Mencintai Saudara Tiri

Mencintai Saudara Tiri
Chapter 31


__ADS_3

Arkan melipatkan tangannya dengan penuh kesombongan setelah tahu Kanaya yang bekerja di perusahaannya.


"Em Kak Arkan," Ujar Kanaya dengan gugup.


"Kamu gak punya sopan santun ya, saya ini seorang ceo di perusahaan ini kenapa panggil saya Kakak?"


"Em maaf pak,"


"Saya bukan bapak mu." Tegasnya.


Kanaya benar benar tak menyangka ia bisa bekerja di perusahaan Kakak tirinya itu, kalau bisa ia ingin keluar saja dari perusahaan ini tapi ia berfikir lagi hanya perusahaan ini lah yang menerimanya.


"Maaf tuan."


"Bagus itu yang pantas untuk panggilanku." Kata Arkan.


"Kalau begitu saya permisi mau membersihkan ruangannya tuan," Lalu Kanaya pergi ke toilet yang ada di ruang Arkan untuk membersihkan toilet terlebih dahulu.


Entah kenapa Arkan sangat senang sekali setelah tahu Kanaya berada di perusahaannya.


"Permisi tuan ada yang mencari anda!"


"Siapa?"


"Namanya nona Ana katanya istri tuan."


"Ya suruh dia datang ke ruanganku." Arkan tersenyum sinis setelah tahu siapa yang mencarinya.


"Cih sekarang dia pasti butuh aku lagi, lihat saha Ana aku akan membuatmu menderita." Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Tanpa permisi Ana masuk keruangan Arkan dengan berpakaian tertutup karena sampai saat ini ia masih menjadi incaran wartawan untuk klarifikasi kasusnya."


"Arkan tolong jangan begini, tolong bantu aku. Aku benar benar tak sanggup dengan keadaanku yang sekarang."


"Arkan aku minta maaf soal itu, tolong katakan pada media semua itu salah. Aku tak ingin seperti ini aku benar benar capek tiap hari harus bersembunyi dengan pakaian yang membuatku gerah." Sambungnya.


"Itu derita mu Ana, kau yang membuat aku seperti ini." Kata Arkan.


"Aku memang salah Arkan, tapi aku mohon aku benar benar ingin berdamai dengan mu."


"Maaf aku tak bisa, kau sudah mempermainkan ku." Ana mengeluarkan jurus aktingnya dengan menangis bersimpuh di kaki Arkan akan tetapi sekarang Arkan tak percaya lagi dengan tangisan palsunya ia bukan Arkan yang dulu selalu menurut padanya.


Setelah selesai membersihkan toilet Kanaya pun keluar kemudian ia membersihkan ruangan tempat tidur yang ada di ruangan kerja Arkan, Kanaya juga mendengar Arkan yang sedang berdebat dengan seorang wanita membuat ia penasaran ingin mengetahuinya.


"Kak Ana? ada apa ia kesini!" Gumamnya.


"Tolong pergi dari sini sebelum aku memanggilkan security untuk mengusir mu." Bentak Arkan.


"Arkan aku mohon hiks hiks aku benar benar menyesal."


"Aku tak peduli."


Ana tak sengaja melihat seseorang yang sedang membersihkan meja lalu ia mendekati orang itu dan Ana terkejut ternyata Kanaya lah yang sedang bekerja disini.


"Kanaya! ah rupanya kau kerja disini juga hahaha sangat murahan sekali wanita seperti mu yang selalu mendekati suamiku."


"Apa maksud mu Kak, aku disini bekerja bukan untuk mencari perhatian."


"Halah alesan aja! masih kecil demen jadi pelakor."

__ADS_1


Arkan yang mendengar hinaan dari Ana ia pun langsung membantahnya karena Arkan tak ingin Kanaya menjadi korban bulian.


"Jaga bicara mu Ana, pergi dari sini!" Ketusnya.


"Aku tidak mau,"


"Kalau begitu jangan pernah mengganggu calon istriku."


Kanaya dan juga Ana ia terkejut dengan ucapan Arkan.


"Apa maksudnya calon istri." Ucap Kanaya dalam hatinya.


"Haha aku tak percaya kau benar benar menyukai dia Arkan, aku tahu kau sengaja kan berbicara seperti itu."


"Kau tak percaya maka aku akan membuktikannya," Arkan pun berjalan ke arah Kanaya membuat Kanaya mundur satu langkah namun dengan sigap Arkan menahan tangannya sampai tak ada jarak di antara mereka tiba tiba Arkan mengecupnya dengan singkat.


Ana pun menutupi mulutnya dengan apa di lihatnya ia benar benar tak percaya dengan Arkan yang mencium Kanaya di depannya.


"Apa kau percaya sekarang Ana, jadi tolong pergi dari sini dan jangan pernah mengganggu hubungan kami, ingat itu."


"Ya aku akan pergi, aku benar benar kecewa pada mu Arkan kalian berdua sama saja pecundang cih." Kemudian Ana pun pergi dari ruangan Arkan dengan perasaan geramnya pada Arkan dan Kanaya.


Kanaya ingin marah dengan tingkah Arkan namun ia tak ingin berbuat masalah di perusahaanya karena ia baru bekerja hari ini, Kanaya akan memarahinya jika nanti sudah dirumah.


"Saya permisi dulu tuan mau kembali ke tempat saya." Ujarnya dengan gugup.


"Ya tapi tolong buatkan saya kopi dulu,"


"Baik tuan saya permisi." Dengan cepat Kanaya berlari pergi dari ruangan Arkan.

__ADS_1


"Akhirnya aku keluar juga, tapi kenapa jantung berdetak secepat ini." Kanaya masih membayangkan Arkan barusan yang sudah menciumnya di depan mantan istrinya.


"Argh beraninya dia menodai bibirku lagi."


__ADS_2