
Kanaya mencoba bangkit atas keterpurukannya, ia mencoba mengikhlaskan semuanya walaupun memang berat baginya.
Ia sempat berfikir ingin mengakhiri hidupnya agar tidak mengalami hidup yang seperti sekarang akan tetapi ia malah bermimpi didatangi sang Ayah untuk semangat hidup membuatnya bangkit kembali.
"Baiklah kalau begitu aku akan menjalani kuliahku lagi, bagaimana pun nanti akhirnya aku akan menerima semuanya."
Kanaya pun sudah bersiap siap untuk pergi kuliah.
"Kanaya kamu sudah sembuh." Tanya Ana yang sedang menikmati sarapannya.
"Sudah Kak, hari ini aku mau kembali kuliah."
"Kalau begitu aku akan mengantarmu sekalian pergi ke kantor." Kata Arkan.
"Tak usah Kak, aku sudah pesan ojek online."
"Tidak ada bantahan." Tegasnya.
"Iya Kanaya, kamu berangkat bareng Kak Arkan saja ya lagian searah kan."
"Iya Kak."
Niat hati ingin menghindari Kakak tirinya itu namun malah semakin bertemu, akhirnya Kanaya menyetujui permintaan Arkan.
"Kanaya apa kau sudah memiliki kekasih." Tanya Ana penasaran.
"Belum Kak, aku belum pernah pacaran memangnya kenapa?"
"Ah tidak ada apa apa, Kakak hanya ingin tahu saja."
"Ya sudah kalau begitu mari berangkat sekarang kalau sudah selesai."
"Baik Kak."
"Sayang hati hati dijalan ya," Ujar Ana, namun Arkan hanya mengiyakan saja biasanya ia selalu mengecup dan memanjakan istrinya itu namun sekarang Arkan tak melakukannya lagi.
"Mas," Ana menahan tangannya Arkan.
"Ada apa lagi Ana."
"Kok kamu gitu sih mas, biasanya kalau mau ke kantor kamu selalu memberi kecupan dulu tapi sekarang kenapa kamu berbeda. Apa aku sudah tidak menarik lagi, padahal semua orang mengakui kecantikan ku tapi kenapa kamu malah biasa aja mas."
Kanaya yang mendengar ucapan Ana ia langsung pergi menghindar tak ingin melihat drama romantis di pagi hari dan Arkan mengetahui perasaan Kanaya yang berbeda dari biasanya.
"Ya sudah kalau mas gak mau mengecup ku biar aku yang duluan."
CUP...
"Hati hati kerjanya mas,"
"Hem iya." Setelah pamit Arkan pergi menuju mobilnya, disana sudah ada Kanaya yang sedang duduk menghadap jendela mobil.
"Pindah ke depan jangan duduk dibelakang, aku bukan sopir mu."
"Aku nyaman disini Kak."
__ADS_1
"Aku bilang pindah." Dengan berat hati Kanaya mengikuti perintah Kakak tirinya itu.
Sepanjang jalan Kanya terus saja menghadap ke jendela.
"Kamu kenapa?"
"Aku tidak apa apa."
"Tolong tatap aku jika aku sedang bicara dengan mu." Kanaya pun menurut.
"Kanaya apa kau membenciku."
"Tentu saja aku membenci orang yang sudah menghancurkan masa depanku dan aku sangat ingin menghindari Kak Arkan."
"Jangan seperti itu, aku sudah janji pada mu beri aku waktu satu bulan."
"Kenapa harus satu bulan, memangnya selama satu bulan itu Kak Arkan mau ngapain. Aku hanya butuh tanggung jawab mu Kak, kalau aku sudah begini siapa yang akan menikahi ku suatu saat nanti."
"Iya aku mengerti maksud mu Kanaya, tapi aku minta waktu satu bulan untuk mengetahui sikap Ana dibelakang ku."
"Ada apa dengan Kak Ana."
"Nanti juga kau akan tahu, jadi tolong jangan bersikap seperti tidak kenal dengan ku. Kau ini adik ku."
"Hanya adik tiri kan."
Kanaya berharap Arkan tanggung jawab untuk menikahinya karena bagaimana pun Arkan lah yang sudah merenggut kesuciannya, Kanaya tahu Arkan sudah menikah jika bisa memilih Kanaya hanya ingin mengikhlaskan nya, akan tetapi bagaimana jika ia mengandung benih Arkan?
"Kak," panggil Kanaya.
"Ada apa?"
"Mana mungkin, kita kan baru melakukannya satu kali."
"Tapi bagaimana jika aku hamil Kak, apa Kakak akan bertanggung jawab?"
"Jika kamu hamil, maka kamu bisa menggugurkannya aku akan memberi mu sejumlah uang untuk mengeluarkan bayi yang ada dikandungan mu."
Sungguh sakitnya hati Kanaya setelah mendengar ucapan Arkan yang menusuk.
"Apa Kak Arkan tidak akan mengakui anak ku jika benar aku mengandung."
"Aku tak ingin bermasalah dengan Ayah ku, Ayah ku pasti akan marah jika tahu aku yang melakukannya. Aku tak ingin jabatanku di ambil kembali."
"Jadi Kak Arkan lebih mementingkan jabatan dari pada tanggung jawab pada ku."
"Kanaya tolong mengertilah dengan posisiku,"
"Apa Kak Arkan tak tahu bagaimana posisiku sekarang." Kanaya mulai emosi dengan ucapan Arkan lalu ia keluar dari mobil Arkan yang sudah sampai.
"Kanaya tunggu."
"Aku benci Kak Arkan."
Brakkk Kanaya menutup pintu mobilnya dengan keras membuat Arkan teronjak kaget mengelus dadanya.
__ADS_1
Kanaya menyadari bahwa dirinya belum datang bulan, harusnya tanggal 1 kemarin ia datang bulan namun sekarang sudah satu minggu masih belum juga datang bulan membuat Kanaya berfikiran bahwa dirinya hamil.
Jika ia tak hamil mungkin ia masih bisa memaafkan Arkan namun jika ia mengandung benihnya maka Kanaya pun akan menuntut untuk dinikahinya walaupun Arkan sudah memiliki istri.
"Semoga saja aku tidak mengandung, aku tak ingin jika Kak Arkan menyuruhku untuk menggugurkannya nanti, aku tak mau berbuat dosa lagi setelah dosa yang ku perbuat sebelumnya."
"Hei Kanaya," Nita menepuk pundak Kanaya membuat Kanaya kaget.
"Kau ini malah melamun sambil jalan nanti kesambet loh."
"Mana bisa begitu Nit."
"Bisa lah, memang nya sedang memikirkan apa sih?"
Sebenarnya Kanaya ingin memberitahu Nita agar dia punya solusi dari Nita namun ia masih belum berani untuk berbicara pada temannya itu.
"Aku tidak memikirkan apa apa kok Nit."
"Lain kali jangan melamun lagi ya, nanti cantiknya hilang loh."
"ada ada saja kamu ini."
"Eh Kanaya itu Kak Arif kan, lihat deh dia sama cewek." Ujar Nita sambil menunjuk jarinya ke arah Arif dan Kanaya pun melihat pemandangan Arif yang sedang tertawa bahagia bersama teman wanitanya.
"Biarin saja lah Nit, dia juga pria normal pasti dekat dengan wanita."
"Tapi kok aneh ya, biasanya juga selalu menghampiri kamu kesini. Aku yakin deh Kak Arif itu menyukai mu."
"Hem aku sudah menolaknya."
"Hah sejak kapan, kamu serius Arif menembak kamu."
"Iya tapi aku sudah menolaknya."
"Tapi kenapa ditolak, Arif itu tampan dan baik sama kamu jadi apa sebenarnya kamu menolak dia."
"Karena aku tak mencintainya."
"Astaga Kanaya sampai kapan kamu akan menolak pria terus, kamu ini sudah dewasa dan kamu sudah sewajarnya jika memiliki kekasih," Akan tetapi Kanaya malah menitikkan air matanya membuat Nita bingung.
"Kamu kenapa Kay."
Dengan cepat Kanaya mengusap air matanya, ia tak ingin Nita mengetahuinya.
"Aku tidak apa apa, aku hanya sedang ingat pada ayah."
"Aku minta maaf jika sudah membuatmu menangis, aku tahu kamu berbohong kan pura pura mengingat ayah mu? kalau memang kamu tak menyukai Arif tak apa apa, Aku mengerti kok hanya saja aku ingin memberimu saran."
"Terima kasih kalau kamu sudah mengerti."
Kanaya dan Nita berjalan melewati Arif yang masih bersama teman wanitanya, Arif pun bersikap menghindar tak seperti dulu ia selalu menyambut kedatangan Kanaya.
"Sekarang Kak Arif tak seperti dulu lagi ya Kay."
"Biarkan saja Nit, aku tak ingin memikirkannya lagi."
__ADS_1
"Semangat ya, masih ada aku disini." Ujarnya.
Kanaya hanya bisa tersenyum palsu padahal ia sedang menahan beban sendirian.