
Ana telah tiba di Amerika, ia pergi tanpa sepengetahuan Arkan dan ia sudah menghubungi mantan kekasihnya.
"Jack kau sudah disini,"
"Ya kau juga sudah datang,"
"Bagaimana dengan cctv nya Jack, apa aman?"
"Aman,"
"Terima kasih sayang sudah membantuku, aku sangat mencintaimu."
"Sama sama, kenapa kamu takut ketahuan oleh Arkan padahal bagus jika Arkan mengetahuinya."
"Tidak bisa aku tidak mau dia tahu, aku ingin membalasnya yang sudah mengkhianati aku juga."
"Memangnya dia kenapa?"
"Dia mengkhianati aku dengan adik tirinya, dia melakukan hubungan."
"Bagus dong, biar kamu cepat menikah dengan ku."
"Tapi aku ingin menghancurkan mereka."
"Mari kita buat media tentang mereka, kau kan model terkenal begitu juga dengan Arkan pengusaha yang terkenal dengan begitu kamu bisa menghancurkan nya."
"Ide mu benar juga Jack."
Mereka saling tertawa bahagia dengan rencananya, sudah lama Ana berhubungan dengan Jack sebenarnya Ana tak mencintai Arkan ia hanya ingin terkenal sebagai model saja karena Arkan pengusaha yang banyak dikenal.
***
Arkan mencari Ana ke kamarnya namun ia tak menemukan Ana semua bajunya pun sudah tidak ada disana.
"Rupanya dia pergi dari masalah ini." Gumamnya
"Tuan maaf tadi pagi nona Ana pergi dengan membawa kopernya." Ujar bi Atum.
"Biarkan saja bi, nanti aku akan mengurusnya."
kemudian Arkan mengambil ponsel dari sakunya lalu ia menghubungi William.
"Hallo Wil."
"Ya ada apa tuan?"
"Kau bisa kesini sekarang."
"Tentu saja tuan,"
__ADS_1
Arkan pun menutup telponnya, lalu ia kembali ke ruang tamu.
Kanaya yang sedang menikmati makanannya ia bingung dengan Arkan yang terus mondar mandir diruang tamu.
"Dia kenapa seperti orang kebingungan dari tadi mondar mandir terus,"
Tak lama kemudian William datang menghampiri Arkan, namun belum saja Arkan berbicara, Kanaya sudah duluan memanggil William.
"Kak William," Teriaknya.
William pun melambaikan tangannya serta memberi senyuman pada Kanaya.
"Manis sekali senyumnya," Ucap Kanaya dalam hatinya.
Arkan yang melihat Kanaya saling sapa membuatnya cemburu, ia pun dengan cepat menyuruh William ke ruang kerjanya.
"Kak William nanti jangan pulang dulu ya, aku ingin membicarakan sesuatu."
"Baik,"
"Kanaya beraninya kau mengajak William, ada hubungan apa kau dengan dia."
"Lah memangnya kenapa, dia jomblo kok," William ingin tertawa melihat ekspresi Arkan.
"Jangan pernah berbicara padanya tanpa izin dariku." Tegas Arkan.
Kemudian Arkan menarik tangan William untuk segera menjauhi Kanaya.
"Hanya sebatas teman curhat tuan,"
"Aku tak suka kau mendekatinya."
"Memangnya kenapa tuan,"
"Kau tak usah bertanya, aku menyuruhmu kesini bukan untuk mempertanyakan Kanaya."
"Tolong kamu secepatnya urus surat perceraian ku dengan Ana." Sambungnya lagi.
"Anda serius ingin menceraikan nona Ana, bukankah nona Ana wanita pilihan Ayah mu bagaimana jika nanti Ayah mu tahu."
"Aku tak peduli, aku punya bukti video itu dari mu Wil."
"Ya aku tahu tuan, tapi anda juga bisa kena marah karena anda sudah membuat nona Kanaya hamil."
"Kau tahu dari mana dia hamil benihku."
"Kanaya yang memberitahu."
Arkan benar benar tak percaya dengan Kanaya yang mudah memberitahu orang lain tentang kehamilannya.
__ADS_1
"Seakrab apa kau dengan dia sehingga Kanaya berani membicarakannya."
"Maaf tuan, kami sudah lama saling mengenal jadi itu hal biasa bagiku."
"Jangan pernah sekali kali kau bersama Kanaya lagi maka aku akan memecat mu, tolong sekarang juga urus perceraian ku dengan Ana kau bisa langsung mengirim surat cerainya pada Ana."
Padahal William tak takut jika ia dipecat oleh Arkan karena ia bukan dari kalangan bawah ia bisa disebut pengusaha terkenal juga seperti Arkan, namun ia tetap menuruti perintah Arkan.
Setelah selesai berbicara William pun izin pamit untuk pulang dengan di ikuti oleh Arkan dari belakang.
Setelah sampai ruang tamu ternyata Ana masih setia menunggu William disana.
"Kak Wil," Panggilnya.
"Ya Kanaya ada apa, aku harus segera pulang sekarang karena ada yang harus ku kerjakan."
"Sebentar aja Kak, aku ingin bicara."
"Kau ingin membicarakan apa?"
"Aku ingin mengajakmu ke rumah Ayah ku yang dulu, apa kau mau."
"Baiklah bagaimana kalau besok kita kesana sekarang aku banyak pekerjaan."
"Aku tak mengizinkan kalian," Ujar Arkan yang tiba tiba menyelanya.
"Apa maksud Kak Arkan."
"Kau tak boleh pergi tanpa izin dariku, Wil cepatlah kau pergi dari sini." William pun terpaksa meninggalkan Kanaya yang masih ingin dengannya karena ia tak mau membuat kesalahan dengan Arkan.
"Kak Arkan akhir akhir ini kenapa selalu mengatur hidupku."
"Karena ada anakku yang kau kandung."
"Memangnya kenapa dengan Anakku."
"Aku akan bertanggung jawab dan akan menikahi mu setelah anak itu lahir baru kau boleh pergi dengan William."
"Aturan macam apa ini Kak kenapa aku tak boleh bersama Kak william? lagian kita belum menikah kenapa Kak Arkan sudah mengatur hidup ku."
"Itu terserah aku, aku lah yang bisa mengaturnya dan kau hanya menurut saja padaku."
"Cih kalau begitu aku tak mau menikah dengan mu lebih baik aku hidup berdua dengan bayi yang ku kandung."
"Kanaya beraninya kau," Teriak Arkan.
Kanaya merasa ketakutan dengan teriakan Arkan yang menurutnya lebih seram dari hantu.
Arkan pun mencengkram tangan Kanaya.
__ADS_1
"Kau hidup disini menumpang jadi kau harus menuruti keinginanku dan jangan pernah membantahnya ingat itu." Entah kenapa Arkan menjadi sensitif setelah kepergian Ana, ia sangat membenci Ana yang tiba tiba pergi darinya tanpa izin namun Arkan malah melampiaskan amarahnya pada Kanaya.
"Sakit Kak lepaskan tanganku." Dengan kasar Arkan pun melepaskan pergelangan tangannya.