
Lebih baik seperti ini, melihatmu bahagia dengan orang lain tidak seburuk apa yang aku fikirkan ternyata.
-Rifan-
***
"Nida, ngapain berdiri disitu? maghribnya udah mau habis ini nduk, ayok jamaah." Panggil Ibu dari pintu depan dengan keadaan sudah mengenakan mukenah.
Aku berjalan lesu ke dalam rumah.
"Rifan nggak sekalian sholat di sini?"
"Nggak Bu, Ibu ke kamar sholat duluan. Nanti Nida nyusul."
Seakan tau bahwa aku sedang tidak ingin menjawab banyak pertanyaan, Ibu hanya tersenyum lalu menutup pintu.
Kejadian di kampus dengan Hanum dan Dini sudah tidak terlalu aku fikirkan. Justru bayangan dua laki-laki yang teramat berarti dalam hidupku kini berputar dalam isi kepalaku ini. Bergantian wajah keduanya membuyarkan setiap usaha fokusku.
"Kenapa ya bisa ribet gini? toh Rifan mah cuma sahabat tapi berat gini rasanya." ucapku lirih menatap cermin besar sambil melepas jilbab.
"Aww... daguku perih."
Apa sebaiknya aku meminta kejelasan ucapan Zidan di perpustakaan tadi?
Ah tidak tidak, mau bilang apa kamu Nida kalau ternyata semua itu Zidan lakukan hanya agar Hanum menjauh dan tidak lagi mengganggu kalian belajar.
Tapi hampir semua orang di dalam perpustakaan tadi mendengarnya. Jika tidak ada klarifikasi lebih lanjut apa itu artinya memang aku dan Zidan resmi jadian?
"Daaa, ayo!" Ibu memanggilku dengan setengah berteriak dari arah kamar sholat.
"Aaa iya Bu!" mendengar teriakan ibu, aku pun bergegas mengambil wudhu.
***
"Assalamualaikumwarohmatullah... "
Ibu mencium keningku setelah kami bersalaman seusai sholat.
"Kenapa lagi?" tanya ibu menatapku dengan tatapan begitu dalam nan penuh kekhawatiran.
"Tidak apa Bu, dosen pembimbing Nida susah banget diajak ketemu buk. Jadi kesel sendiri sama badmood terus bawaannya nih." jawabku menjatuhkan kepala di pangkuan wanita cantik ini.
"Kak Endah mau berkunjung loh minggu ini " lirih ibu sambil mengelus kepalaku.
"Ha? serius? bawa si gembul Kinan dong kan Bu? "
"Iya sekeluarga, seminggu. "
"Seminggu? asiiiiikkkk."
Om Azlan dan istrinya kak Endah baru menikah dua tahun yang lalu, mereka sudah dikaruniai anak gadis lucu yang sekarang berumur delapan bulan. Dulu cukup sering sebenarnya mereka berkunjung, tapi setelah kak Endah melahirkan dan suaminya naik pangkat, ini adalah kali pertama.
Pekerjaan suaminya sebagai dosen di Malaysia membuat kak Endah menjadi ibu rumah tangga yang sangat sibuk disana.
Setahuku mereka memang tidak mau memiliki babysitter atau pembantu, Padahal suami kak Endah tajir melintir. Mereka juga lebih memilih tinggal di apartemen daripada rumah mewah milik ayah om Azlan.
Kak Endah adalah adik kandung dari ayahku. Lulusan UI, magang di perusahaan besar kenalan ayah di Malaysia lalu menikah dengan orang sana. Meskipun om Azlan asli orang Malaysia tapi beliau dengan baik mampu menyesuaikan diri berbahasa indonesia. Sungguh beruntung adik ayahku yang satu itu.
Kruyukkkk... kruyukkkk...
__ADS_1
"Ehehe, Bu ayo makan," sambil melepaskan mukenah.
Karena ulah cacing di perutku yang meronta minta di isi lagi, aku memilih melanjutkan pembicaraan dengan ibu di meja makan.
***
Nida : Fan, temenin bimbingan dong besok abis zuhur.
Rifan : Gue nggak bisa Da, harus benerin piano nih rusak nih.
Nida : Rusak? gimana bisa?
Rifan : Namanya juga piano tua, lebih tua dari umur kita.
Nida : Ya udah besok aku mau kerumah kamu aja deh.
Rifan : Ngapain? katanya mau bimbingan.
Nida : Mau sungkem dulu sama piano kamu yang udah sepuh hahahaha.
Rifan : kriuk kriukkk renyah amat
Rifan : Iya deh sini main nenek kangen tuu, aku punya ide buat balas dendam ke Hanum sama Dini.
Nida : Mantap benerrrrr, oke.
***
Aku memutuskan untuk mengganti jadwal bimbingan, kebetulan dosen pembimbingku juga sedang sibuk.
Jadi sore ini aku putuskan untuk pergi main ke rumah Rifan, lagipula sudah seminggu lebih aku tidak main ke rumahnya.
Setelah berpamitan dengan ibu, aku melaju dengan motor kesayanganku. Aku memberinya nama vira, hehehe.
"Yahhh bocor nih, mana bengkel lumayan jauh lagi dari sini." ucapku kesal sambil melihat ban belakang.
"Nida, kenapa motornya?" tanya seseorang di dalam mobil.
Ternyata suara itu berasal dari dalam mobil yang di kendarai Zidan.
"Eh Zidan, i.. iya nih hehe."
"Aku tadi mau ke apotik nyari obatnya mamah, kamu mau kemana ayok naik mobil aku aja!"
"Aku mau kerumah Rifan si."
"Rumah Rifan di depan sana kan? ayo sekalian, nanti biar aku telfonin orang bengkel untuk jemput motor kamu."
"Nggak ngerepotin kamu tu?"
"Nggak, santai aja lagi, "
Zidan turun dari mobilnya. Membukakan pintu mobil di depan mempersilakan aku untuk duduk di sebelahnya.
Canggung sekali rasanya. Beberapa detik berada dalam mobil Zidan, aku hanya fokus melihat jalanan di depan.
"Rumah kamu daerah sini juga Da? "
"Iya di belakang sana, ya beda kompleks aja sama Rifan. Btw kamu dari apotik yang di jalan besar disamping gang sana tadi? " tanyaku mencoba mencari topik pembicaraan.
__ADS_1
"Iya, aku iseng aja si lewat sini biar ngga macet, orang jam segini mulai berburu takjil ni hehehe."
"Iya."
Belum tahu jelas di mana Zidan tinggal, aku hanya tahu perusahan besar milik keluarganya memang berdiri dengan sangat luas dan mewah tidak jauh dari perumahan elit di dekat kampus.
Akhir-akhir ini nama bapak Zainal effendi tengah ramai di bicarakan pihak kampus sebagai salah satu investor terbesar dalam setahun terakhir. Dan yang lebih menghebohkan bapak Zainal effendi adalah ayah kandung Zidan.
Kenapa harus naksir anak konglomerat si kamu Nida, bodoh.
"Nida, kamu nggak keberatan kan dengan perkataan aku di perpustakaan kemaren?"
"Hah?"
Zidan menatapku lebih dalam, memastikan jawaban dari raut wajahku yang sudah memerah pastinya.
Nggak perlu di tanyain eh udah dibahas duluan. Aduh mau jawab apa nihhhh!
"K-keberatan gimana?" jawabku gugup sambil mengeratkan kaitan bross di bahu yang menempel pada jilbabku.
"Aku suka sama kamu Nida, aku nggak tau sejak kapan, tapi aku nggak bisa berhenti mikirin kamu."
Ini Zidan yang kesambet apa aku yang kejauhan ngayal.
"Nidaaa..."
"Kamu mikirin apa si?"
Alhamdulillah beneran cuma ngayal
Huhhhhh
"Kamu ngomong apa tadi ehehe aku keinget sama aaa... itu di depan belok kiri Zidan."
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, kembali menatap lurus jalanan, melihat jalan menuju rumah Rifan yang semakin dekat.
"Makasi ya Zidan, sorry banget ngerepotin nih."
"Nida tunggu!"
DEGGG
Apaan lagi si solihin, masih nggak karuan nih detak jantung.
"Aku suka sama kamu Da."
Tatapan Zidan masih menahan langkahku, padahal rumah Rifan sudah di depan mata. Dari teras rumah Rifan saja mungkin bisa terlihat jelas mobil Zidan.
Kenapa harus disini? Apa tidak ada tempat lain untuk mengatakan hal seperti ini?
Aku masih terdiam seribu kata. Mengunci bibir yang memang perlahan mulai kelu.
"Kamu boleh jawabnya kapan-kapan kok Da, aku pulang dulu kalo gitu. Pasti mamaku udah nungguin, hehe daaaah."
Melihat responku seperti itu, Zidan mungkin tau kalau tidak akan mendapatkan jawaban untuk saat itu juga. Zidan memilih untuk pulang mengingat mamanya pasti menunggu obat yang tadi dibeli Zidan dari apotik.
Zidan begitu tampan sore itu, mengenakan kemeja berwarna hitam dengan lengannya yang digulung sampai siku. Wajah sendunya yang menatapku penuh makna.
Bagaimana mungkin untuk tidak menyukaimu juga Zidan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Terima kasih sudah berkenan membaca episode 6 "Mencintai yang hilang"