MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
PULANG


__ADS_3

Maaf jika selalu membuatmu menunggu, aku akan menemuimu. Berjanjilah tetap seperti dulu.


-Rifan -


***


"Alhamdulillah... lega banget denger kabar beginian, kok bisa ya tiba-tiba langsung nyebar di tv gitu aibnya keluarga Jidan hahaha"


"Karma kali, ya udah gue tutup ya bor! "


"Eh tunggu, dari kemaren gue ngerasa lo ngehindar pas gue tanya tentang Nida, kenapa? ada sesuatu yang kalian tutupin? "


"E-enggak kok! nggak ada. "


"Terus kenapa lo selalu ngga jawab pas gue nanya gimana respon Nida liat video dari gue? "


"Pan, N-nida cuma bilang lo mesti fokus sama belajar lo di sana, kami semua kangen permainan piano lo. Cepet balik, buat kami bangga, kami selalu setia doain dan nungguin lo! Nida cuma b-bilang gitu Pan! "


Doni terpaksa berbohong pada Rifan karena sudah tidak ada alasan lain lagi untuk menghindar.


"Cuma gitu doang? hah? ngga ada embel-embel lain apa kek setelah gw ngomong panjang kali lebar begitu, ngga ada akhlak emang si Nida, bisa-bisa nya nyuekin gw sampe begini! hahahaha. "


"Hehehe. " Doni berusaha ikut tertawa hambar.


Selesai mengabari Rifan, Doni dan Lily kembali menjalani rutinitas seperti biasanya. Lily sibuk dengan skripsinya dan Doni dengan buru-buru mendapat job ng-mc di acara peresmian kantor ayah temannya.


Setahun telah berlalu.


Tahun yang begitu berat tanpa ada sedikitpun kabar dari Nida, bahkan Rifan merasa Nida benar-benar hilang dari hidupnya. Tidak ada saling menyemangati ataupun sekedar ucapan ulang tahun untuk dirinya. Padahal dengan susah payah ia berusaha minta maaf meskipun tidak tau pasti kesalahan yang telah diperbuat dengan membuatkan video di hari ulang tahun Nida.


Ya, hari ini ulang tahun Rifan.


"SURPRISE! "


Rifan yang sedang menatap kosong layar laptopnya dibuat terkejut dengan kedatangan Novia.


"Novia haduhhh kamu hampir aja bikin aku serangan jantung! " ucap Rifan lemah sambil memegangi dadanya.


"Hihi sorry, happy birthday Fandi... this is special for you! "


Ucap Novia menyodorkan kue coklat berbentuk hati lengkap dengan tulisan "HAPPY BDAY FANDI"


Setahun terakhir Rifan begitu berteman akrab dengan Novia, dengan sabar Novia selalu berusaha mencari perhatian Rifan. Sayangnya, Rifan tidak peka akan usaha Novia.


"Bagaimana kamu tau hari ini ulang tahunku? ini sudah malam sekali Nov!" Rifan melirik jam dinding yang menunjukkan hampir 01.00 dini hari.


Rifan memang tinggal serumah dengan beberapa teman laki-lakinya tapi dengan kondisi rumah yang cukup luas mereka menghuni kamar sendiri-sendiri dan hanya berkumpul di waktu tertentu saja.


"Kamu tidak perlu tahu itu, sekarang kamu harus make a wish, lalu meniup lilin ini sebelum ia habis meleleh, ayo cepat! "


Rifan menutup matanya rapat. Menarik nafasnya dalam-dalam.


*Terima kasih ya Allah,


Atas nikmat umur, nikmat kesehatan yang sudah engkau berikan.

__ADS_1


Tidak banyak yang saya minta ya Allah, saya ingin pulang sebentar saja ke indonesia


Untuk sekedar memeluk nenek


Dan


Menemui Nida.


Jadwal yang padat ini membuat saya tidak punya banyak waktu untuk selalu menghubungi mereka via telfon.


Aamiin*.


"Fffuuuuhhh! "


"Yeyyy! "


"Apa kamu tau kalau kita akan diberi libur selama seminggu? "


"Ha? aku ngga tau Nov. Libur dalam rangka apa? bukannya kita harus mengejar target untuk menyelesaikan pendidikan kita ini akhir tahun, bukankah kita tidak bisa bersantai-santai?"


"Iya tapi sebelum kita disibukkan dengan kelas yang lebih berat yang lebih menguras tenaga nanti kita di bolehkan pulang ke negara kita masing-masing lagipula kita sudah genap setahun kan disini . Ayo kita pulang ke negaramu!"


"Ke Indonesia? kamu mau ikut aku pulang ke Indonesia ?"


"Iya, apa tidak boleh? kenapa tidak boleh? " tanya Novia semakin menuntut.


"E-ee b-boleh boleh. "


"Baiklah, apa malam ini aku boleh menginap?"


"Hah? a-apa? m-menginap? mmmm"


Rifan hanya menggaruk tengkuk dan tersenyum salah tingkah.


"Nov boleh aku nanya?" Rifan memberanikan diri mengungkapkan tanya yang selama ini disimpannya sendiri.


"Tentu, tanya saja. " Novia mempersilakan Rifan sambil melahap kue yang sedang di potong.


"Apa menurutmu aku tidak seperti laki-laki?"


Novia tercengang bingung mendengar pertanyaan Rifan. Berhenti mengunyah dan menatap Rifan dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Bukan bukan, bukan itu maksudku." jawab Rifan gugup membela diri.


"Aaa santai saja, aku mengerti Fandi. Mungkin kamu seperti ini karena keyakinan kamu kan? bukankah agamamu memang melarang umatnya minum alkohol lalu ya seperti teman laki-laki ku pada umumnya yang suka menyewa wanita bayaran hanya untuk bersenang-senang, benar seperti itu bukan? "


Lagi-lagi Rifan menggaruk tengkuknya mendengar jawaban Novia.


"Apa kamu tidak ingin makan kue ini, ini enak! coba buka mulutmu aaaa! "


Novia yang sedari tadi melahap kue ulang tahun Rifan terlihat tidak begitu menghiraukam pertanyaan-pertanyaan Rifan.


Justru ia bermaksud menyuapi Rifan.


"Nanti saja, kenapa kamu bisa tau tentang agamaku? "

__ADS_1


"Entahlah, mungkin karena kakekku seorang muslim! "


Rifan hanya tersenyum melihat Novia yang terus melahap kue coklat yang dia bawa sendiri.


*Setidaknya disini aku punya temen sebaik kamu Nov, meskipun kita ngga satu keyakinan tapi kamu sangat baik.


Ehh tunggu tunggu! kalau ada kesempatan aku harus ngenalin kamu ke Doni*.


"Terima kasih Novia kamu sudah mau menjadi temanku."


Rasanya sakit sekali mendengar ucapan Rifan, Novia sangat berharap hubungannya dengan Rifan akan lebih dari sekedar teman. Tapi ia kembali mencoba menyadarkan diri, bagaimana mungkin Rifan membalas perasaannya. Rifan laki-laki yang taat agama dan sepertinya dia telah memiliki seseorang yang spesial dihatinya.


"Baik, aku sudah kenyang. Aku akan pulang! "


"Biar aku antar!"


"Rumahku tidak jauh dari sini, tidak perlu Fandi."


"Ayolah, aku tidak akan membiarkan wanita cantik jalan sendiri malam-malam begini! "


"Benarkah? apa aku cantik? "


"Tentu, kalau melihatmu sambil memejamkan mata hahaha! "


"Menyebalkan sekali kamu Fandi. "


Setelah pulang dari mengantarkan Novia, Rifan menyimpan kue dari Novia kedalam kulkas. Ia hanya mencuil sedikit krim coklat untuk merasakan kue yang katanya enak tadi. Membersihkan muka dan memposisikan diri untuk segera tidur.


"Pulang? hmmm tapi tabunganku mana cukup! "


Ucapnya pada diri sendiri menatap langit-langit kamar.


Ting


Notifikasi whatsapp


Novia : kita akan berangkat lusa, akan ku pesankan tiket. Biar aku saja yang membelinya, anggap saja ini hadiah ulang tahunmu dariku. Aku akan tinggal di hotel beberapa hari bersama dady, kebetulan dady ada urusan juga di sana. Nanti kamu harus mengajakku jalan-jalan. Berjanjilah!


"Ya Allah cepet banget dikabulin doa hamba, terima kasih ya Allah hamba di kasi pulang ke indonesia, gratis lagi, alhamdulillah " ucap Rifan girang sambil menengadahkan tangan kemudian menangkupkannya ke ke wajah.


*Dinda,


Aku akan pulang


Masihkah kamu menunggu


Sementara kabarmu lama tidak sampai padaku


Tunggu,


Sebentar lagi.


Puisi untuk Dinda dari Devan*.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Terima kasih sudah berkenan membaca episode 18 "Mencintai yang hilang"


Wuff youuu


__ADS_2