
Mencintai yang hilang adalah kisah "Terlambat" yang selalu "Masih" untuk di ceritakan.
***
Hari semakin sore, perkuliahan hari ini sungguh membosankan. Entah kenapa aku sedang tidak selera makan nasi, jadi ku putuskan untuk membeli risoles kesukaanku saja untuk berbuka puasa. Masakan ibu biar saja untuk dimakan setelah sholat maghrib. Aku memutuskan untuk berjalan kaki membeli risoles Mbak Iin sambil menunggu waktu magrib.
Tepat di depan tempat jualan risoles Mbak Iin ini selalu ramai anak kecil bermain bola. Firasatku mengatakan sebentar lagi satu persatu dari mereka akan di suruh pulang oleh ibunya masing masing.
"Da! yah ngelamun anak gadis,"
"Ah Mbak ngagetin aja. Siapa juga yang ngelamun, itu lagi liatin bocah pada dimarahin emakny tuh Mbak, rasain!"
"Udah ah, ini risolesnya nih!"
"Makasi Mbak Iin yang gemes, "
"Ada-ada aja kamu Nida."
Mbak Iin orangnya baik dan ramah sekali. Meskipun sudah bertahun-tahun ditinggal suaminya, dia selalu gigih untuk menghidupi kedua anaknya dan yang paling penting risolesnya sangat enak.
Allahuakbar... Allahuakbar...
Aku mempercepat langkahku agar segera tiba di rumah. Membayangkan meneguk segelas air dingin pasti segar sekali. Sungguh tidak sabar rasanya.
"Nidaaaa, tunggu!"
Tidak berapa jauh di belakangku terdengar suara Rifan. Rifan adalah sahabatku, kami saling mengenal sejak bayi. Lahir di rumah sakit yang sama dan dua belas tahun sekolah di sekolah yang sama.
Setelah selesai pendidikan dua belas tahun wajib belajar akhirnya kami terpisah. Aku dan Rifan mengambil jurusan yang berbeda. Rifan memilih kuliah di Jurusan Sastra dan aku di Jurusan Matematika. Walaupun masih satu kampus yang penting sudah tidak bisa satu kelas lagi.
Rumah kami pun tidak terlalu jauh jaraknya, hanya berbeda kompleks. Tidak usah ditanya seberapa sering kami bermain bersama.
"Apa? udah azan mau cepet buka puasa ni. Nanyain soal matematika lagi?" Jawabku ketus memandang ke arah Rifan yang sudah berhenti di atas motornya.
"Nggak dong. Ayo kerumah lo! sekalian gue mau numpang buka puasa. " Jawab Rifan langsung meninggalkan Nida.
"Eee dasar semprul! bukannya gue diboncengin malahan ditinggalin."
***
Selesai berbuka puasa.
"Da, gue mau ngomong!"
"Zidan lagi?"
__ADS_1
"Lo masih nggak percaya? Zidan itu nggak baik buat lo Da!"
Aku terdiam mendengar perkataan Rifan. Darah dalam tubuhku serasa mengalir dengan cepat. Aku tidak suka Rifan selalu menjelek-jelekkan Zidan.
"Da, kita kenal udah berapa lama si? dan ini udah kali keberapa gue ngingetin lo tentang siapa dan bagaimana sebenernya Zidan,"
"Fan, lo kayanya udah terlalu jauh ikut campur urusan gue. Karena kita berteman dari kecil bukan berarti lo bisa ngatur-ngatur gue mau suka dan deket sama siapa."
Aku geram dan bergegas menyusul ibu yang sedang mengambil wudhu untuk sholat maghrib, meninggalkan Rifan di meja makan sendirian. Tapi malah ibu mengajak Rifan sholat berjamaah.
Karena kesal, aku bahkan tidak ingin melihat wajah Rifan.
"Fan ayo sholat jadi Imam!" Ajak Ibu.
"Nggak usah Bu dia mau pulang!" Jawabku ketus.
Melihat responku yang seperti itu akhirnya Rifan menolak ajakan ibu dan langsung berpamitan untuk pulang.
Sebenarnya kami sudah sering bertengkar tapi untuk hal-hal yang sepele bukan tentang menyangkut privasi seperti ini.
***
Sebelum tidur ibu mengetuk pintu kamarku. Ternyata dia menanyakan Rifan yang tidak biasanya seperti tadi sore.
"Bu... anak ibu itu Nida atau Rifan si sebenarnya? "
"Ya sudah, selamat tidur ya nduk! orang yang nasehatin kamu berarti mereka perduli sama kamu. Jangan marahan lagi, kasian tadi ibu liat muka nya Rifan sedih sekali."
"Assalamualaikum," lirih ibu sambil menutup pintu kamarku.
Aku terperanjat dari dalam selimut, duduk menatap jam dinding dengan jarum pendek di angka sebelas dan jarum panjang di angka tiga.
Melirik ke samping meja belajar, ternyata buku diariku terbuka. Sepertinya sebelum berangkat ke kampus tadi siang aku lupa menaruhnya ke dalam tas.
Lampu tidurku yang berwarna orange menambah kacau suasana hatiku malam ini. Aku duduk di meja belajar, menatap dengan tatapan kosong pada buku kecil yang sudah ku anggap sebagai hatiku yang kedua.
Sungguh, tidak mudah bagiku untuk sekedar berbagi cerita. Rasanya tidak ada yang bisa menerima dan mengerti apa yang aku ceritakan.
Tapi tidak dengan Rifan. Aku menceritakan apapun padanya. Hampir dua puluh tahun bersahabat Rifan tidak pernah tidak sependapat denganku. Bahkan, aku menganggapnya sudah seperti abang kandungku, aku sangat menyayanginya.
Sebagai anak tunggal yang tidak pernah merasakan kasih sayang ayah, membuat aku merasa sangat dilindungi Rifan.
Aku membuka lembar paling awal pada buku diariku. Tertulis disana 29 Juni 2009, masih sangat lekat di kepalaku, di atas rumah pohon agak jauh di belakang rumah Rifan.
"Nida sini naik! lihat itu warung Mbak Iin kelihatan dari atas sini."
__ADS_1
Mendengar ucapan Rifan, aku jadi antusias ingin segera naik kale atas rumah pohon.
"Awas ya kalau kamu bohong, nanti aku tidak mau sepedaan lagi sama kamu!"
"Iyaaa sini!"
Sepeda mini warna pink milikku, ku robohkan begitu saja di samping pohon. Ku naiki satu-persatu anak tangga. Setelah sampai anak tangga ke lima aku merasa tidak kuat dan lelah pada bagian lutut.
"Daa, ayo tiga tangga lagi! ini pegang tangan aku!"
Rifan mengulurkan tangannya dengan susah payah. Bagaimana tidak, waktu itu tangannya belum sepanjang dan berotot seperti sekarang. Aku pun menyambut tangan Rifan dengan begitu semangat.
Entah bagaimana kejadiannya kakiku terpeleset, hingga Rifan sangat kesulitan menarik tubuhku dengan tangan kecilnya.
"Fan, lepasin nanti kamu jatuh!"
"Nggak, Nida!!! ayo rekatkan kakimu ke tangga lagi kamu pasti bisa!"
Rifan benar-benar menarik tubuhku dengan sekuat tenaga. Sampai sekarang masih nampak jelas muka merah berkeringat Rifan yang berusaha membantuku agar tidak terjatuh. Pahlawan kecilku yang bernama Rifan memang hebat, selalu melindungi dan menyelamatkanku. Akhirnya, aku sampai pada tangga terakhir.
"Nah gitu dong, kan bisa. Kamu lemah banget si, begitu saja mau jatuh." Ejek Rifan.
"Namanya juga aku kan perempuan, kata ibuku laki-laki itu tugasnya melindungi perempuan."
Kami duduk dengan kaki menjuntai, ku ayunkan kedepan dan kebelakang. Rasanya aku senang sekali berada di ketinggian dan melihat banyak rumah dari atas rumah pohon itu. Rifan merangkul pundakku,
"Nida..."
"Apa?"
"Boleh kan aku jadi teman kamu sampai selamanya?"
Lihatlah wajah gemasnya saat itu. Saat itu aku merasa, kami mirip adegan ftv yang sering ditonton ibuku di rumah. Aku pun mengacungkan jari kelingking di depan wajah Rifan.
"Kamu juga janji ya, akan melindungi aku selamanya?"
Rifan menyambut jari kelingkingku dengan senyuman manis yang tidak pernah berubah manisnya sampai hari ini.
"Janji." Kami tertawa bersama.
Masih dalam lamunanku tiba-tiba hp ku berdering.
BERSAMBUNG...
Terima kasih sudah berkenan membaca episode 1 "Mencintai yang hilang"
__ADS_1