Mencintai Saudara Tiri

Mencintai Saudara Tiri
Chapter 18


__ADS_3

Setelah selesai berkeliling mall mereka bertiga menikmati hidangan di restoran yang tak jauh dari mall.


Kanaya hanya menyaksikan sepasang suami istri yang romantis di depan matanya.


"Kanaya kau mau pesan apa?" Tanya Ana.


"Em aku mau nasi goreng aja Kak."


"Oh ya sudah kalau gitu saya mau pesan ini sama yang ini ya mbak," Tunjuknya pada sebuah katalog.


"Baik nona tunggu sebentar ya," Ujar seorang pelayan.


"Sayang lihat jari tangan ku sangat cantik ya dengan cincin berlian ini," Ujarnya dengan memperlihatkan cincin yang ada di jari manisnya pada Arkan dan juga Kanaya.


"Gimana sayang bagus gak nih."


"Iya bagus." Dengan senyum terpaksa Arkan sedari tadi ia hanya diam untuk menghargai Kanaya.


"Kamu tahu gak sayang, Kanaya juga di kasih cincin loh sama kekasihnya. Romantis sekali kan adik kita."


"Maksud mu?"


"Kemarin aku main ke kamar Kanaya dan aku menemukan cincin permata yang sangat cantik dimeja belajarnya."


Arkan pun menatap Kanaya.


"Iya Kak itu cincin pemberian teman ku." Kata Kanaya.


"Masa sih teman, dia itu menyukai mu dan kamu wanita spesial bagi dia bisa bisanya kamu hanya menganggap teman."


Kanaya tak ingin menjawab obrolan Ana karena ia tak ingin mengingat Arif lagi yang sudah membuatnya sakit hati.


"Permisi nona, selamat menikmati." Ujar seorang pelayan dengan membawa hidangan yang di pesan Ana.


"Ayo kita makan sepertinya ini sangat menggunggah selera ya kan."


Arkan dan juga Ana menyantap makanannya sedangkan Kanaya baru mencium nasu gorengnya saja sudah merasa mual.


"Kanaya kok kamu gak makan, ayo makan dong."


"I,,iya Kak, aku tak tahu kenapa aku menjadi tidak suka dengan nasi goreng."


"Lah kok bisa, kan ini makanan favoritmu."


Ana tahu apa yang sedang dirasakan Kanaya, namun ia hanya berpura pura tidak tahu saja.


"Ayo makan Kanaya, bukannya kamu ingin makan nasi goreng." Tanya Arkan.


"Iya Kak," Dengan terpaksa Kanaya memasukkan satu sendok nasi goreng namun belum sampai perut ia sudah merasakan mual.


"Maaf Kak, aku izin ke toilet dulu." Kanaya pun dengan cepat berlari menuju toilet dan ia memuntahkan isi perutnya di sana.


"Nak tolong jangan menyusahkan mama, mama gak bisa jika harus seperti ini terus." Gumamnya dengan mengelus perutnya yang masih rata.

__ADS_1


"Mas Kanaya kenapa ya, kok dia dari kemarin sering mual." Ujar Ana.


"Bukankah dia sudah membeli obatnya kemarin."


"Iya mas tapi kemarin aku tak sengaja menemukan sebuah testpack di toilet kamarnya," Seketika Arkan pun berhenti mengunyah setelah apa yang terdengar dari ucapan istrinya.


"Dan hasilnya pun positif, aku curiga dia sedang mengandung tapi siapa yang membuatnya hamil padahal ia gadis yang sangat polos." Sambungnya lagi.


Arkan tak menjawab ucapan Ana ia malah bertanya tanya dalam pikirannya.


"Kenapa Kanaya bisa secepat ini ia hamil benihku, padahal aku hanya melakukannya satu kali. Kanaya harus segara menggugurkan bayi yang ada di kandungannya, aku tak ingin sampai Ayah dan Ana mengetahuinya." Ucapnya dalam hati.


"Mas aku lagi bercerita kok kamu malah melamun sih mas."


"Ah maaf aku hanya terkejut saja karena tidak mungkin Kanaya hamil, dia anak yang baik dan penurut."


"Ya aku pun begitu mas, aku tak percaya dia sedang hamil tapi pada kenyataannya aku menemukan 3 testpack di toiletnya dengan hasil positif lalu itu milik siapa."


Ana menghentikan ucapannya setelah Kanaya kembali lagi.


"Maaf ya Kak aku kelamaan, perutku sakit lagi."


"Ah iya tidak apa apa, terus bagaimana dengan nasi gorengnya?"


"Aku gak jadi makan aja Kak, karena perutku masih sakit."


"Oh ya sudah kalau begitu tidak apa apa." Akan tetapi Kanaya melihat tatapan Arkan yang tak bisa di artikan, ia merasa seperto dicurigai oleh Arkan.


"Mas kita kan udah selesai makan nih, aku mau dong jalan jalan ke villa Ayah mu."


"Aku mau pulang saja ya Kak, aku agak sedikit lelah hari ini jadi Kakak berdua aja ya biar makin romantis." Ujar Kanaya.


"Lah padahal aku ingin mengajakmu kesana, tapi gak apa apa kalau kamu tidak mau ikut aku akan menelpon William saja untuk menjemput mu kesini." Kata Ana.


"Terima kasih Kak." Sebenarnya Arkan tidak rela jika Kanaya pulang bersama William, ia takut William akan menyukai Kanaya lagi tapi harus bagaimana lagi Arkan juga tidak mau Kanaya pulang sendirian dengan taxi.


"Ya sudah telpon William sekarang juga untuk menjemput Kanaya." Ujar Arkan.


"Udah aku chat kok mas dan iya juga sudah mengiyakannya."


"Bagus." Singkatnya.


Tak lama kemudian William sudah berada ditempat restoran yang sedang dikunjungi Arkan.


"Sore tuan, nona, maaf saya agak sedikit telat." Kata William.


"Tidak apa apa, begini Wil kamu antar pulang Kanaya ya karena aku sama mas Arkan mau honey moon hehe."


"Baiklah nona."


"Tolong antarkan dia dan jangan macam macam pada Kanaya." William pun mengerti dengan apa yang di ucapkan tuannya.


"Mari nona saya antarkan pulang."

__ADS_1


"Kak aku pulang duluan ya maaf aku tak bisa ikut dengan kalian, semoga kalian bahagia disana."


"Pasti dong kan aku mau honey moon dulu sebelum berangkat ke Amerika." Kanaya pun tersenyum setelah mendengar ucapan Ana sedangkan Arkan tak rela melihat Kanaya pulang bersama William.


"Mas ayo kita berangkat sekarang."


"Ya sayang."


William pun membukakan pintu mobilnya, ia sengaja menyuruh Kanaya duduk didepan bersama dia.


"Maaf Kak Wil aku mau dibelakang saja."


"Tidak bisa, nona harus didepan." Kanaya pun menurut saja dengan apa yang dikatakan Arkan.


Disepanjang jalan Kanaya hanya menatap keluar jendela dengan memikirkan nasibnya yang malam.


"Kanaya apa kau tidak apa apa."


"Aku tak apa apa Kak Wil."


"Hem sebenarnya aku sudah tahu tentang malam itu,"


"Maksud mu?"


"Arkan menceritakannya padaku telah mengambil kesucian mu dengan paksa." Kanaya pun tak menyangka kenapa Arkan membicarakan rahasianya pada William.


"Aku tahu kamu pasti sedang menderita karena ulah Arkan, ia tak bisa tanggungjawab karena sudah memiliki istri."


"Iya aku tahu, biarkan saja aku begini mungkin ini sudah takdir ku."


"Maaf aku tak bermaksud mencampuri urusan mu, aku hanya menawarkan saja jika kau ingin berkeluh kesah maka aku akan setia mendengarnya."


Mata Kanaya pun berkaca kaca akhirnya ia menemukan seseorang untuk menumpahkan isi hatinya.


"Kenapa kau menangis Kanaya, kau tak perlu canggung di dekatku bukankah kita sudah mengenal sejak lama walaupun kita tak kenal dekat."


"Iya Kak terima kasih sudah ingin mendengar keluh kesahku, aku memang sudang terpuruk karena ulah Kak Arkan aku harus mengandung anaknya hiks hiks,"


"Apa? jadi kau sedang hamil."


"Aku juga tak tahu kenapa aku bisa secepat ini mengandung sedangkan Kak Ana yang sudah jadi istrinya masih belum memiliki anak, tuhan tidak adil padaku kenapa harus aku yang mengandung anaknya hiks hiks."


"Sudah sudah jangan menangis kita harus mencari cara agar kamu bisa dinikahi Arkan."


"Aku tak mau menyakiti Kak Ana dia sudah sangat baik padaku, aku juga tak ingin memberitahu kehamilan ku pada Kak Arkan karena Kak Arkan tidak akan menerima anak ini ia sudah bilang padaku jika aku hamil maka harus menggugurkannya. Aku harus bagaimana Kak Wil aku tak ingin membunuh bayi ku dan aku tak ingin menambah dosa ku lagi hiks hiks."


Seketika William pun menghentikan mobilnya dulu kemudian ia memeluk Kanaya untuk menenangkannya.


"Sudah jangan menangis lagi sekarang ada aku disini."


"Aku harus bagaimana Kak, aku tak tahan menanggung ini sendirian rasanya aku ingin mati saja."


"Sudah Kanaya kau tak boleh berbicara seperti itu, ini rencana tuhan untuk mu semoga kamu bisa menerimanya dengan lapang."

__ADS_1


"Iya Kak hiks hiks." William sudah terlihat seperti Kakak yang sedang melindungi Adiknya, ia tak tega melihat Kanaya dengan keadaannya yang seperti ini.


__ADS_2