Mencintai Saudara Tiri

Mencintai Saudara Tiri
Chapter 14


__ADS_3

"Tuan apa kabar?" Panggil Willian yang baru saja datang ke kantor Arkan.


"Wil kau sudah pulang, kenapa tidak memberitahu ku."


"Maafkan saya tuan, saya tidak sempat memberitahu anda."


"Ya tidak apa apa yang penting kamu pulang dengan selamat," Kata Arkan.


Kemudian William mengambil berkasnya uang diberikan Arkan.


"Wil untuk hari ini aku minta kamu mengerjakannya disini."


"Tapi kenapa tuan, bukannya anda tak suka jika ada saya disini."


"Untuk kali ini saja, aku hanya ingin minta solusi mu."


William pun menurut atas perintah tuannya, ia bekerja di samping Arkan.


"Wil aku benar benar bingung kali ini."


"Kenapa tuan, apa ada yang bisa saya bantu."


"Jangan terlalu formal bicara denganku Wil,"


Kemudian Arkan menceritakan kejadian minggu kemarin dengan Kanaya membuat William terkejut dengan pernyataan Arkan.


"Aku minta solusi mu Wil, aku harus bagaimana."


William juga tak tahu harus memberi solusi apa karena ini menurutnya kesalahan yang sangat patal.


"Apa kamu sudah menemukan bukti kegiatan Ana disana, apa dia berselingkuh dengan mantan kekasihnya." Sambungnya lagi.


"Sejauh ini aku belum menemukan kejanggalan pada nona Ana tuan, dia memang sering bertemu dengan mantan kekasihnya tapi sepertinya mereka sedang bekerja sama dengan bisnisnya."


"Lalu aku harus bagaimana? sedangkan adik tiriku memintaku untuk tanggung jawab."


William menarik nafasnya dengan panjang lalu ia mulai memberi solusi pada Arkan.


"Begini saja tuan, bagaimana kalau anda menikahi dia secara diam diam yang penting nona Ana tidak mengetahui semuanya."


"Apa kau gila Wil, solusi macam apa ini. Mana bisa aku menikahi dua wanita dalam satu rumah, bisa mati berdiri kalau seperti itu."

__ADS_1


"Hanya itu jalan satu satunya tuan, asalkan nona Kanaya juga menyetujuinya."


"Tapi kau benar juga Wil, nanti aku harus membicarakannya dengan Kanaya."


"Iya tuan,"


"Kalau begitu nanti antar aku pulang, mulai hari ini kamu lah yang menjadi sopir ku plus asisten ku."


"Siap laksanakan tuan."


***


"Kanaya kamu kenapa sih sedari tadi melamun terus," Tanya Nita.


"Aku sedang memikirkan sesuatu Nit, apa kamu bisa membantuku."


"Emangnya kamu butuh bantuan apa Kay."


"Aku mau cerita soal teman lama ku, teman lama ku itu punya kekasih pada saat itu dia tak sengaja melakukan hubungan intim dengan kekasihnya namun setelah ia tahu ternyata kekasihnya itu sudah memiliki istri, kira kira menurut mu harus bagaimana."


Kanaya berbohong pada Nita menceritakan kisahnya namun lewat orang lain, ia masih belum siap jika Nita mengetahui segalanya.


"Apa teman mu itu gila Kay, masa sudah tahu punya istri tapi dia masih pacaran sama tuh cowok."


"Tetap saja itu namanya pengkhianat Kay, mau insiden atau disengaja yang namanya pacaran dengan suami orang itu tidak di benarkan."


Kanaya merasa tertampar oleh ucapan Nita walaupun Kanaya tidak seperti yang diceritakan nya, Kanaya memang tak pernah punya hubungan dengan Arkan dan ia pun tak sengaja melakukan dosa bersama Arkan karena ia dipaksa oleh Arkan.


"Oh iya Nit kamu benar juga ya, terima kasih ya atas solusinya."


"Kok aku jadi penasaran dengan teman mu itu, berani sekali dia jadi pelakor."


"Temanku tak ada disini Nit."


"Baguslah kalau gitu Kay, aku takut kamu kebawa bawa sama teman mu itu nanti malah kamu yang jadi pelakor lagi."


Ucapan yang kedua kalinya dari Nita membuat hatinya tertampar.


"Eh Kay lihat deh bukannya itu mobil Kakak tiri loh." Ujarnya dengan menunjuk jarinya pada sebuah mobil yang berwarna hitam.


"Itu memang Kak Arkan, ngapain dia menjemputku." Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Arkan menyuruh William untuk berhenti karena ia melihat Kanaya yang sedang ngobrol dengan temannya.


"Wil itu Kanaya adik tiri ku yang ku ceritakan tadi."


Dalam hati William ia seperti mengenal Kanaya, ia ingat bahwa Kanaya wanita yang ingin dijodohkan oleh Ayahnya, namun William menolaknya karena usia Kanaya yang sangat jauh dengannya.


"Apa benar dia Kanaya wanita yang dijodohkan oleh Ayah." Ucap William dalam hatinya.


Memang sudah sangat lama William bertemu dengan Kanaya sewaktu Kanaya masih duduk dibangku sekolah.


Kemudian Arkan keluar dari mobilnya lalu ia menghampiri Kanaya yang masih duduk dengan temannya.


"Kanaya ayo pulang." Nita terkejut dengan Kakak tiri Kanaya yang sangat tampan dan gagah, wanita mana yang tak terpesona pada Arkan.


"Kanaya apa dia Kakak mu." Tanya Nita.


"Iya Nit."


"Ganteng banget Kay." Ujarnya dengan tatapan yang tak berkedip.


"Kanaya ayo cepat pulang." Tegasnya pada Kanaya.


"Iya Kak sebentar, em Nit aku duluan ya maaf aku tak bisa menemani mu disini."


"Iya Kay tak apa apa kok." Kemudian Kanaya mengikuti Arkan dari belakang menuju mobilnya.


Semakin dekat Kanaya semakin William percaya bahwa Kanaya memang wanita yang pernah dijodohkan dengannya.


Setelah Kanaya masuk kedalam mobil Arkan, ia tak kalah terkejutnya melihat William yang berada di dalam mobil yang sama.


William ataupun Kanaya mereka tak saling sapa, karena mereka belum kencan bersama.


"Pria ini kan pria yang mau dijodohkan oleh Ayah dulu, kenapa dia bisa bersama Kak Arkan.


Kanaya pun mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada Arkan.


"Kak dia siapa?"


"Dia William asisten ku." Ujarnya.


"Jadi benar namanya William, ah kenapa aku bisa bertemu dia disini membuat kisah ku yang dulu teringat kembali.

__ADS_1


"Jalan Wil ke kediamanku."


"Baik tuan siap laksanakan." Disepanjang jalan Arkan memegang tangan Kanaya tanpa melepaskannya, ia benar benar sangat nyaman bila berada di dekatnya.


__ADS_2