MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
HARUS KETEMU


__ADS_3

*N**ama yang sudah mengakar tetap mampu dirasakan meski tak selamanya kelihatan*.


***


Si Rifan makin ganteng aja dari luar negeri.


Hanum memandangi Rifan dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Nampaknya, ia mulai tertarik dengan pesona Rifan yang semakin tampan dan rapi penampilannya sepulang dari Swiss.


"Kamu udah balik Fan? tanya Hanum genit sambil memainkan anak rambut di keningnya.


Ni anak cacingan apa gimana si? Bukannya napsu yang ada pengen muntah gue. Nggak inget kali dia pas gue lemparin ransel ke mukanya sampe merah kaya kepiting rebus.


"Iya tadi pagi, eh selamet deh lo udah sarjana! " Rifan mengucapkan selamat kepada Hanum tanpa mengalihkan pandangannya berusaha tetap fokus ke arah Lily berdiri.


"Iiihh Rifan, kok pake lo gue si? pake aku kamu dong biar lebih akrab hehe." pinta Hanum pada Rifan.


Rifan nyengir kuda menanggapi permintaan Hanum untuk menggunakan panggilan aku kamu yang menurutnya menjijikkan, "Eh Num gue mau ke sana bentar lo bisa minggir dikit nggak? " Rifan masih berusaha sopan meminta Hanum memberi ruang untuknya lewat.


"Eh eh tunggu dulu Fan," cegah Hanum sambil menahan kedua bahu Rifan agar tidak meninggalkannya.


"Num, sorry!"


Tidak ingin berlama-lama lagi meladeni Hanum yang memang berusaha mengulur waktu, Rifan meninggalkan Hanum begitu saja.


Hanum nampak begitu kesal, kemudian hilang begitu saja dalam keramaian. Beruntung, Hanum tidak membahas apapun tentang Nida pada Rifan.


"Oyyyy sombong banget yang di belakang nama udah ada gelar, Lilyan Natasya, S.Si selamet dahhh cantik amat sik! "


Ly tenang Ly, Nida udah nggak ada disini. Bersikap biasa aja sama Rifan Ly.


"Eh orang jauuuuhh! kapan pulang nih? masa ke wisudaan temen cuma bawa tangan kosong? "


"Enak aja, nih gue bawa tiga, ini buat lo... " ucap Rifan sambil mengulurkan paperbag kecil berisi miniatur kayu.


"Apaan nih? wiiiii lucu banget ini, gemes! "


Lily merasa sangat senang melihat isi paperbag dari Rifan, miniatur berbentuk wanita memakai toga lengkap dengan ukiran nama Lily di selempangnya. Seperti wanita pada umumnya yang menyukai benda-benda kecil yang menggemaskan. Rifan sengaja memesan miniatur kayu tersebut sejak lama di Swiss. Tadi nya Rifan berniat menggunakan jasa jastip untuk mengirimkannya ke Indonesia, tapi kebetulan sekali ia mendapat libur selama seminggu. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk sekalian menemui orang-orang tersayang dan sangat pas dengan momen wisuda teman-temannya.


"Nah ini buat si kampret Don... "


Belum sempat Rifan menyelesaikan omongannya. Doni datang dari belakang Rifan dan langsung bergelayut di punggung Rifan seperti anak kecil yang minta di gendong ayahnya.


"Anjirrrrr rapi banget lo, biasanya juga pake kaos oblong sama boxer! " ucap Doni dengan posisi masih menempel pada punggung Rifan.


"Berat kampret lo, turun-turun dihh!"


"Yaelah gue kan kangen sama sahabat gue yang udah bermetamorfosis jadi pria dewasa, tampan nan seksi ini. "

__ADS_1


"Jijik gue sama lo Don sumpah, dihh sana jauh jauh lo! "


"Wiii apaan nih? buat gue kan? " tanya Doni mengambil paksa paperbag yang masih berada di genggaman Rifan.


"Iya buat lo,"


"Ini satu lagi buat Nida. Nida mana? kok nggak sama kalian? " tanya Rifan kali ini sambil mengangkat paperbag yang akan di berikan pada Nida.


Doni dan Lily saling berpandangan, keduanya menelan ludah masing-masing. Tatapan mereka seakan memberi kode untuk segera mengalihkan pembicaraan.


"Duhhh sakit perut, laper banget perut gue! makan yuk Pan! lo laper juga kan Ly? " sangkal Doni sambil memegangi perutnya berpura-pura.


Doni mengedipkan satu matanya ke arah Lily.


"Lo sakit perut apa sakit mata si Don? " tanya Rifan curiga.


"Sakit perut larinya ke mata, pandangan gue jadi nggak jelas gini nih, tuhh tuhhh kan! "


Celoteh Doni semakin menjadi-jadi, terus mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar Rifan tidak menanyakan Nida. Lily yang tidak tau harus berbuat apa hanya tersenyum kaku melihat ulah Doni.


"Ly, "


"A-apa Fan? "


"Mana Nida? "


"Dia balik duluan sama Bu Hanna, " jawab Doni menutupi kegugupan Lily.


"Yah, nggak seru banget. Lagian belum juga acara bubar cepet amat balik? " Rifan kembali bertanya sambil melihat jam tangan di lengan kirinya.


"Dia... "


"MULES!" "CAPEK!"


GLEKKKKK


******!


Batin Lily dan Doni kembali saling berpandangan.


Bingung dengan jawaban serentak yang berbeda dari Doni dan Lily, Rifan mengernyitkan dahi merasa memang ada keanehan pada mereka berdua.


"Lo berdua nggak lagi berusaha nutupin sesuatu kan? " tanya rifan semakin curiga.


"N-nggak kok, nggak kan Ly? "


"Iya nggak kok Fan! " timpal Lily.

__ADS_1


"Jadi Nida mules apa capek? "


"Sekarang gini deh, gue nggak minta belas kasihan kalian berdua. Tapi coba deh kalian pikirin wajar nggak sih kalau di posisi gue ini selalu bertanya-tanya? gue nggak ngerasa nyakitin Nida, tapi kenapa kayaknya semua orang justru berusaha ngejauhin gue sama Nida? seakan-akan gue ini bakal bikin Nida celaka bahkan untuk sekedar komunikasi lewat hp aja gue nggak bisa. "


Keadaan jadi hening dalam keramaian setelah Rifan berkata demikian pada Lily dan Doni. Keduanya tidak menjawab, hanya diam menunjukkan ekspresi bersalah juga merasa apa yang Rifan bicarakan itu benar.


"Setahun Don, udah setahun semenjak hampir dua puluh tahun terakhir, dari gue brojol dari mamah Nida brojol dari Bu Hanna, kami nangis pertama kali di dunia aja barengan Ly! gue sama Nida sama sama anak tunggal dan itu bikin persahabatan kami tu udah bener-bener kaya sodara kandung! lah sekarang tiba-tiba tanpa gue tau alasannya, Nida ngejauh tanpa alasan dan kalian juga nggak ada sedikitpun mau bantu memperbaiki hubungan persahabatan gue sama Nida! salah gue dimana? tunjukin tolong! "


***


Sepulang dari acara wisudaan dengan terburu-buru, Nida dan Bu Hanna sudah selesai membersihkan diri dan beristirahat di depan tv.


"Bu..." Nida memanggil Ibunya pelan.


"Iya Nduk, kenapa sayang?


"Apa Nida salah bersikap seperti ini ke Rifan? "


"Semua keputusan ada di tangan kamu Nduk? " ucap Bu Hanna menenangkan Nida sambil menggenggam tangan Nida.


"Apa memang udah saatnya Rifan tau yang sebenarnya Bu? "


Bu Hanna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Nida kali ini, dengan tangan yang masih menggenggam tangan Nida.


"Nida masih dihantui rasa bersalah Bu, "


"Nida tau nggak, dulu ayah kamu itu orang yang paling bertekad kuat untuk memperjuangkan Ibu. "


"Apa hubungannya ayah sama Rifan si Bu? hehe. " tanya Nida sambil terkekeh.


"Ya ada dong hubungannya, pertama mereka sama-sama laki-laki, " jawab Bu Hanna berusaha melucu.


"Ibuuuu! " Nida berusaha meraba pinggang Bu Hanna ingin mencubit gemas atas jawaban yang menyebalkan.


"Lah kan bener dong Ibu? hehe. Ayahmu itu udah Ibu cuekin berbulan-bulan pokoknya Ibu udah nolak mentah-mentah pas Ayahmu ngajakin Ibu nikah tapi dia tetep aja ngejar-ngejar Ibu, baik-baikin Ibu. Ya kaya kamu kalo lagi ngambek ke Rifan tapi Rifan selalu aja baik-baikin kamu duluan kan? nggak pernah balik ngambek kan? "


"Jadi jelas dong keras kepala Nida nurun dari siapa? "


"Ceritanya mau balik menyudutkan Ibu ni? "


Tokkk... Tokkk... Tokkk...


"Assalamualaikum! "


BERSAMBUNG...


Terima kasih sudah berkenan membaca episode 21 "Mencintai yang hilang"

__ADS_1


__ADS_2