
Maaf, untuk yang tak lagi bisa terbentuk seperti semula dan untuk mata yang tidak lagi mampu menatap.
-Zidan-
***
"Sampe kapan kita mau rahasiain kondisi Nida dari Rifan? "
"Gatau Ly, gue pusing mikirin mereka berdua pfttt." jawab Doni pasrah sambil menangkupkan kedua tangan di wajahnya.
"Ya udahlah besok dipikirin lagi, udah sore. Kalo nggak pulang sekarang nanti kemaleman! "
Untuk pertama kali Doni mengantarkan Lily pulang kerumahnya.
***
Azlan dan Endah yang sudah genap tiga hari berada di indonesia memutuskan untuk pulang pagi ini.
Mereka semua sudah bersiap-siap dan berkumpul di ruang keluarga. Tinggal menunggu pesanan grab datang.
"Hati-hati ya Ndah, terimakasih sudah mau menemani lebaran disini. " ucap bu Hanna.
"Nggak apa-apa Mbak, lagian memang Mas Azlan lagi pengen lebaran di sini kok! "
"Iya Mbak, dalam waktu dekat main ke rumah kami Mbak, saya atur jadwal biar bisa bawa kalian jalan-jalan di sana. Sudah lama sekali kalian tidak main ke Malaysia, sejak Nida SMP bukan? " timpal Azlan menambah jawaban istrinya.
"Iya om, kangen main hehe."
"Ya sudah kalian baik-baik disini, terapi tetap semangat seperti biasa. Om yakin kamu bisa melihat lagi nanti Da! kamu juga harus yakin itu! "
"Inysaallah Om, Aku mau cium Kinan dong! "
Endah pun membantu Nida untuk mendekatkan wajah pada pipi gadis mungil yang sedang berada di gendongannya itu.
"Mmmmuah sayang anti jangan nakal sama Umma sama Aba ya nak, besok kapan-kapan anti main kerumah Kinan. Doain anti biar bisa ngeliat lagi, ngeliat kamu yang gemes ini yaaaa! "
Grab yang mereka pesan sudah datang tepat memarkirkan mobil di depan pagar rumah Nida.
Sebenarnya Nida sedih karena rumahnya akan kembali sepi hanya ada dia dan bu Hanna. Tidak ada lagi ocehan lucu dari Kinan. Semua itu tentu semakin membuatnya kembali teringat tentang segala yang telah menimpanya belakangan ini.
Sambil melambaikan tangan pada Kinan yang sudah berada di dalam grab Nida hanya membatin.
*Takdir memang tidak selalu menggembirakan,
Di umurku yang genap 20 tahun kemarin
Tuhan mengambil indra penglihatanku
Marah? iya, sangat marah
__ADS_1
Pada diri sendiri yang tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Kecewa? teramat kecewa.
Telah menyia-nyiakan sesorang yang harusnya hari ini berada di sampingku, menyemangatiku, melindungiku, menjadi sahabatku selamanya.
Merasa bodoh? iya, sampai aku tidak berani menatap wajahku sendiri.
Syukurlah setidaknya aku memang tidak akan lagi bisa bercermin.
Akan sangat sakit rasanya melihat aku yang sedang dalam proses menghancurkan diri sendiri waktu itu.
Ayah, ibu!
Apa yang akan kau lakukan Nida, kamu anak satu-satunya dan hari ini kamu benar-benar tidak berguna.
Bukannya membahagiakan ibuk, justru menambah beban hidupnya.
Apa kamu membayangkan bagaimana perasaan ayahmu jika mengetahui kondisimu saat ini Da*?
"Nduk, sudah belum? ayo masuk udah mulai panas ini. "
"Nida mau berjemur di halaman sebentar ya Bu, Ibu masuk duluan Nida nggak apa-apa kok! "
"Iya deh, nanti panggil Ibu ya kalau sudah puas berjemurnya Nduk!"
***
Semenjak makan bersama di cafe sore itu Lily dan Doni tampaknya semakin akrab. Bahkan keesokan harinya mereka sudah janjian untuk makan di kantin kampus. Tidak lain untuk membahas solusi bagaimana caranya agar Rifan tidak terus bertanya-tanya tentang Nida. Tapi siapa menyangka topik pembicaraan mereka jadi melebar kemana-mana.
"Don! "
Teriak Lily yang sudah duluan sampai dan duduk di kantin.
"Oy! " sahut Doni langsung menghampiri.
"Kita udah dua kali nih ketemu karena laper, jangan sampe tiga kali, bahaya! " ujar Doni serius sambil meletakkan ranselnya.
"Bahaya kenapa? " tanya Lily bingung.
"Kalo udah tiga kali kata orang nanti bisa jatuh cinta! "
"Yeilahh gombalannya, kayaknya udah pro banget nih masalah godain cewe."
"Sia...!"
"Apa? sialan? mau bilang sialan? "
"Nggak nggak gue cuma bilang kata-kata begitu ke Ipan ke geng mabar ke temen cowo ke bencong yang suka nyetop tiba-tiba di lampu merah sama... sama apa ya?"
__ADS_1
"Sama cewe yang udah nolak lo mentah-mentah? hahahhaa"
"Dih tau dari mana lo? "
"Ada deeeeh, tuh cewe yang kita maksud duduk di meja sebelah tuh! "
"Tau dari mana si, bikin penasaran aja. "
"Kepo ahahaha. "
Keadaan kantin tidak begitu ramai, mungkin sedang banyak yang masuk kelas pagi. Entah kebetulan atau takdir Hanum dan Dini juga sedang sarapan di kantin.
Kantin kampus yang satu ini tempatnya tidak terlalu luas tapi paling banyak di sukai karena makanannya enak dan harganya miring di kantong mahasiswa juga tempatnya yang strategis mudah dijangkau dari berbagai gedung fakultas.
Terpajang sebuah tv berukuran 14 inc di sudut kantin, biasanya chanel yang ditayangkan membahas kegiatan-kegiatan kampus. Chanel tv di seluruh kantin kampus di kendalikan oleh mahasiswa jurusan komunikasi dan informatika.
Laporan Aini Wahida, komunikasi angkatan 2019.
Kami melaporkan bahwa bapak Zainal Effendi salah satu investor terbesar yang telah menjalin kerja sama dengan kampus kita ini di ketahui sedang terjerat kasus korupsi raksasa pada proyek baru di daerah kalimantan. Jumlah kerugian di perkirakan mencapai Rp. 450 milyar . Putra dari bapak Zainal Effendi belakangan ini diketahui merupakan mahasiswa semester akhir di kampus ini juga yang berinisial ZZ.
Akibat kejadian ini kampus kita juga mengalami imbas kerugian yang di perkirakan sebesar Rp. 75 milyar, bahkan rencana pembangunan gedung rektorat yang baru terancam mengalami kegagalan.
Sekian laporan dari saya Aini Wahida, sampai bertemu di berita terkini selanjutnya.
"Brukkhhh! " Doni menyemburkan air mineralnya hampir mengenai Lily.
Mereka yang berada dalam kantin seketika tercengang melihat berita yang baru saja tayang di tv.
"WHUT! MY BABY ZIDAN? NGGA MUNGKIN ITU ZIDAN KAN DIN? "
"Nggak Num nggak mungkin lah, lo tenang duduk dulu. Ini minum nih! "
Lily dan Doni saling bertatapan.
"Satu kampus juga tau kalo pak Zainal Effendi itu Bokapnya Jidan! harus seneng apa gimana ya ini aduh saking kagetnya jantung gue Ly! "
"Kelakuan cewe impian lo tuh, hehehe. Eh tapi syukurlah udah kebongkar satu persatu kejahatan keluarga Zidan, nggak nyangka ya Don tampangnya baik begitu aslinya jahat sampe ke bapaknya juga jahat ternyata. "
"Iya eh nggak nggak tampang nya tu nggak sebaik yang kalian para ladies liat, hanya kami kaum adam yang bisa ngeliat kejahatan yang tersirat di muka Jidan, nah kan terbukti juga semua kata-kata Ipan. Sayangnya semua udah terlambat untuk Nida hmm."
"Meskipun kemungkinannya kecil, gue yakin Nida bisa sembuh gatau kenapa gue bisa seyakin ini. "
"Iya kita doain aja yang terbaik buat Nida juga buat Ipan. "
"Cepetan kasi tau Rifan Don! " pinta Lily pada Doni.
BERSAMBUNG...
Terima kasih sudah berkenan membaca episode 17 "Mencintai yang hilang"
__ADS_1