MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
WASIAT MR. JOHN


__ADS_3

Perjalanan panjang nan melelahkan baru saja akan dimulai. Aku harap kita segera mendapat titik terang, meski masih jauh ujungnya.


***


"Bu, udah mau Isya. Apa Rifan nggak jadi ke sini ya Bu? "


Menghela nafas. "Ayo kita makan malam dulu ya Nduk, Ibu lapar sekali. " jawab Bu Hanna mengalihkan pembicaraan.


Tanpa menunggu jawaban dari putri tercintanya, Bu Hanna mendorong kursi roda Nida menuju meja makan.


Kaki Nida memang mampu berjalan Normal, tapi ia begitu enggan untuk berjalan. Setiap langkahnya akan membuatnya menangis. Entah apa yang membuat Nida demikian, padahal sudah setahun ia menjalani hari-harinya tanpa bisa melihat.


"Bu, kabar perusahaan Ayah gimana? " tanya Nida di sela waktu Bu Hanna menyuapinya.


"Insyaalloh aman, Om Azlan selalu ngasi tau perkembangannya sebulan sekali. Meskipun kita berdua sama sekali tidak turun langsung ke perusahaan ya alhamdulillah loyalti tetap ngalir ke kita juga Nduk. "


"Alhamdulillah, Ayah pasti seneng banget di sana kan Bu? bisa menyaksikan anak dan istrinya bahagia begini. "


"Iya dong, pasti itu mah. "


"Oh iya Nduk, kamu mau kan 9menjalani perawatan lebih intensif lagi ke luar negeri? "


"Hmm tentang itu... nanti dulu deh Bu. Belum siap aja rasanya mau pergi jauh dari rumah. "


"Tapi Kak Endah juga bilang kemaren Nduk kalau di luar negeri kemungkinan perawatannya lebih bagus mungkin kita bisa cepet dapat donor mata buat kamu sayang. "


"Donor mata? kan sama Dokter di sini juga lagi diusahain kan Bu donor matanya, kenapa kita harus ke luar negeri? "


"Ibu tau Nduk, cuman sudah setahun dan sampai hari ini pendonor untuk kamu belum juga ada. Kan nggak ada salahnya kita ikhtiar yang lebih, lagian biaya nya juga alhamdulillah cukup bahkan Allah sudah kasi rezeki lebih untuk kita Nduk. "


"Kalau itu bisa bikin Ibu seneng Nida nurut aja apa kata Ibu, hehe. "


"Nah begitu dong baru anak Ibu, secepatnya Ibu diskusikan sama orang tuanya Kinan ya sayang. Terima kasih sudah mau nurut sama Ibu."


Sekilas nampak wajah penuh kebahagiaan pada ekspresi Bu Hanna. Selama ini ia memang sedikit kesulitan membujuk Nida agar mau menjalani donor mata di luar negeri, akhirnya usaha Bu Hanna membujuk Nida kini telah berhasil.


Selesai makan malam, Bu Hanna langsung mengirim pesan pada Endah.


Bu Hanna : Assalamualaikum. Nida sudah mau Ndah.


Endah : Waalaikumussalam, Alhamdulillah Mbak. Nanti saya kasi tau Mas Azlan ya Mbak.


Bu Hanna : Apa jadi kita bawa Nida ke Swiss Ndah?


Endah : Semua tinggal tergantung Mas Azlan Mbak, saya tau kekhawatiran Mbak. Mbak pasti khawatir kalau nanti ketemu Rifan di sana kan? saya juga Mbak. Tapi Swiss itu kan luas Mbak, lagian Mas Azlan belum bilang jelas rumah sakit milik kolega nya itu berada di mana.


Bu Hanna : Iya Ndah, semoga saja.


***


"Kenapa dengan Daddy, ada apa? " ucap Novia dengan nafas tersenggal-senggal.


"Tenang Nov," Rifan berusaha menenangkan.


"Iya kenapa Suster, bagaimana kondisi Ayah teman saya? " tanya Doni melanjutkan pertanyaan Novia.


"Mari Nona Novia ikut saya, Mas berdua silahkan tunggu di sini. "


Di dalam ruangan.


Terdengar jelas suara monitor yang berdecit dengan cepat menandakan detak jantung yang berjalan tidak normal.

__ADS_1


Monitor yang terletak tepat di sebelah kanan Mr. John itu menambah kacau suasana hati Novia.


"Sesaat sebelum keadaan Tuan John kritis, beliau sempat menyebut nama Nona. Nona Novia silahkan genggam tangan Mr. John sembari kami berusaha memberikan pertolongan."


Novia menatap Dokter laki-laki di depannya dengan tatapan penuh pengharapan.


"Tidak apa lakukan saja Nona, Insyaalloh kami akan lakukan yang terbaik. " ucap Dokter meyakinkan.


"Dad, you must be strong! " lirih Novia menciumi tangan Ayahnya.


Tidak berapa lama, Dokter mengambil sebuah alat kejut jantung yang berbentuk seperti sepasang setrika.


Tidak asing memang bagi Novia, alat itu telah sukses memberikan trauma mendalam saat dua tahun lalu Mr. John menjalani perawatan di Swiss yang hampir saja waktu itu ia fikir bahwa Ayahnya akan meninggal.


Memiliki keluarga yang broken home, dan hanya tinggal bersama ayah membuat Novia menjadi pribadi yang kuat. Ayahnya selalu mengajarkan hal-hal baik dan memberikan perlindungan terbaik sepantasnya yang di lakukan seorang ayah.


Belakangan di ketahui mantan istri Mr. John telah beberapa kali menikah dan memiliki tiga anak dari tiga suami yang berbeda. Entah apa yang ia cari, intinya Novia sama sekali tidak merindukan Ibunya itu.


Satu kali, alat tersebut di tempelkan pada dada bidang Mr. John.


Dua kali.


"Dadddd... " ucap Novia terisak.


Tiga kali.


"Wait Docter, he's holding my hand. "


"Alhamdulillah... Suster segera persiapkan baju ganti untuk Mr. John. Beliau berhasil melewati masa kritisnya. "


"Nona Novia, silahkan Nona tunggu di luar sebentar ya. Terima kasih sudah membantu kami. " ucap Dokter begitu lembut sambil tersenyum.


Novia hanya menganggukkan kepala sambil menyeka air matanya, kemudian keluar dari ruangan.


"Iya Nov, bagaimana keadaan Dady kamu? "


"Iya, dia sudah sadar. Hatiku sangat lega, "


"Alhamdulillah. " ucap Rifan.


"Sini duduk Nov, " pinta Doni.


"Gue beli air mineral dulu bentar Don, jagain! "


"Iya berisik banget lo ah, yang jauh belinya Pan! kalo bisa ke luar kota. "


Tanpa menghiraukan Doni, Rifan segera menuju kantin yang letaknya berada di belakang rumah sakit untuk membeli air mineral dan beberapa cemilan.


"Doni, nama kamu Doni kan? "


"Iya, kamu perlu apa? biar aku bantu? "


"Oh tidak tidak, saya ingin meminta maaf sekali lagi karena saya tangan kamu jadi... "


"Ah nggak apa-apa, kan udah di obatin sama Dokter. Besok sembuh kok ini, tenang aja. "


"Syukurlah, "


"Kenapa mereka sering mengucapkan kata-kata asing seperti berdoa dalam agama islam tapi bukan, apa kamu juga? "


"Seperti berdoa? maksud kamu? "

__ADS_1


"Seperti apa yang Fandi ucapkan ketika saya mengatakan bahwa Dady sudah melewati masa kritisnya."


Doni memutarkan kedua bola matanya. Berfikir keras sebenarnya apa maksud pertanyaan bule Jerman di depannya ini.


Alhamdulillah?


"Oh, maksud kamu Alhamdulillah? "


"Iya, saya juga sering mendengar Fandi mengucapkan kata-kata itu. "


"Memangnya teman-teman kamu di Swiss tidak ada yang muslim? "


Novia menggelengkan kepala.


"Aku juga nonmuslim, tapi temen banyak yang muslim. Lingkungan tempat tinggal juga banyak yang muslim. Emm alhamdulillah itu seperti ungkapan syukur karena tuhan telah memberikan kita sesuatu. Itu aja si yang aku ngerti tentang alhamdulillah."


"Kenapa nanya begitu? " tanya Doni melanjutkan.


"Ah tidak apa, aku hanya penasaran. Kakekku juga muslim tapi ia meninggal saat aku masih sangat kecil. "


Semenjak mengenal Rifan, Novia begitu tertarik dengan Islam. Naluri itu muncul secara tiba-tiba. Terkadang bahkan ia iseng melihat cara gerakan sholat di Youtube.


Rifan kembali dengan membawa kantong plastik berisi beberapa botol air mineral dan makanan ringan.


"Nih minum dulu, pada haus kan? "


"Terima kasih, " ucap Novia.


Sedangkan Doni langsung membuka bungkusan wafer berisi coklat berukuran sedang.


"Eh jangan yang itu dong, coklat itu baik buat balikin mood cewek. Kasiin ke Novia! lo makan ini nih nih! " pinta Rifan menarik wafer yang hampir saja masuk ke dalam mulut Doni, kemudian mengulurkan saos tomat tanpa kerupuknya.


"Lo nyuruh gue makan saos? "


"Kerupuknya favorit gue banget, kerupuk udang. Masa harus gue bagi lo! hahahha. "


Berada di antara dua laki-laki baik seperti Rifan dan Doni membuat Novia sedikit banyak mampu mengesampingkan rasa khawatirnya pada Mr. John.


Tidak berapa lama kemudian, Dokter keluar dari ruangan untuk memberitahukan bahwa Mr. John sudah bisa di jenguk. Mereka bertiga masuk ke dalam ruang Mawar II secara bersamaan.


Novia duduk tepat di samping kanan tempat tidur pasien, sedangkan Rifan dan Doni berada di sisi kiri.


Mr. John nampak mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sambil menggenggam tangan putrinya.


"Where is Fandi Dear? "


"Itu Dad, dia berdiri di sebelah kiri, yang di sampingnya itu Doni. Doni adalah teman Fandi di sini. "


Doni tersenyum lebar menyapa hangat Mr. John.


Tiba-tiba Mr. John meraih tangan Rifan dan menyatukannya dengan tangan Novia.


"Fandi, maukah kamu menjaga anak kesayanganku? aku merasa hidupku tidak akan bertahan lama, mau kah kamu menikahinya? dia sangat mencintaimu."


"Daddy... No! " ucap Novia pelan.


"*Hah? nikah? Novia cinta sama gue? apa-apaan nih? "


Gile bener si Ipan, di ajak nikah sama bule? ini beneran apa mimpi si, Nida? gimana nih? tambah ribet gini. Ini mimpi kali ya, coba gue injek kaki Ipan deh*!


"Aw! " teriak Rifan sambil mengangkat kaki kanannya yang di injak Doni.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Terima kasih sudah berkenan membaca episode 24 "Mencintai yang Hilang"


__ADS_2