
"Daa, udah sholat subuh? " tanya Bu Hanna.
"Udah Bu!"
"Kok nggak manggil Ibu untuk bantuin kamu ke kamar mandi? "
"Nida bisa sendiri kok Bu, tenang aja."
"Ya sudah, kita siap-siap sarapan terus kita berangkat cek up ke rumah sakit ya Nduk! "
Bu Hanna hendak meninggalkan kamar Nida menuju ke dapur, tapi tangannya di tahan oleh Nida.
"Kenapa Nduk? "
"Kalau dengan cek up terus tapi ngga membuahkan hasil Nida ikhlas buk menerima semua ini. Jadi ibuk ngga perlu lagi capek-capek harus pergi ke rumah sakit tiap minggu hanya untuk kesehatan mata Nida yang sampai hari ini sama sekali ngga menunjukkan progres yang bagus."
"Hushhh kamu ini ngomong apa si Nduk, udah Ibu mau bikin sarapan dulu ya! "
Keputusasaan selalu menghantui Nida, ia merasa begitu tidak berguna.
Setelah selesai sarapan mereka bersiap-sia pergi ke rumah sakit untuk cek up yang entah ke berapa puluh kali untuk kesehatan mata Nida.
Tokk... tokk... tokk..
"Siapa itu Bu? "
"Nggak tau, kamu disini dulu ya biar Ibu yang liat ke depan."
Bu Hanna membuka pintu depan, alangkah terkejutnya bu Hanna melihat tamu yang datang adalah dua orang polisi dengan membawa seseorang yang tidak asing.
"Selamat pagi menjelang siang ibu, benar ini kediaman Rainida Saqeena putri dari bu Hanna?"
"Iya Pak saya Hanna, kenapa pak? ada apa? kamu kenapa Zidan? "
Kedatangan dua orang polisi bersama Zidan ke rumah bu Hanna pagi itu tidak lain untuk memberikan kesaksian tentang segala tindak kejahatan Zidan. Setahun yang lalu ayah dari Zidan sudah resmi menjadi tersangka kasus korupsi dan belakang ini Zidan juga terbukti menggelapkan uang perusahan klien ayahnya.
Tertangkapnya Zidan sebagai tersangka kali ini menguak kisah lama yang kebenarannya kini terungkap.
Aset perusahaan milik ayah Zidan, separuhnya resmi kembali ke tangan keluarga Nida. Surat perjanjian yang sengaja di palsukan sejak bertahun-tahun lalu pun sudah diamankan pihak kepolisian.
Mereka semua berkumpul di ruang tamu dengan kondisi tangan Zidan yang sudah di borgol.
"Nida, aku minta maaf aku menyesal udah nurutin kemauan papaku. Aku sadar papaku bukan orang yang baik dan aku udah dibutakan dengan harta Da, maafin aku Da, tolong maafin aku! "
__ADS_1
"Zidan, semuanya udah berlalu. Sekarang kamu harus menerima akibat dari perbuatan kamu, aku sudah mengikhlaskan apapun yang kamu lakukan dulu! "
"Nak Zidan, ibu juga sudah memaafkan kamu juga memaafkan ayahmu. Cukup apa yang keluarga kamu lakukan semoga mengangkat derajat keluarga kami dan membuat ayah Nida tenang di alamnya."
***
Lusa seharusnya menjadi hari paling penting dan bersejarah untuk Nida, Lily dan Doni. Tapi tidak dengan Nida. Saat hampir semua teman-teman satu angkatannya di wisuda Nida harus merelakan hari berharga itu tidak untuk dirinya. Tapi dengan besar hati ia berniat menghadiri acara sakral bagi kedua teman akrabnya Lily dan Doni.
Setelah setahun menjalani hari-hari tanpa bisa melihat kini Nida benar-benar sudah terbiasa. Ia mengisi setiap harinya untuk membuat bunga dari plastik lalu menjualnya via online tentu saja semua itu tidak terlepas dari bantuan bu Hanna.
Rifan : Lusa gue balik, pas dong sama acara wisudaan lo pada di kampus widiihhh udah sarjana dang, gue dateng kok tenang aja nggak sabar banget liat kalian pake toga, abis acara wisudaan atur waktu buat nongki di tempat biasa Don. Gue balik ini sengaja mau bikin kejutan buat Nida! awas aja ember lo!
Doni : Ha? bukannya baru setahun lo? udah kelar?
Rifan : Gue dikasi libur seminggu, gue bawain cewe dah buat lo!
Rifan : Tega bener ngga ngucap ulang tahun gue lo!
Doni memilih untuk tidak membalas pesan dari Rifan padahal ia berniat mengucapkan selamat ulang tahun pada Rifan sebagai orang yang terakhir, yang ada dalam fikirannya sekarang hanya bagaimana ia harus menghadapi kepulangan Rifan, apa memang sudah waktunya Rifan tau kondisi Nida? Doni benar-benar bingung.
Ia bergegas berangkat ke kampus dan berniat menemui Lily, berharap menemukan solusi terbaik untuk memecah fikirannya yang buntu.
Elah Pan Pan, ngeribetin gw aja si lo!
Sambil menunggu Lily, Doni kembali melanjutkan episode baru pada novel keduanya. Novel pertama yang di gadang-gadang sukses membuat baper para pembaca telah rilis dan di pasarkan di toko-toko buku.
*Pasti kau temukan aku
di garis terdepan,
Meski hanya sebatas teman*!
"Don, dengerin lagu apa menghayati banget! " Lily datang mengejutkan Doni.
"Eh udah dateng, ini nih lagunya bung fiersa, mau denger? "
Lily hanya mengangguk.
Doni membuka earphonenya dan memasangkan ke telinga Lily.
Ya tuhan, kalo deket gini tambah cantik aja nih anak! setahun temenan nggak pernah ngga deg-degan kalo deket sama ni cewe!
"Kenapa ngeliatin begitu? gue cantik kan? iya udah lah semua orang tauuuu! oh iya nanti sore gladi buat wisuda lusa lo dateng kan? gue sendiri kita barengan yah!" ucap Lily percaya diri sambil membuka earphone.
__ADS_1
"Makanya cari pacar biar nggak sendirian hahaha" ejek Doni sambil menirukan nada bicara patrick star.
"Yeeee kaya lo punya aja! jomblo teriak jomblo huuuu! "
"Ngomong-ngomong kenapa kita nggak pacaran aja? "
"Apa? " tanya Lily terkejut.
"Kenapa lo cepet banget nyamperin gue, janjiannya kan setengah jam lagi. " berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ooo tadiii sekalian nganterin berkas ke akademik."
Alhamdulillah, untung cuma salah denger. Apa si yang lagi dipikirin Ly, bisa-bisanya ngga fokus gini! *Lily
*****, niatnya ngomong gitu cuma becanda lah ni jantung kenapa rasanya mau copot gini dahhh ampuuun. Don sadar Don, Lily cewe baik, berhijab, rajin sholat rajin ngaji. Lo cuma temen Don cuma temen sadar lo kristen ! *Doni
"Lo udah kasi tau Nida kan jadwal wisuda kita Ly? "
"Udah kok, kemaren gue main kerumahnya si. Alhamdulillah Nida masih rajin cek up dan terapi. "
"Oh iya hampir lupa, lusa Ipan balik Ly. Sumpah gue bingung harus gimana, dia mau dateng di wisudaan. "
"Seriusan? bukannya belum ada dua tahun? ko bisa? "
"Gue nggak paham si kenapa dan bagaimana nya, dia cuma bilang dikasi libur seminggu gitu doang dan yang bikin tambah pusing dia sengaja mau bikin kejutan buat Nida dan satu lagi aku lupa Ipan kemaren ulang tahun haduuuh kayaknya hidup gue ni kerjaannya ngurusin Ipaaaan terusss setahun belakangan."
"Duhhh gimana ya Don, gue ikutan pusing dengerin lo ngomongnya muter-muter. "
"Gue pasrah Ly, kita nggak mungkin selamanya nutupin kondisi Nida ke Rifan. Apa yang terjadi lusa biarlah terjadi! "
***
Hari yang di nanti telah tiba, tepat pukul 07.00 pagi Rifan, Novia dan Dady-nya Novia sampai di bandara. Kepulangannya kali ini memang sengaja tanpa mengabari nenek dan tantenya untuk nemberikan kejutan. Entah siapa yang berulang tahun dan siapa yang memberi kejutan.
Novia dan Dady-nya yaitu Mr. Jhon telah dijemput oleh kolega Mr. Jhon menuju hotel.
"Fandi, me and my Dad ingin beristirahat sampai nanti sore. Malam nanti kita jalan-jalan kan? aku akan sangat bosan ditinggal Dady meeting! "
"Oke Nov, see u! terimakasih dan selamat beristirahat om eh Mr. Jhon!"
Dikira itu bule om om apa hadeuhhh hahaha
Rifan memesan grab, ia sangat tidak sabar ingin segera sampai kerumah. Ia juga begitu bersemangat beberapa jam lagi akan menemui sahabat-sahabatnya yang telah resmi di wisuda.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Terima kasih sudah berkenan membaca episode 19 "Mencintai yang hilang"