MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
LILY DONI


__ADS_3

Halloooo readers, di episode ini kita istirahat dulu ya sama permasalahan Nida dan Rifan. hihi


Manjain pipi biar ga teganggg teros. Semoga sukaa! happy reading!


Karena aku mengerti, berada di dekatku hanya akan semakin membuat hatimu terluka. Maka berbahagialah, tapi tidak bersamaku.


***


Hari yang harusnya menjadi hari bahagia untuk Nida berakhir dengan tidak semestinya.


Siapa yang menyangka kalau Nida bahkan tidak lagi ingin mendengar suara Rifan. Matanya begitu menyimpan kesedihan yang tidak mampu diungkapkan.


Doni pulang berpamitan dengan keluarga Nida, begitupun dengan Lily.


Keluar dari rumah Nida, Doni dan Lily saling terdiam.


"Ly makan yuk laper! " ajak Doni spontan.


"Udah sore gini emang sempet? " jawab Lily sambil melihat jam tangan di lengan kirinya.


"Bentaran doang, yuk! "


Segan menolak ajakan Doni, Lily yang tadinya memesan grab pun meng-cancel pesanannya.


Setibanya di cafe.


"Loh lo suka makan di sini juga?" tanya Lily sambil melepaskan helm di kepalanya.


"Iya, dulu lagi pas sama Rifan tiap nugas mah disini." jawab Doni yang hendak melangkah masuk ke dalam cafe.


Lily masih kesulitan membuka helm yang merekat di kepalanya.


"Kenapa Ly? " menoleh kebelakang dengan tatapan heran pada Lily yang masih mengotak atik tali helm di dagunya.


"Helm lo tu memang susah gini ya? "


Doni terkekeh mendengar pertanyaan Lily yang polos.


"Gini nih mesti tuannya juga, bener-bener helm yang bisa di ajak kerjasama! " Doni mendekat pada Lily untuk membantu membukakan helm.


"Maksud lo? "


Tanpa menjawab pertanyaan Lily Doni langsung membantunya melepas helm.


Deket banget ini orang dihhh, jadi deg-degan gini jantung! ni orang kayaknya sengaja mau bikin grogi! hah? masa iya gue grogi?


"Ly! "


"Ly kamu bengong? ayo masuk!"


"Ha-a iya iya! "


Setelah memilih duduk di meja yang langsung mengarah ke taman di samping cafe, Doni memanggil waiters dengan gaya songongnya.


"Ly pesen aja semua yang lo suka! "


"Hhh, sombong banget! "


Liat nih, dikira gue makannya dikit apa. hihihi

__ADS_1


Lily ingin menguji sampai mana batas kesombongan laki-laki yang sedang duduk di depannya kali ini. Memesan makanan paling mahal yang berada di menu, tidak cukup satu tapi tiga menu yang berbeda-beda.


GLEKKK


Dengan susah payah Doni berusaha santai dan sesekali menelan ludahnya mendengar pesanan Lily pada mbak waitress yang sedang berdiri di samping meja mereka.


"Kok diem? lo nggak pesen? " tanya Lily sedikit tersenyum sinis.


"Pesen kok pesen, ini mau pesen! " jawab Doni gugup.


Nyesel udah sombong, duit gue cukup kagak ini hadeuh mana malu mau ngeluarin dompet yang ada dikira gaya doang nanti. Bisa juga ni cewe bikin gue nggak berkutik gini! perasaan badannya bagus kok banyak amat makannya, *****.


Belum selesai makan mereka kembali asik mengobrol, seakan saling nyaman dalam bertukar cerita.


"Oh iya lo udah lama sahabatan sama Nida? " tanya Doni berusaha mencari topik pembicaraan.


"Dari awal semester dua kayanya! lo sendiri udah lama kenal Nida? "


"Ya sejak kenal Ipan, orang mereka kaya perangko kemana-mana seringnya bareng. "


"Ipan!? Ipan siapa? "


"Eh sory lupa, aku manggil Rifan lebih seringnya Ipan. Rifan tu kesannya kaya kekerenan. " kembali melahap makanannya.


"Lah emang Rifan keren! " jawan Lily santai.


Doni terlihat semakin geram mendengar jawaban Lily. Ternyata Lily tidak sepolos yang di bayangkan.


"Kenapa ya Nida nggak mau ngasi tau Rifan? gue tu sebenernya kasian tau sama Rifan, nggak ngerti apa-apa tapi di cuekin gitu aja. Mana jauh lagi orangnya ! "


"Yahh lo tu sebagai sesama cewe bilangin dong ke Nida, kami tu bangsa cowok bukan tuhan yang bisa mengerti isi hati kalian tanpa kalian ngomong. Jangan tiba-tiba menjauh tapi nggak bilang alasannya kenapa! dasar cewe. "


"Gimana nggak ngejauh, dideketin nggak ngerespon ya mending ditinggal eh pas ditinggal malah kaum cowo yang dibilang jahat! "


Jawaban Doni kali ini membuat Lily kehabisan kata untuk menyanggah perdebatan mereka.


"E-ee pacar lo nggak marah ni lo makan sama cowo lain? "


"Pengen tau banget? "


Nyebelin amat ni betina, untung cantik lo!


"Itu ada sisa makanan tuh di bibir lo, gimana si! "


Lily terlihat begitu malu mendapat teguran dari Doni tentang cara makannya yang belepotan, ia pun berusaha membersihkan bibirnya dengan tissu. Sialnya bagian yang di bersihkan bukan yang dimaksud Doni.


"Ini disini nihhh! " tangan Doni membantu Lily membersihkan sisa makanan di bibirnya.


Blush! spontan pipi Lily langsung memerah karena malu.


Suasana jadi canggung, Doni pun nampak salah tingkah dengan tindakannya barusan.


Entah dari mana datangnya tiba-tiba cafe memutar lagu cinta yang menambah rasa canggung pada dua insan yang sedari tadi memang sudah salah tingkah.


*Cinta kita memang tidak semudah yang


dibayangkan


Dulu kita saling menyakiti dan hampir

__ADS_1


menyerah


Tapi kini kita ada tuk saling menyempurnakan


Ku berdoa agar bisa hidup dan menua


bersamamu*


"Romantis amat mbak sama masnya baru jadian yaa ciee!" celetuk salah satu waitress yang sedang membereskan meja sebelah.


"Apaan si mbak, kita nggak pacaran kok! " tegas Lily berusaha menutupi rasa gugupnya.


"Iya Mbak dia mah udah ada cowo, kalau saya selingkuhannya! " jawab Doni dengan sotoy yang membuat Lily melemparkan tisu bekas yang sudah berbentuk gumpalan.


"Nggak nggak Mbak, ngasal ni orang kalo ngomong! " Lily kembali mencoba membela diri.


Suasana menjadi mencair, saling tertawa dan rasanya seperti sudah lama kenal saja pembicaraan mereka berdua.


Drrrttt... Drrrtt...


Telpon dari Rifan. Doni melupakan sesuatu.


"Don, gue capek banget baru selesai kelas! jari gue kayaknya mati rasa deh ini! "


"Ya masa lo minta gw pijitin? "


"Nggak ****, gimana-gimana? "


"Apanya! "


"Video gue buat Nida lah, memangnya tujuan gue nelpon lo buat nanyain apaan? nanyain lo udah cebok apa belom? ya kali "


Doni tersedak hampir saja menyemburkan minuman yang masih berada di kerongkongannya.


Sambil menjauhkan hp dari telinganya lalu menatap Lily dengan tatapan bingung .


"Siapa? " tanya Lily berbisik.


"Ipan! nanya Nida! gimana nih! " Doni menepuk jidatnya kali ini.


"Bilang aja putus-putus nggak ada jaringan! " usul Lily masih dengan berbisik.


"Lo dimana sik berisik banget? " tanya Rifan yang merasa tidak mendapatkan jawaban.


"Hallo! Don lo denger gue nggak si? "


"Pan... ga jelas... a-pa? ga kedengeran? nant-i gw tel-pon b-alik yak, daa-ah. "


Tuttt... Tuttt...


Jelas banget kedengeran berisik alasan aja gada jaringan, kenapa si ni anak. Penasaran banget sama reaksi Nida ya Allah.


Lirih Rifan dalam hati sambil memandangi hp yang sambungannya diputus secara sepihak oleh Doni.


"Huhhhhhhh lega! " Doni menghela nafas panjang merasa terbebas dari pertanyaan-pertanyaan Rifan yang menakutkan. Ia merasa belum siap dan tidak memiliki jawaban apapun atas pertanyaan Rifan.


BERSAMBUNG...


Terima kasih sudah berkenan membaca episode 16 "Mencintai yang hilang"

__ADS_1


__ADS_2