
Tidak masalah harus selama apa aku menunggu untuk sekedar menemuimu. Aku masih menunggu hingga kamu menyuruhku berhenti menunggu!
***
"Sudah mau Maghrib, mendingan kamu mandi dulu Nduk, mungkin nanti malam Rifan ke sini! "
"Iya Bu, "
Rifan memutuskan untuk pulang ke rumah untuk sekedar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu, niatnya ia segera kembali ke rumah sakit untuk menemani Novia.
Rifan : Don, gue nggak jadi kaya nya ke rumah Nida. Lo masih pegang paperbag dari gue tadi?
Doni : Lah, gue pikir lo udah ketemu Nida dari tadi. Iya masih di gue nih paperbag lo buat Nida.
Rifan : Bokap temen gue sekarat, bingung gue.
Doni : Temen lo yang mana si?
Rifan : Ada temen gue cewe Jerman, lo sibuk nggak? kesini gantiin temenin, gue mau pulang bentar, abis Maghrib kesini lagi.
Doni : Bule Jerman??? Otw bossssss.
Giliran cewe aja gercep!
Batin Rifan masih membaca whatsapp dari Doni.
"Emm Nov, aku pulang sebentar ya, nanti abis maghrib aku kesini lagi. Oh iya kamu belum makan kan dari siang, aku udah pesen Go Food buat kamu. "
"Go Food? " tanya Novia mengernyitkan dahi.
"Iya, semacam jasa pengantar makanan di sini. Aku pesen Steak, yah meskipun rasanya tidak akan se-enak Steak langganan kita di Swiss. "
Novia menatap dalam mata Rifan, seakan merasa begitu di perlakukan dengan istimewa oleh laki-laki berbadan tegap di depannya itu.
"Nov, kamu okay? "
"Ah yeah, aku akan menunggumu kembali dan terima kasih. "
"Eh satu lagi, nanti ada temanku namanya Doni datang kesini. Kalau butuh apa-apa bisa minta tolong ke dia, selagi aku belum datang. "
***
"Om Lifan kok balu pulang si? "
Baru saja Rifan sampai di halaman depan rumah, kepulangannya disambut oleh sapaan Rendi yang sudah berdiri di tengah pintu.
"Yaaah Om lupa beliin eskrim Ndut, besok deh ya Om beliin yang banyakkkk! " ucap Rifan sambil berlutut memeluk Rendi.
Sekilas wajah bocah berbadan gempal itu nampak sedih saat Rifan menyatakan bahwa ia tidak membelikan eskrim untuk di bawa pulang. Untung saja Rifan berhasil membujuk dan mengembalikan keceriaan Rendi.
__ADS_1
"Janji? " ucap Rendi sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Iyaaa janji, udah ah Om mau mandi dulu! "
Begitu sampai di ruang keluarga, tante Maya yang melihat ekspresi wajah Rifan begitu lesu sudah berprasangka buruk lebih dulu, menganggap bahwa apa yang selama ini berusaha di tutup-tutupi dari Rifan akhirnya terbongkar.
"K-kamu l-lama bang-et Fan? " tanya nya sedikit gugup.
"Sebel banget Tan, gagal ketemu Nida gue! " jawab Rifan lesu sambil merebahkan dirinya di atas sofa tetap di depan tantenya itu duduk.
"Kok bisa? " Maya balik bertanya, fokusnya yang semula sedang menstalking online shop di instagram berbalik ke arah Rifan.
"Udah sampe di depan pintu rumah Nida eh temen gue nelfon ayahnya jantungnya kumat, itu lo Tan temen gue yang gue bilang bule jerman. "
Ditengah obrolan Rifan dan Tantenya, nenek muncul dari arah dapur.
"Temen kamu yang bule itu perempuan Fan? "
"Iya Nek, haduhhh pusing banget kepala gue! " ucap Rifan sambil mengacak-acak rambutnya.
"Nek, Tan... besok sore aku harus balik, dokter bilang peralatan medis di sini nggak memadai dan mesti di rawat di sana secepatnya. Aku nggak mungkin biarin dia sendirian ngurusin ayahnya." lanjut Rifan pasrah.
Nenek dan Maya sedikit terkejut dengan ucapan Rifan yang menyatakan akan segera pulang ke Swiss besok sore. Nenek yang tadi nya duduk di samping Rendi, kini berpindah ke samping Rifan.
"Nggak apa-apa, mungkin belum waktunya Fan. Allah itu tidak mungkin menakdirkan sesuatu yang tidak baik bagi hambanya, akan selalau ada hal baik di sebalik kecewa yang kita terima. Bersyukur saja, Alhamdulillah sudah di kasi kado terbaik sama Allah bisa pulang, bisa ketemu lagi sama keluarga. "
"Iya Fan, nggak apa-apa. Kami di sini selalu doain lo biar semuanya lancar, lo juga sehat terus di sana, kami semua tau kok gimana usaha lo untuk mewujudkan cita-cita Kak Laras, Mama lo! " timpal Maya.
"Nggak kok Ndut, Om Rifan besok sore harus pulang ke tempat Om sekolah. Kamu jangan bandel ya, jangan bikin Bunda sama Nenek sedih. Okey? "
"Emang jauh ya om? "
"Jauuuuh banget, harus naik pesawat! "
"Wiii asikkkk, Lendi mau naik pesawat kaya yang di celita ultlamennn Om. " ucap Rendi girang sambil memperagakan gaya Ultramen menyilangkan kedua tangannya.
"Ndut, Ul-tra-men! "
"ULTLAMENNNNN... " jawab Rendi berteriak dan berlari ke arah kamar dengan tangannya masih memperagakan gaya ultramen.
Mereka yang melihat kelakuan Rendi hanya senyum-senyum menggelengkan kepala.
"Tuh liat tu, titisan kamu. Persis banget pas kamu kecil! " ucap Maya.
"Hahaha enak aja, gue mah anaknya nurut, kalem. Ya kan Nek? " jawab Rifan membela diri.
"Iya iya, udah magrib sana kamu mandi terus sholat! " suruh Nenek pada Rifan.
***
__ADS_1
Doni telah sampai di rumah sakit. Sambil membaca pesan dari Rifan, ia pun menuju meja resepsionis untuk menanyakan kamar dan lantai berapa teman Rifan bersama ayahnya itu berada.
"Permisi Mbak! "
"..." tidak ada jawaban.
"Mbak!"
"Eh iya Mas, ada yang bisa di bantu. " jawab perawat itu sedikit terkejut dengan nada medok khas orang Jawa.
"Yahhh Mbaknya maghrib-maghrib ngelamunin apaan si? "
"Hehe, nggak ada Mas. "
"Kalau ada masalah bisa cerita ke saya Mbak, nama saya Doni. Boleh dong minta nomor wa nya Mbak! "
Sudah menjadi kebiasaan bagi Doni yang suka menggoda wanita cantik.
"Maaf Mas saya sudah punya suami, saya lagi mikirin anak saya yang lagi sakit di rumah. "
GLEKKK
Doni menggaruk tengkuknya.
"Mbak kamar Mawar II dimana ya? " tanya Doni langsung mengalihkan pembicaraan.
Saking malunya, rasanya Doni ingin memiliki jurus menghilang atau ingin dia bisa berlari secepat Edward di film Twilight.
"Lantai dua Mas, sebelah kanan nanti ada tulisan nama kamar di depan pintunya. "
Apes bener, godain istri orang. Hadeeeh!
Gerutu Doni kesal sambil berjalan menuju lift ke lantai dua.
Tepat di depan kamar Mawar II, Doni memastikan bahwa ruangan tersebut benar ditempati teman Rifan yang bernama Novia.
Tidak ada orang di bangku depan kamar, Doni mengintip pada kaca pintu yang tidak tertutup gorden.
"Iya nggak si ini kamarnya, tu cewe nggak noleh-noleh dari tadi. Ntar gue masuk yang ada rakyat pribumi. Eh nggak apa-apa si orang Indonesia kan cantik-cantik juga contohnya Lily, hihihi. " Doni cekikikan sendiri di depan pintu.
CEKLEKKK
"Ups, sorry... sorry... saya tidak tau ada orang di balik pintu ini."
Doni yang tadinya sedikit menyenderkan bahu langsung tersungkur jatuh karena Novia tiba-tiba membuka pintu.
BERSAMBUNG...
Terima kasih sudah berkenan membaca episode 23 " Mencintai yang hilang"
__ADS_1
Berikan kritik dan saran terbaik kaliaaannn yaaa, wuf youuu😚