
Ada beberapa hal yang tetap indah dalam pandangan tanpa harus selalu dalam genggeman.
-Rifan-
***
Aku bisa dibilang orang gila jika pulang dengan senyum-senyum sendiri seperti ini, mengingat obrolan-obrolan kecil bersama Zidan di taman barusan, membuatku makin tidak bisa menahan raut wajah senangku.
Aku pulang dengan tepat waktu, beberapa saat kemudian azan Maghrib berkumandang, dengan segera kulangkahkan kaki menuju meja makan.
"Tadi sore Rifan kesini lo nduk" sambil mencentongkan nasi di atas piringku.
"Lah iya Bu? terus Ibu bilang Nida pergi ketemu Zidan? dia nggak marah kan Bu?" tanyaku sedikit cemas.
"Anu... dia bilang apa ya tadi, masalah piano apa ya? Ibu nggak terlalu denger. Orang Rifan mah cuma nyampe teras depan terus langsung pulang."
Aku tersentak dan langsung lari menuju kamar meninggalkan ibu di meja makan. Aku merogoh hp yang masih berada di dalam slingbag yang kupakai tadi sore. Terduduk di samping tempar tidur dan fokus pada layar hp, tertuju pada sebuah nama di kontak whatsapp "Rifan".
"Bagaimana bisa aku lupa, dasar teledor!"
Hari ini adalah jadwal tes bermain piano terakhir Rifan. Hari yang menentukan beasiswa pendidikan musiknya, hari penentuan Rifan terpilih atau tidak untuk melanjutkan pendidikan musik di Swiss.
Aku bisa gila melewatkan hal paling penting Rifan yang satu ini. Padahal sudah jauh hari aku berjanji akan menemaninya.
Rifan memang sangat suka musik, dua tahun terakhir dia sangat fokus melatih kemampuan bermain pianonya. Rifan sangat ingin melanjutkan cita-cita mendiang ibunya yang ingin menjadi pianis. Namun sayang, ibu dan ayahnya kecelakaan diperjalanan pulang dari luar kota.
Tinggal hanya bersama dengan neneknya, membuat Rifan sangat mengejar beasiswa. Meskipun neneknya masih tergolong mampu mencukupi kebutuhan cucu kesayangannya itu, tetap saja laki-laki sok-sok an itu selalu ingin segera bisa menghasilkan uang sendiri dan tidak menyusahkan neneknya lagi.
"Bagaimana ini? kali ini persahabatanku dengan Rifan sepertinya benar-benar tamat." menepuk dahi.
Berdering...
"Bodoh nya kamu Rainida saqeena. Jam segini kan Rifan sholat maghrib dulu biasanya." ucapku kesal sambil membanting hp ke tempat.
"Nduk... ada apa? nanti keburu abis waktu maghrib, kamu belum minum kan tadi, " ibu memanggilku dari meja makan.
Aku keluar dari kamar dengan wajah lesu setengah ingin menangis.
"Bu, kenapa nggak ngingetin Nida? hari ini Rifan les terakhir penentuan beasiswa pendidikan musiknya di Swiss." keluhku pada ibu.
Bulir air mata itu jatuh, aku tidak peduli pada cairan yang perlahan membasahi pipiku itu.
"Sudah, buka puasa dulu. Nanti coba hubungi Rifan lagi ya, Ibu nggak yakin kalau dia marah."
***
Rifan : Woy somplak! kenapa dah nelpon magrib-magrib begini? ngga sholat lo? dih temenan sama setan sana! hahahahaaa.
"Huhhhhhhh"
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang, sangat panjang. Untung laki-laki tidak jelas ini tidak marah padaku,
"Yailah, gue pikir lo marah." ucapku langsung menelpon Rifan.
Rifan tidak menjawab, hanya ketawa kecil yang kudengar.
"Da, kita ngga punya banyak waktu, gue..."
"Kenapa? Fan, sumpah ya demi Allah gue nggak sengaja buat ngelupain jadwal lo tadi sore. Gue tau ini momen yang penting bagi lo, gue juga tau aku pasti udah bikin lo kecewa, maafin yah maafin dong tolong, gue janji bakal nraktir mi ayam sepuasnya deh di kantin kampus selama sebulan besok, janji! "
"Da, lo inget nggak janji gue pas waktu kecil lo hampir jatoh dari atas rumah pohon?"
"Mau becanda ya lo?"
"Inget apa nggak? tinggal jawab juga!"
"Iya inget, muka lo jelek banget waktu itu serius deh ahahahaha kaya nahan kebelet."
"Itu kan karena lo yang berat Da,"
"Da, gue nggak bisa nepatin janji untuk ngelindungin lo selamanya, tapi gue masih bisa kok tepatin janji yang satu lagi, gue akan jadi sahabat lo selamanya."
"Lo ngomong apa si? nggak ngerti."
"Waktu gue nggak sampai sebulan lagi disini untuk berangkat ke Swiss."
"Becanda dih nggak lucu ya Fan, lo kan masih skripsian taun depan kan kita bakal wisuda bareng, dih, ngaco!"
"Gue pengen banget langsung cerita ke lo tadi, nggak lewat hp begini. Tapi ya udahlah nggak apa-apa juga. Kita lanjutin ngobrolnya besok ya, gue mau teraweh dulu nih, dahhh!"
Aku terdiam dengan hp yang masih kutempelkan pada daun telingaku. Aku senang, senang sekali akhirnya apa yang selama ini Rifan impikan akan jadi kenyataan. Tapi haruskah secepat ini, apa aku siap kehilangan tempat ceritaku? bahkan kami tidak pernah berjauhan lebih dari satu bulan. Itupun sebab Rifan mudik lebaran tiap tahun.
Walau bagaimana pun aku sadar kami akan segera berpisah karena S2 ku yang rencananya ingin ke malaysia sedangkan Rifan yang selalu gigih melanjutkan sekolah musiknya.
***
Di perpustakaan kampus.
"Woy! iya deh Bu Dosen, serius amat belajarnya." kejut Rifan dari arah belakang yang langsung duduk disebelahku.
"Iiih kaget dong jelek." ujarku kesal sambil menampol lengan kirinya dengan buku kalkulus tebal beberapa kali
"Shutttt, di perpustakaan nggak boleh berisik tau!" dengan mengarahkan telunjuknya tepat di depan bibirku.
"Iiiiiiii, rasainnnnn." sebagai bentuk balas dendam, langsung kugigit jari telunjuknya.
"Sakittt aduh, cewe gila!" respon Rifan kesal sambil mengibaskan jari telunjuknya.
Aku tertawa puas, sekarang kami berdua menjadi pusat perhatian para pengunjung perpustakaan karena sudah membuat keribuatan.
__ADS_1
"Pacaran jangan disini kali!" semprot Hanum yang sudah dari tadi sinis bersama beberapa temannya yang juga sedang membaca buku.
"Sorry udah bikin keributan, selamat membaca semua." ucapku merasa bersalah.
Dengan santainya, Rifan masih sibuk mengurus telunjuk sialnya yang menimbulkan keributan tadi.
"Lo memang nggak punya rasa bersalah ya?" sambil menoyor dahi Rifan.
"Kan lo yang bikin ribut." jawab Rifan dengan sotoy.
"Serah dah, lagian mit amit banget dah dibilang kita kaya orang pacaran."
"Iya deh yang sekarang udah punya pacar beneran. Aku mah apa atuh, udah nomor 1257 di hidup lo." sindir Rifan, aku tau arah pembicaraan ini.
Aku tertegun, langsung teringat obrolan kami via telpon kemarin malam sehabis maghrib.
"Ngapa dah tiba-tiba ngeliatin gitu, Da kita cuma temenan, masa lo mau ngapa-ngapain gue, gaboleh Da... dosaa! "
"Fan, lo bohong kan soal pendidikan musik lo? kalo nggak ada sebulan lagi lo berangkat, masa iya mau lebaran disana? baru juga puasa berapa hari ini. " tanyaku serius seakan tidak menggubris candaan Rifan.
"Ini nih sakit telunjuk gue, liat tuh ada jigong lo nempel lagi, jorok banget."
"Jawab atau gue pergi ni?"
"Eits, iya gue jawab. Kalem dong! selow kaya di pulau! "
"Iya mau gimana udah prosedurnya, udah izin ke nenek baik-baik kok dan nenek ngasi izin."
"Lagian kan sekarang lo udah ada... "
"Lo sama Zidan punya posisi yang berbeda. Kalian punya ruang sendiri-sendiri di hidup gue dan gue belum pacaran kali sama Zidan"
"Alhamdulillah."
"Kok alhamdulillah? "
"Ya syukur ngga satu ruangan sama Zidan. Bisa-bisa kami adu tinju nanti dan syukur kalo bisa nggak usah pacaran sama dia ahahaha. nggak nggak becanda... terserah lo si, kan kita juga udah sama-sama dewasa, masa gue harus ngurusin masalah perasaan lo kan?"
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, ngga penting tau! nanti kalau gue mau cerita, masa harus pake nelpon segala? pasti lo bakalan sibuk kan? jangan-jangan lo nanti udah nggak mau sahabatan sama gue,"
"Yaelah Da, menurut lo serendah itu level pertemanan kita? kan cuma dua tahun, lo kan juga bakalan ambil S2, ya nanti kalau udah ada rencana mau nikah atau nggak lo yang ngebet nikah sama Jidan eh Zidan lo itu, kabarin aja. Gue usahain dengan seluruh kekuatan jiwa dan raga untuk bisa pulang ke indonesia, ngasi selamet sekalian numpang makan gratis."
"Tapi... "
"Haii, boleh nimbrung nggak nih? " sapa Zidan yang tiba-tiba mengejutkan pembicaranku dengan Rifan.
"Eh boleh... boleh, duduk aja bro! anuu Da, gue mau ketemu Doni dulu ya! dia minta ditemenin ketemu sama dosen, mau bimbingan. Oke bro, gue duluan ya, daaaah" Rifan seolah tidak ingin berlama-lama melihat Zidan dan langsung meninggalkan kami berdua.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Terimakasih sudah berkenan membaca episode 3 "Mencintai yang hilang"