MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
HAMPIR KETEMU


__ADS_3

Takdir tidak pernah salah. Kita yang terlalu banyak menuntut seakan tuhan yang tidak pernah memihak.


***


"Assalamualaikum! " Rifan sengaja membesarkan suaranya seakan menjadi orang lain.


Terdengar langkah pelan nenek dari ruang keluarga tergopoh menuju pintu depan karena mendengar ucapan salam dari seseorang.


"Waalaikumussa... Rifan? " belum selesai nenek menjawab salam dari orang yang berada di luar pintu itu, ia di kejutkan lebih dulu dengan kehadiran cucu tercinta rupanya.


"Surprise nek! "


"Kenapa Nang ada apa kok pulang tiba-tiba begini! " tanya nenek begitu khawatir bahkan matanya sudah berkaca-kaca sambil memegangi bahu, wajah dan lengan Rifan.


"Ya kangen dong Nek, hahaha dikasi libur seminggu kebetulan temenku sama ayahnya ada urusan disini jadi sekalian nebeng, mereka orang jerman nek besok Rifan ajak kesini deh! "


"Oalah alhamdulillah ya sudah ayo masuk, makan pasti kamu lelah kan? "


"Udah nggak sabar makan masakan Nenek!"


Tanpa berganti baju terlebih dahulu Rifan langsung menuju meja makan yang diatasnya telah tersedia berbagai menu. Nenek memang selalu masak menu enak tiap hari apalagi sekarang ada tantenya Rifan dan suaminya.


"Eh ada yang bikin kejutan ni ceritanya! " ucap tante Maya setengah meledek keluar dari dapur.


"Jadi ceritanya pada nggak suka ni kalo aku pulang, yaudah aku balik ni balik ni yaa... tahan tangan aku dong Nek tahan ! "


"Halah gayamu, nih liat ayam krispi kesukaan kamu baru banget diangkat dari penggorengan nih masih anget yakin mau balik? biarin aja nek dia balik biar kita makan ini semua tanpa bocah tengil ini ni! lagian bisa pas gini kan mah kita masak yang enak-enak eh nongol dari luar negeri ni anak!"


"Mas Lifaaaaan! " teriak bocah laki-laki berbadan gendut sambil mengucek kedua matanya dari arah pintu kamar, siapa lagi kalau bukan anak dari tantenya.


"Eee si gendutttt, udah ditinggal setahun masih aja belum bisa bilang huruf R. Apa apaan nih jam segini baru bangun! bukan titisan mas Rifan ini nih! "


Mengingat hari itu hari minggu jadi sekolah memang libur.


"Bukan titisan gimana? kamu dulu pas dirumah kalo ngga ngampus bangunnya juga pas azan Zuhur, kalo nggak juga pas laper. Iya kan nek? " sang ibu berusaha membela.


"Mana ada, sotoy banget mama kamu tu ndut hahaha! " ucap Rifan membela diri sambil melahap ayam goreng.


"Sudah sudah kamu cuci tangan dulu Rifaaaan! " suruh nenek pada Rifan yang kelupaan mencuci tangan.


"Mas Lifan masa ngga tau, aku aja di sekola kata bu gulu halus begini nih nyuci tangannya bial belsih." oceh si gendut Rendi sambil memperagakan cara mencuci tangan dengan detailnya.


"Mas Lifan mas Lifan, Rrrrrifan coba bilang mas Rrrrr... "


Rifan yang tadinya duduk di kursi meja makan beralih posisi berjongkok di depan Rendi. Muncul keisengannya untuk menggoda anak tantenya yang menggemaskan itu.


Dengan polosnya Rendi pun langsung mengikuti instruksi dari Rifan.


"Coba ikutin mas ya ndut! "


Rendi mengangguk menandakan setuju.


"Mas Rrrrrrrr..."

__ADS_1


"Mas Llllllll... "


"Bukan Lllll tapi Rrrrr... "


"Lllll... "


"Mas Rrrrrr... ifan. "


"Mas Llllllll aaaah bunda Lendi ga bisa bundaaa! "


"Iiihhh Rifan jangan suka godain Rendi terusss." Maya mulai kesal dengan keusilan Rifan pada anaknya.


"Rifan... " ucap nenek pelan, menggelengkan kepala melihat kelakuan cucunya yang usilnya tidak berubah.


Tanpa menggubris ucapan Maya, Rifan langsung meninggalkan dapur menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Kamar yang selalu di rindukan setahun belakangan.


Nyaman banget ya Allah, kasur ini, bantal ini aduhhh alhamdulillah bisa ngerasain tempat ini lagi. Kasur yang jadi saksi bisu menemani mimpi-mimpi masa puberku. Elah kaya tua banget gw hahaha!


Lirih Rifan merebahkan diri di atas kasur sambil tangannya bergerak ke atas dan ke bawah seperti sedang berenang.


Menatap dengan seksama tiap bagian dari kamar tercintanya. Pandangannya terhenti pada meja belajar, ada foto dua bocah ingusan yang tidak asing.


Kenapa lo ngilang gini Da, sekarang lo nggak bisa ngelak! lo harus jelasin semuanya! dikira enak apa di cuekin setahun penuh tanpa alasan!


Lirih Rifan penuh tekat.


Setelah selesai membersihkan diri, Rifan membuka ransel berisi beberapa baju yang ia bawa pulang.


Baju batik berdasar warna hitam sesetel dengan celana bahan berwarna coklat muda dipilih dengan asal oleh Rifan. Sebenarnya ia lebih suka mengenakan kaos dengan jeans tapi kali ini untuk menghadiri acara wisuda teman-temannya Rifan berusaha tampil formal.


Selesai berpakaian Rifan kembali ke dapur karena cacing-cacing dalam perutnya sudah meronta-ronta minta makanan.


"Mas Lifan mau kemana, lendi ikut yaaa? "


"Baru aja nyampe, mau kemana kamu rapi amat kaya mau ijab kobul." tanya Maya.


"Iya Nang, bukannya istirahat!" timpal nenek.


"Hari ini wisudaannya Nida nek eh Doni juga deng masa Rifan ngga dateng si, kan tujuan utama pulang selain nemuin nenek ya mau nyelametin mereka itu."


Maya dan Nenek terdiam seketika, mereka saling pandang satu sama lain. Sedangkan Rifan yang sedang menggulung lengan bajunya tidak menyadari ekspresi wajah mereka berdua.


Sejak Nida meminta Doni merahasiakan kondisinya pada Rifan. Doni juga meminta keluarga Rifan menyembunyikan kabar tidak menyenangkan Nida dari Rifan.


"Oiya nek, Nida beneran nggak ada main kesini? "


Belum sempat nenek menjawab pertanyaan Rifan, Rendi dengan mulut yang masih mengunyah berusaha menanyakan sesuatu pada bundanya.


"Buwnda, anti Nlida itwu ywang kwita wiyat di lumasakit kemalen pas Lendi demam kwan nda!"


"Ngomong apa si bocil, kalo mau ngomong di telen dulu! " Rifan yang gemas dengan ucapan tidak jelas Rendi.


Untung ni anak nggak ngehhh sama apa yang dibilang Rendi,

__ADS_1


Maya meneguk segelas air merasa lega dengan ucapan anaknya yang tidak bisa di mengerti jelas oleh Rifan. Kemarin memang Rendi demam dan sempat bertemu Nida yang sedang cek up di rumah sakit.


"Eh nek, udah mau jam 10 Rifan berangkat dulu deh! bocil ngga boleh ikut. Pergi dulu tan! " dengan kunci motor yang sudah di genggaman tangannya.


"Yakin mau bawa motor?"


"Yakinlah! dikira lupa cara naek motor apa! daaahh assalamualaikum. "


Btw masih cakep aja si moge, makasih tan suaminya baik bener mau bantu ngerawat.


"Apa sekarang adalah waktunya Rifan tau kondisi Nida ya May? " tanya nenek pada Maya sambil melihat ke arah Rifan yang sudah berada di atas motor.


"Kita doakan yang terbaik mah hm! "


"Bunda Lendi mau vc ayaaah! "


***


Doni setyawan putra dengan ipk 3.52


"Wihhhh tinggi juga ipk si kampret! "


Rifan menjinjit di antara keramaian sambil bertepuk tangan untuk sohibnya yang sedang berada di atas podium.


Yahhh Fakultas Nida udah lewat nih, telat!


Lirih Rifan menatap jam tangannya.


Rame gini, gimana nyarinya lah ini!


Takdir masih berpihak pada Rifan. Ia melihat Lily berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri Lily tidak sendiri ada Nida di sampingnya. Tapi sepertinya Rifan belum menyadari siapa yang berada di samping Lily.


"Ly! " Rifan setengah berteriak memastikan itu benar-benar Lily.


Lily refleks menoleh ke arah Rifan.


"Da, ada Rifan disini! " Lily begitu gugup dan langsung berbisik pada Nida yang duduk di kursi roda.


Sebelumnya Lily sudah memberitahu Nida tentang kepulangan Rifan, tapi siapa yang menyangka akan semudah itu pertemuan mereka.


"Ly jangan sampai Rifan liat gue ly!" Nida yang menggunakan kursi roda beringsut mundur mencari kerumunan yang lebih padat.


Lily sangat ingin berpura-pura tidak melihat kedatangan Rifan tapi terlambat Rifan sudah berjalan ke arah mereka.


"Eh sory sory! " ucap Rifan meminta maaf karena telah menabrak seseorang dengan jalannya yang terburu-buru.


"Ehhh Rifan kan?"


"Ehhh Hanum kan? "


BERSAMBUNG...


Terima kasih sudah berkenan membaca episode 20 "Mencintai yang hilang "

__ADS_1


Kenapa harus ketemua Hanummm si, keburu Nidanya pergi dooonggg Rifan!!!


Author jadi geretan sendiri hihihi


__ADS_2