
"Dad, jangan seperti ini please! "
"Why dear, bukankah kamu mencintai Fandi? " ucap Mr. John dengan sedikit terbata-bata.
Rifan menatap Novia dengan tatapan bingung, sementara Doni berusaha mengalihkan pandangan pada kantong infus yang letaknya berada di samping kiri Novia.
"Fandi, saya mempercayakan Novia kepadamu. "
"But... "
"Iya in dulu Pan, kayanya mau sekarat ini Bapaknya Novia! " ucap Doni berbisik di telinga Rifan.
Menatap Mr. John, "Baik Mr. John, saya akan menjaga puteri anda! "
Tautan tangan antara Rifan dan Novia terlepas begitu saja. Mr. John menghembuskan nafas terkahirnya. Ternyata berhasil melewati masa kritis justru menghantarkannya untuk kembali kepada sang pencipta.
"Dad... Dad... wake up Dad, dont leave me!"
Novia meraung sejadi-jadinya, kehilangan laki-laki terbaik yang merangkap menjadi sosok ibu baginya adalah yang tidak pernah terlintas di benaknya.
Innalillahiwainnailaihirojiun, gue mesti gimana ini. Ya Allah apa hambamu harus nikahin Novia? Nggak tega banget liat cewe nangis begini.
"Nov, sudah biarkan dady kamu beristirahat dengan tenang! " pujuk Rifan yang kini posisinya berada di belakang Novia sambil mengusap pelan kedua bahu milik Novia.
"Shut up! " jawab Novia dengan nada membentak.
"Lo sih, diem aja dulu Pan! " ucap Doni membelalakkan matanya pada Rifan.
Tidak berapa lama Dokter dan beberapa suster datang untuk melepaskan segala peralatan medis yang masih menempel di tubuh Mr. John.
"Nona Novia, nyawa manusia sudah di tentukan batasnya oleh sang pencipta. Anda harus mengikhlaskan kepergian Mr. John, sekarang Nona harus semakin rajin berdoa agar Mr. John di tempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya. Biarkan kami mengurus jenazah Mr. John terlebih dahulu. "
Rifan menuntun Novia keluar dari ruangan, Doni menyusul dengan langkah yang sama beratnya.
"Kamu tau Fandi? aku seperti ingin mati saja saat in."
"Shuuuttt! kamu nggak boleh ngomong begitu nanti tuhan marah! "
"Aku tidak perduli dengan tuhan, dia tidak pernah membuatku bahagia. Dari aku kecil tuhan membuat orang tuaku bercerai hingga aku tidak pernah merasakan hangatnya keluarga. "
"Nov, Rifan bahkan tidak sempat merasakan kasih sayang kedua orang tua sampai hari ini karena orang tua nya meninggal sejak ia kecil. Aku? orang tuaku juga bercerai sama seperti kedua orang tuamu. Bahkan mereka menelantarkanku, ayah atau ibuku menikah lagi dan bahagia dengan keluarga barunya masing-masing. Masih banyak yang bisa kita syukuri Nov! "
Novi mendongakkan kepalanya ke arah Doni yang berusaha menyemangatinya. Kata-kata Doni sukses membuat Novia terhenti dari isak tangisnya. Pandangannya jauh memandang kedepan, mengingat kembali memori terindah yang pernah ia lewati bersama sang ayah.
"Dad, i cant life without you! "
"Ada aku Nov, aku akan menjagamu! "
Hancur! Hancur semuanya, kemungkinan Ipan bersatu sama Nida makin kecil peluangnya.
Melihat kondisi Novia yang begitu lemah dan terpukul Rifan merasa kasihan jika ia harus tidur sendirian di hotel, Rifan memutuskan untuk menemani Novia tentu saja dengan mengajak Doni. Bagaimanapun ia tidak mungkin hanya berdua dengan Novia.
Sesampainya di kamar hotel, cukup lama Novia termenung memeluk bantal dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
Kamar VVIP hotel bintang lima yang Novia dan ayahnya tempati memang berukuran luas dan cukup mewah. Rifan dan Doni memilih untuk merebahkan diri di sofa berukuran besar yang ruangannya hanya tersekat kayu susun sehingga mudah untuk terus mengawasi Novia.
Cukup lama mereka saling diam hanya memainkan hp masing-masing, sampai Rifan tersadar bahwa Novia sudah tertidur.
Rifan memiringkan kepalanya menengok ke arah Novia memastikan gadis itu benar-benar tertidur.
__ADS_1
"Don! "
"Hah! "
"Udah tidur,"
Doni yang tadi fokus dengan hpnya ikut memastikan dengan menengok ke arah Novia.
"Gue belum sholat isya, pusing gue Don. Gue pengen banget ketemu Nida sumpah! gue harus gimana sama Novia Don? menurut lo Novia beneran suka sama gue? "
Apa sebaiknya gue jujur sama keadaan Nida sama lo Pan, gue nggak mau lo bakalan semakin pusing sama keadaan yang kayanya akan semakin memburuk.
"Woy! "
"Ah iya sholat dulu sana lo, gue juga mau ngomong sesuatu! "
Selesai sholat Rifan menengadahkan kedua tangannya, memejamkan kedua matanya sesaat melihat ke arah gadis yang baru saja kehilangan ayahnya.
*Walhamdulillahirobbilalamin
Ya Allah zat yang maha di atas segalanya
Sungguh engkau maha pengasih lagi maha penyayang
Apapun yang engkau gariskan adalah yang paling terbaik untuk hambamu
Jangan jadikan hamba kufur
Jangan jadikan hamba lupa untuk selalu bersyukur
Berikanlah kekuatan berupa hidayah iman dan islam setiap hari
Berikanlah petunjukmu ya Allah, sebenarnya apa yang harus hamba lakukan untuk Novia
Sebenarnya apa yang di maksud dengan pesan Mr. John sesaat sebelum beliau meninggal
Ya Allah
Mudahkanlah pertemuan hamba dengan Nida, berilah hamba jalan untuk sekedar mengetahui bagaimana kabarnya
Aamiin*
Rifan kembali merebahkan tubuhnya di sofa, sementara Doni tampak gugup ingin menyampaikan sesuatu pada Rifan.
"Don laper nggak lo? kayanya ada mi instan tu di dapur. "
"Bentar lagi deh, "
"Lo kenapa si? "
"Hah nggak, nggak apa-apa. "
Mendengar jawaban Doni, Rifan kembali membuka beberapa akun sosial media miliknya.
"Pan! "
"Ha? "
"Kalau Nida sakit lo gimana? "
__ADS_1
Tersentak duduk. "Sakita apaan? Nida sakit? "
"Sabar sabar, gue nanya kalau Pan kalau. "
"Ya sakitnya gimana dulu, kalau cuma demam ya biasa aja. "
"Pan! "
"Ada apa si Don, mending lo ceritain sekarang! "
"Nida, "
"Kenapa? "
"Pas lo di bandara Nida nyusul lo, "
"Hah iya? " jawab Rifan dengan senyum sumringah.
"Tapi, "
"Kenapa? nggak usah di potong-potong gitu dong ceritanya kampret. "
"Nida, Ni-da ke-celakaan Pan. " ucap Doni menundukkan kepala.
"Kecelakaan gimana?" Rifan semakin menatap tajam Doni.
"Nida kecelakaan karena ngebut mau nyusul lo, dan Dokter bilang saraf di kepalanya ada yang terbentur parah, yang harus bikin Nida... "
"Apa? "
"Bu-ta. "
"Nggak lucu Don, "
"Oke gue minta maaf, udah nutupin semua ini dari lo. Udah sekongkol sama Nenek sama Lily juga tapi semua itu atas permintaan Nida sendiri Pan. Gue dilema, nggak tau harus gimana waktu itu. Nida nggak mau lo khawatir,"
Tanpa menanggapi perkataan Doni, Rifan refleks melihat jam tangannya yang menunjukkan hampir jam sebelas malam. Matanya merah, tangannya mengepal sangat ingin menonjok laki-laki brengsek di depan matanya. Diambilnya jaket yang tergeletak pada sandaran sofa lalu berjalan ke arah pintu, sebelum keluar dari kamar mewah milik Novia itu Rifan menoleh ke arah Doni.
"Lo jaga Novia, "
***
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum, Bu Hanna! Nida! "
Tidak bisa dipungkiri, hati Rifan begitu panas rasanya. Seakan tidak bisa mempercayai ucapan Doni.
Di dalam rumah Nida dan Bu Hanna baru saja terlelap, mendengar ketukan pintu dan ucapan salam dari seseorang, Bu Hanna meraih jilbab dan menyarungkannya sambil menghidupkan beberapa lampu yang tadi sudah dimatikan.
"Bu! siapa si bertamu selarut ini? " Nida yang juga mendengar suara ketukan pintu juga ikut keluar dari kamarnya sambil memasangkan jilbabnya asal.
"Nggak tau Nduk, kamu di sini aja. "
"Waalaikumussalam, siapa ya? "
CEKLEKKK
"Ri-fan, "
__ADS_1
BERSAMBUNG...