Mencintai Saudara Tiri

Mencintai Saudara Tiri
Chapter 9


__ADS_3

Kanaya langsung membuka kado pemberian dari Arif, kadonya sangat kecil membuat Kanaya penasaran dengan isinya.


"Kira kira apa ya isinya?"


Kado yang berisi kotak kecil serta ada suratnya, Kanaya membuka kotak kecilnya terlebih dahulu ternyata sebuah cincin dengan permata kemudian ia membuka suratnya.


"Maukah menjadi kekasihku, sudah lama aku mencintaimu jika kamu sudah punya jawaban maka jangan lupa hubungi aku." Begitulah isi dari surat pemberian Arif.


Kanaya menutup mulutnya, ia tak menyangka selama ini Arif menaruh perasaannya pada dia.


"Aku tak percaya ini, aku harus bagaimana?" Ujarnya.


Arif memang pria yang baik yang selalu membantu Kanaya dan melindunginya, namun sejauh ini Kanaya belum menaruh perasaannya padanya.


"Kanaya buka pintunya." Teriak Arkan dari luar pintu kamarnya.


"Ah iya Kak sebentar."


Kanaya mengamankan kotak cincin di bawah bantal namun ia lupa dengan suratnya yang berada di atas bungkusan kado.


"Ada apa Kak."


"Kenapa pintunya di kunci!"


"Lah memangnya kenapa, kan ini kamar ku Kak."


Kemudian Arkan masuk kedalam kamar Kanaya, ia mencari sesuatu dari kamarnya.


"Kak Arkan mau nyari apa?"


"Kado yang dibawa mu."


Kanaya bengong, kenapa Kakak tirinya ingin tahu dengan kado yang dibawanya.


"Ah itu bukan apa apa Kak, itu dari Nita teman kuliah ku dan isinya hanya untuk dilihat perempuan saja."


"Cih mana ada begitu."


Lalu Arkan melihat bungkusan kertas di atas tempat tidurnya dan ia pun mengambil kertas berwarna putih dengan tulisan tangan.


Dengan cepat Kanaya mengambil kertas itu dari tangan Arkan namun Arkan lebih cepat mendapatkannya, kemudian ia membacanya isi surat dari Arif.


"Ini pria yang kemarin mengantarmu kan."


Kanaya hanya diam saja, ia takut dengan tatapan Arkan.


"Jawab Kanaya."


"Iya Kak,"


"Kamu masih kecil sudah mau pacaran, aku sudah bilang padamu untuk fokus pada kuliah mu."

__ADS_1


"Aku minta maaf Kak, lagian aku juga mau menolak dia."


"Mana ponsel mu!"


"Untuk apa Kak?" Arkan melihat ponselnya di atas meja belajar, ia langsung mengambilnya dengan cepat.


"Kak Arkan untuk apa mengambil ponselku, sini kembalikan ponselku." Kanaya merebut ponselnya dari tangan Arkan namun dengan sigap ia mengambil kembali.


Arkan mengetik sesuatu dipesannya kemudian ia mengirimkannya pada Arif.


Setelah terbaca oleh Arif baru Arkan mengembalikan ponselnya pada Kanaya.


"Nih ponsel mu, aku ingatkan sekali lagi jangan pacaran, fokuslah pada kuliah mu."


"Iya Kak," Arkan pun pergi meninggalkan Kanaya kemudian kembali ke kamarnya.


"Berani sekali dia menyatakan cinta pada Adikku, aku jadi ingin tahu pria yang bernama Arif."


Kanaya memeriksa ponselnya, ia ingin tahu Arkan mengirim pesan pada siapa. Namun ia tak menemukannya mungkin Arkan sudah menghapusnya lebih dulu.


Arif pun tak membalas pesannya, mungkin Arkan mengancamnya.


Kanaya pun mencoba mengirim pesan pada Arif, namun nomornya malah diblokir oleh Arif.


"Ada apa dengan Arif, kenapa dia memblokir nomorku. Ini semua gara gara Kak Arkan aku sudah bilang padanya bahwa aku tak mencintainya kenapa Kak Arkan tak percaya padaku, aku tak mau Arif menjauhiku karena aku sudah menganggapnya sebagai seorang Kakak." Kanaya gelisah dengan pesan yang dikirim pada Arif oleh Arkan.


***


Ana terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga Ana lupa untuk mengabari Arkan suaminya.


Sudah dua hari ia tak menghubungi Arkan, begitu juga Arkan tak menghubungi Ana. Biasanya Arka selalu mengkhawatirkan Ana, ia juga sering memberi perhatiannya pada Ana namun kali ini Arkan tak seperti biasanya mungkin hatinya sudah memudar karena terlalu lama ditinggal Ana.


Disisi lain William asistennya masih memantau kegiatan Ana dari jarak jauh, walaupun pada saat ini William belum menemukan kecurigaannya pada Ana. Ia hanya melihat Ana yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Ana kami ingin memperpanjang kontrak mu lebih lama lagi, dan kami akan membayar mu lebih mahal dari ini. Bagaimana?" Ujar atasannya.


"Aku setuju saja, kalau begitu aku akan menandatangi kontrak yang sekarang."


"Baik, nanti asistenku yang akan memberikan suratnya. Ku harap kamu tak menyianyiakan kesempatan ini karena sekarang kamu semakin terkenal di negara ini."


Ana melupakan janjinya pada sang suami, padahal ia janji hanya bekerja satu tahun lagi sebagai model. Jika Arkan tahu ia pasti akan marah besar pada istrinya itu, namun kenyataannya Ana akan menyembunyikan soal perpanjang kontraknya.


"Aku tak akan bilang pada mas Arkan, ia tak berhak juga untuk mencampuri urusanku. Aku tak ingin menjadi istri yang hanya diam untuk melayani suami saja malah seperti pembantu, aku ini wanita cantik semua orang mengakui kecantikan ku, aku tak akan menyianyiakan kesempatan ini karena inilah cita citaku." Gumamnya.


***


Kanaya masuk ke kamar Arkan tanpa permisi.


"Kak Arkan pesan apa yang kau kirimkan pada Arif."


"Apa maksudmu anak kecil, beraninya masuk tanpa permisi."

__ADS_1


"Cepat katakan Kak, apa yang kau katakan pada Arif." Kanaya mulai kesal dengan Arkan yang terus fokus pada ponselnya.


"Berisik sekali, temui saja dia apa susahnya."


"Baiklah kalau begitu," Kanaya pun dengan senang hati diberi izin oleh Kakak tirinya itu.


Setelah dapat izin Kanaya pun pergi di antar mang Sardi menuju rumah Arif.


"Eh ada neng Kanaya, kemana aja kamu neng? Ibu rindu sudah lama tidak bertemu dengan mu." Ujar Bu Sopiah.


"Maaf Bu Kanaya akhir akhir ini sibuk, jadi Kanaya gak sempat main kesini."


"Oh iya Bu, Kak Arif nya ada gak." Sambungnya lagi.


"Arif gak ada dirumah, sepertinya Arif pergi ke taman tadi Ibu diberi tahu sama temannya."


"Oh gitu Bu, ya sudah Kanaya mau nemuin Arif dulu ya Bu."


"Iya neng, hati hati dijalan."


Kanaya pun kembali masuk ke mobil mang Sardi, kemudian ia menuju taman yang tak jauh dari rumah Arif.


Dari jauh Kanaya melihat Arif yang sedang melempar batu ke arah danau yang berada di taman itu.


"Mang berhenti disini ya, aku mau bertemu dengan teman ku dulu."


"Iya nona."


Kanaya berjalan menghampiri Arif.


"Kak Arif." Arif pun membalikkan badannya, kemudian ia berbalik lagi.


"Kak Arif aku mau minta maaf."


"Maaf untuk apa!" Ucapnya.


"Soal pesan tadi, aku." Belum selesai bicara, Arif sudah menyelanya lebih dulu.


"Kamu jangan pernah menemui ku lagi, jangan pernah sok polos didepan ku. Kau bilang kau tak ingin berpacaran dulu karena ingin fokus kuliah tapi nyatanya kau akan segera menikah dengan kekasih mu, ku kira kau itu gadis baik dan pendiam tapi kenyataannya kau akan segera menikah."


Kanaya tak percaya dengan ucapan Arif, sejak kapan ia akan menikah untuk pacaran saja ia belum pernah.


"Itu tidak benar Kak, aku minta maaf karena yang kirim pesan itu bukan aku."


"Aku tahu, itu pasti calon suami mu kan. Mulai hari ini jangan pernah menemuiku lagi, aku tak ingin melihat mu lagi jadi anggap saja kita tak saling kenal."


"Kak Arif aku mohon aku minta maaf, ini semua tak benar." Kanaya mencoba memegang tangan Arif namun Arif malah menepisnya dengan kasar.


"Jangan pernah menyentuhku lagi, aku tak suka dengan mu yang pintar berbohong. Aku benar benar menyesal telah mengenalmu dan sekali lagi jangan pernah menemuiku lagi dan jangan pernah datang kepada Ibuku, mulai hari ini aku tak ingin kenal dengan mu lagi. Permisi."


Arif meninggalkan Kanaya yang masih mematung dengan mata berkaca kaca, Kanaya sakit hati dengan ucapan Arif yang menusuk hatinya, ia tak menyangka Arif bisa secepat itu berubah.

__ADS_1


__ADS_2