
"Tolong aku Kak Arkan, ini sangat sakit," Arkan pun langsung menggendong Kanaya menuju mobilnya begitu juga Atika dan Louis ia ikut bersama Arkan.
"Kanaya bertahan ya aku akan membawa mu ke rumah sakit."
"Tolong ini sakit," Kanaya terus terusan merengek menahan sakit di perutnya begitu juga darah yang masih mengalir.
Arkan sangat panik melihat darah yang di kaki Kanaya, ia takut terjadi apa apa pada Kanaya.
Setelah sampai di rumah sakit Arkan langsung membawanya ke IGD.
"Tuan, nona tunggu disini saya akan segera menanganinya dulu."
"Baik dok!" Kata Arkan.
"Atika kenapa kau menendang perutnya harusnya kau tak melakukan itu pada putri mu."
"Maaf mas, aku tak sengaja, aku benar benar emosi tadi tapi sekarang aku sangat mengkhawatirkan putriku dan aku takut dia kenapa napa."
"Sudah sudah kau tak perlu cemas, semoga Kanaya tidak kenapa napa."
"Iya mas," Begitu juga Arkan ia terus saja mondar mandir memikirkan Kanaya.
Tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruangannya.
"Dok bagaimana adik saya?" Ujar Arkan, begitu juga dengan Atika.
"Bagaimana dengan putri saya dok?"
__ADS_1
"Maaf sebelumnya kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang ada di kandungannya dan kami harus segera melakukan operasi kuret pada adik dan putri anda."
"Apa jadi Kanaya sedang hamil?" Tanya Louis penasaran.
"Ya dia sedang mengandung 4 minggu, namun saya minta maaf karena tidak bisa menyelamatkannya."
"Arkan kenapa kau tak memberitahu ayah jika Kanaya sedang hamil." Louis mulai sedih dengan kenyataan Kanaya yang harus keguguran padahal sudah lama ia sangat menginginkan seorang cucu dari Arkan.
"Kanaya maafkan ibu," Air mata Atika tak bisa terbendung lagi ia merasa bersalah pada putri satu satunya.
"Jadi saya minta persetujuan untuk melakukan operasi kuret pada putri anda."
"Tapi kenapa tidak bisa diselamatkan dok?" Tanya Louis.
"Maaf karena pendarahan yang begitu hebat." Dengan terpaksa Arkan menandatangani surat dari dokter.
"Bagaimana aku akan memberitahu ayah sedangkan ayah terlalu emosi pada ku."
"Ini semua gara gara ibu yang sudah menendang perut Kanaya sehingga ia pendarahan." Sambungnya lagi.
Atika hanya bisa menangis mendengar ucapan Arkan memang ia sangat menyesal telah melakukan itu pada Kanaya.
Akhirnya Kanaya sudah di pindahkan ke ruangan rawat sehingga mereka bertiga bisa menjenguknya.
Arkan melihat Kanaya yang terbaring lemah dengan wajah pucat nya serta air mata yang mengalir di pipinya.
"Kanaya maafkan aku." Kata Arkan, kemudian ia menggenggam tangannya mengelusnya dengan lembut.
__ADS_1
Kanaya tak bereaksi apapun ia hanya bisa menangis.
"Kanaya maafkan ibu, ibu tak tahu kau sedang mengandung kenapa kau tak memberitahu ibu, ibu sangat menyesal sudah melakukan itu padamu sehingga kamu harus mengalami keguguran." Namun Kanaya malah memalingkan wajahnya ia tak ingin menatap wanita yang berada di sampingnya.
"Apa sekarang ibu puas sudah membuatku begini!"
"Ibu minta maaf Kanaya, ibu menyesal."
"Ibu tak perlu minta maaf, bukankah ini keinginan ibu untuk melihatku menderita seperti ini."
"Tidak seperti itu Kanaya."
"Tolong pergilah dari sini, aku sedang tak ingin melihat wajah ibu." Dengan terpaksa Atika pun pergi meninggalkan Kanaya yang masih ditemani Arkan.
"Kanaya aku minta maaf." Ucap Arkan.
"Tak perlu minta maaf, kau memang menginginkan aku menggugurkan bayi yang ada di perutku kan? sekarang dia sudah tak tumbuh di perutku lagi Kak, apa kau bahagia sekarang."
"Kanaya jangan seperti ini, aku menginginkan bayi itu tapi bagaimana lagi jika harus terjadi seperti ini, aku benar benar minta maaf."
"Tapi kau senangkan sekarang aku sudah tidak mengandung benihmu lagi, aku tak akan meminta tanggung jawab mu sekarang jadi lupakan saja semua perlakuan mu padaku dan terima kasih sudah menuduhku. Apa kau puas!"
"Aku minta maaf Kanaya, aku hanya ingin perusahaan..." Ucapan Arkan terhenti seketika.
"Kau memang gila harta demi perusahaan mu, kau malah membuat bayi ku keguguran."
Arkan mencoba menggenggam tangan Kanaya namun Kanaya segera menepisnya ia tak ingin di sentuh pria yang ada disampingnya.
__ADS_1