MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
ASET AYAH


__ADS_3

Beberapa hal tidak perlu kamu tahu agar hatimu utuh, meski hanya untuk waktu tertentu.


***


"Kan nggak ada salahnya kalau lo coba jujur tentang perasaan lo yang sebenarnya ke Nida, nggak perduli gimana tanggapan Nida nanti, itu urusan belakangan."


"Lo selalu pengecut buat ngakuin perasaan lo ke Nida. Selalu sembunyi di balik status sahabat dari kecil, Pan lebih baik jujur atau lo bakal bawa penyesalan dan nggak fokus lanjutin pendidikan musik lo disana! "


Aku masih terdiam tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk menanggapi Doni.


"Ya udah gue cabut dulu deh Pan, lo pikirin bener-bener omongan gue! "


"Nggak nginep? "


"Besok besok deh! "


Setelah mengantarkan Doni sampai pintu depan, aku mengunci semua pintu dan jendela.


Melihat ke kamar nenek, ternyata sudah tertidur pulas.


Aku kembali ke kamar dengan kata-kata Doni yang masih berputar dalam isi kepalaku.


Da, apa lo masih mau sahabatan sama gue kalo gue jujur tentang perasaan gue ke lo yang sebenarnya?


Drrrtttt... Drtttttttt...


"Hallo assalamualaikum, apaan si Da subuh aja belum juga, ngantuk! " jawabku dengan suara parau.


"Fan... F-Fan... "


"Kenapa lo? kok nangis gitu? " terperanjat duduk mengumpulkan nyawa.


"Lo tega ya, kenapa lo nggak bilang sebenernya apa tujuan Zidan deketin gue? maksud lo sengaja memang mau ngehancurin perasaan gue? gue nggak tau masih bisa nggak kita temenan kaya dulu. Gue bener-bener males liat muka lo lagi! "


"Daa tunggu, bukan gitu gue bisa jelasin... "


BRUKKKKK


"Awwww pinggang gue!"


"Fan kenapa nang? udah mau imsak ini ayo sahur, dari tadi nenek panggil panggil nggak nyaut." nenek memanggil setengah teriak dari meja makan.


"Alhamdulillah cuma mimpi."


***


NIDA POV


"Bu, Nida berangkat dulu yaaa!"


"Sama siapa kamu Nduk? "

__ADS_1


"Emmm sama Zidan Bu, nggak apa-apa kan Bu?" tanyaku sambil memasukkan kaki sebelah kiri ke dalam flat shoes.


Ibu hanya tersenyum kecut menanggapi pertanyaanku. Baiklah kuanggap itu artinya boleh-boleh saja.


"Oh iya Bu, nanti kalo Rifan dateng bilangin ya Nida dijemput Zidan. Daaah Ibu assalamualaikum!"


"Waalaikumussalam, hati-hati! jangan pulang larut ya Nduk. Inget, hari ini Kinan nyampe lo! "


"Siapppp Buuuuuuwndaaku! "


***


Setelah seharian menghabiskan waktu di kampus, bergelut di depan laptop, juga kejar-kejaran mencari dosen, aku pulang kerumah diantar Zidan tepat setelah ashar.


Entah sejak kapan kami resmi jadian. Intinya hari-hari konyolku bersama Rifan perlahan berganti menjadi hari-hari penuh dengan kebahagiaan bersama Zidan.


Bagaimana tidak, Zidan selalu memperlakukanku layaknya tuan putri. Ketulusan yang tidak pernah aku temukan sebelumnya terlihat dari matanya.


"Bye Daaa, sampai ketemu besok! salam sama Ibu ya, love you dear."


"Iya, Kamu hati-hati juga yahhh, love you to. "


Jawabku sedikit tersipu sambil melambaikan tangan pada Zidan yang perlahan mulai menjalankan mobilnya.


"Assalamualaikum Ibuuu, Nida pulaaang! "


Tidak ada jawaban salam dari ibu seperti biasanya, tapi tunggu dulu ada suara bayi.


Pantas saja salamku tidak terdengar oleh mereka.


Setelah menyalami mereka satu persatu, aku langsung memeluk dan menciumi Kinan yang sedari tadi sudah mulai mengoceh tidak jelas.


"Ttatatata... ttaaa. " ocehnya tidak jelas.


"Sayang anti mau main ini? "


Tawarku sambil menyodorkan dot berbentuk strawberry miliknya.


"Nanti malam Om ada pertemuan sama temen mendiang ayah kamu, kamu ikut ya Da!"


"Loh aku? ngapain Om? "


"Tahun depan kamu kan sudah selesai pendidikan S1nya, saya harus sampaikan amanah dari persahabatan ayah saya dan ayah kamu ini ke kamu Da! "


Suasana yang semula hangat penuh canda seketika berubah menjadi tegang.


Aku melihat raut kekhawatiran di wajah Ibu, juga kak Endah yang menunjukkan ekspresi serba salah. Terlebih Om Azlan yang kelihatannya berat sekali untuk menyatakan sesuatu yang bisa saja aku tidak siap untuk mendengarnya.


"Ada apa si ini? Ibu sama kak Endah nggak enak gitu ekspresi nya? Om jangan bikin deg-degan dong! "


"Nida, keluarga kalian sebenarnya masih mempunyai hak atas perusahan yang di jalankan salah satu pengusaha terkaya di jakarta. Mereka licik Da, mereka mengambil alih semuanya tanpa memikirkan hak ayah kamu! "

__ADS_1


"Siapa om? aku sama Ibu udah bahagia hidup dengan keadaan seperti ini, toh nyatanya kami tidak pernah kekurangan dan mengalami kesulitan yang berarti untuk mendapatkan sesuatu."


"Da, ini bukan tentang kamu sama Ibumu saja tapi tentang wasiat ayah kamu. " kak Endah menambahkan ucapan suaminya.


Aku masih belum mengerti apa yang sedang dibicarakan keluarga ini sebenarnya. Hingga akhirnya Ibu berusaha memberikan penjelasan.


"Nduk, ayahmu dulu punya sahabat yang kental sekali. Mereka berdua membangun usaha dari nol sampai akhirnya teman ayahmu itu berkhianat dan mencurangi ayahmu. "


"Nida masih nggak ngerti buk! "


"Sehari sebelum meninggal, ayahmu menitipkan surat ini kepada ayah saya dan sekarang tugas saya ngasi ini ke kamu."


Om Azlan menyodorkan selembar kertas usang.


*Nak...


Ayah tidak tau, apakah saat kamu membaca tulisan ini apakah ayah masih ada atau bahkan ayah sudah tidak bisa bersama kamu lagi nak..


Nida anak kesayangan ayah...


Kamu belum mengerti apa yang sedang ayah hadapi nak, untuk membangun keluarga kita dari cemoohan banyak orang ayah perlu menutup telinga rapat-rapat, ayah perlu berkeringat lebih banyak.


Kamu harus tau nak, ibuk sama ayah pernah di posisi tidak memiliki apa apa


Besok ayah akan berusaha mengambil hak keluarga kita nak, kalau ayah gagal...


Ayah minta maaf,


Ayah sangat menyayangi kamu dan ibukmu*.


Aku tidak kuasa menahan tangis setelah selesai membaca surat dari laki-laki yang kebanyakan orang panggil dengan sebutan ayah yang wajahnya saja aku tidak pernah melihatnya.


"Kenapa baru sekarang Om ngasi tau Nida? kenapa nggak dari dulu Bu? kak Endah? kenapa??? "


"Waktu itu ayah saya juga sedang terlunta-lunta mencari pekerjaan kesana-kemari sampai akhirnya beliau memutuskan merantau ke malaysia dan qadarullah Endah berjodoh dengan saya hari ini sehingga kita masih ditakdirkan menjadi keluarga dekat. "


"Sebelum usia kamu menginjak 21 tahun ada hitam di atas putih yang diputuskan sebelah pihak untuk ayahmu."


"Dengan liciknya orang itu membuat perjanjian bahwa setelah kamu berusia 21 tahun baru saham ayahmu akan di alihkan menjadi atas nama kamu. Entah apa maksudnya kami pun tidak mengerti! "


"Di hari ayahmu menulis surat ini dia menyelinap masuk ke dalam gedung perusahaan yang dia bangun bersama temannya. Mencoba bernegosiasi tentang surat yang entah kapan ayahmu menandatanganinya."


"Tapi tuhan berkehendak lain, ayahmu pulang dengan tangan kosong dan pingsan seketika.


"Jadi Ibu bohong kalau ayah meninggal karena kecelakaan? jadi benar kata orang-orang kalo ayah meninggal karena di racun?"


Tidak ada yang menjawab pertanyaanku kali ini. Kinan yang beringsut ke pangkuan ibunya mulai merengek dan menangis karena ketakukan dengan suara bernada tinggi olehku.


BERSAMBUNG...


Terima kasih sudah berkenan membaca episode 9 "mencintai yang hilang"

__ADS_1


__ADS_2