenti ketika seseorang yang memeluknya dari belakang dengan suara tangisan.


"Arkan maafkan aku," Ana dialah Ana yang sedang memeluknya dengan tangisan yang sudah membasahi pipinya.


"Apa maksud mu, lepaskan tangan kotor mu itu!" Sergahnya.


"Arkan aku menyesal sudah meninggalkan mu dan aku menyesal sudah membohongi mu, aku minta maaf aku ingin kembali lagi padamu mas hiks hiks aku benar benar menyesal."


"Bagus kalau kau menyesal memang itu yang harus kau dapatkan karmanya.


"Arkan jujur aku masih mencintai mu, maafkan aku."


"Cih murahan sekali."


Kanaya yang baru saja sampai di ruangannya, ia pun terpaksa harus kembali ke mobil Arkan karena ada sesuatu yang tertinggal disana.


Kanaya tai sengaja melihat Arkan bersama Ana, ia melihat Ana menangis dihadapan Arkan lalu ia melihat Ana memeluk Arkan dan mencium bibirnya Arkan membuat hati Kanaya sakit melihatnya.


"Sialan berani sekali kau Ana!" Ketusnya, Arkan marah pada Ana yang sudah mencuri bibirnya diam diam.


"Aku ingin kembali lagi pada mu mas, apapun akan aku lakukan agar bisa mendapatkan mu kembali."


"Kau gila Ana, lepaskan aku!"


Kanaya yang melihat Arkan dan Ana sedang berpelukan membuatnya kembali keruangan nya ia terpaksa harus pergi karena ia tak kuat melihat dua insan yang sedang berbahagia. Padahal sama sekali Arkan tak seperti yang dipikirkannya.


"Jangan pernah datang pada ku lagi, aku akan segera menikah dengan Kanaya, ku harap kau tak mengganggu hubungan ku dengannya jadi kau jangan berambisi untuk mendapatkan ku lagi, aku sudah tidak mencintai mu lagi Ana." Tegasnya.

__ADS_1


__ADS_2