
Hari ini, besok dan selamanya akan menjawab mampukah kita menuntaskan janji untuk saling bersama.
***
Dengan senyum sumringah, kulangkahkan kaki menuju pintu rumah Rifan yang hanya tinggal beberapa langkah jaraknya dari tempatku berdiri.
Mungkin Rifan dan nenek sedang melakukan sesuatu di dalam rumah sehingga tidak menyadari keberadaan mobil Zidan. Syukurlah, kalau sampai Rifan melihat kejadian barusan akan sangat aneh rasanya. Pasti Rifan mengejekku tanpa ampun.
Perlahan tapi pasti, aku tidak bisa menahan perasaan sukaku terhadap Zidan, kurasa Rifan sudah mulai melunak. Setidaknya Rifan pasti sudah melihat sedikit demi sedikit sisi baik dari seorang Zidan.
"Assalamualaikum... Nenekkk, Nida dataang! "
"Waalaikumussalam cantik."
Sambut seorang wanita berumur hampir 70 tahun membukakan pintu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Kami duduk di depan tv, dekat dengan posisi Rifan yang sedang mengotak-atik piano tua miliknya.
"Kangennnnn." ucapku manja sambil memeluk nenek.
"Kamu buka puasa di sini aja dong cantik, nenek masak banyak sekali."
"Nggak nggak nggak, ngabisin beras aja nanti Nek." timpal Rifan yang masih dengan kesibukannya tadi.
"Iiiss jahatnya, lain kali ya nek nanti Nida ajak ibuk juga deh, hehe."
***
"Besok kan dikampus ada agenda dari anak BEM nih, acaranya tu kalo nggak salah di Ballroom gedung kita." masih sambil mengelap piano yang baru selesai di perbaiki.
"Terus terus?" tanyaku antusias.
Saking antusiasnya, refleks aku semakin mendekatkan wajahku pada Rifan yang masih menatap pianonya.
"Nah... "
Rifan menoleh ke arah kanan, hingga jarak kami hanya satu jengkal.
Dia benar-benar tidak menyadari sedekat apa kami mengobrol dari tadi.
Tatapan kami beradu. Mata Rifan jelas berbicara, tentang apapun itu. Aku yakin benar-benar tulus dari dalam hatinya.
Kami pernah seperti ini, saat Rifan menyambut jari kelingkingku di atas rumah pohon. Persis seperti ini tatapannya, tapi kenapa kali ini jantungku terasa berdetak lebih cepat dari frekuensi detak jantung manusia pada umumnya.
"Dihhhh jauh jauh lo, bau bangke amat tu napas!"
Lamunanku dipecahkan oleh toyoran telunjuk Rifan tepat di tengah keningku.
"Sembarangan banget kalo ngomong, eh emangnya beneran bau? Hah, nggak kok ya namanya juga orang puasa hehe."
"Lagian tatapan lo jijay amat, jangan-jangan napsu ya lo liat yang ganteng-ganteng pas puasa gini."
"Dih geer banget upil kuda."
Kesal dengan ke-geeran Rifan, langsung kulemparkan saja kain lap yang tadinya Rifan gunakan untuk membersihkan piano ke muka jumawanya.
"Pipi lo kenapa Da? ihh lo lagi malu ya?"
Mukaku memang sedikit memerah karena menahan malu.
__ADS_1
Aku langsung duduk kembali di sofa tanpa menjawab pertanyaan menjengkelkan Rifan.
"Kan pasti rame nanti di ballroom tu kan, nah kebetulan Doni yang dimintain jadi mc sama anak BEM."
"Ha, terus? " jawabku ketus kali ini sambil terus menggeser layar hp melihat snap ig teman-temanku di instagram.
Melihat responku yang seperti itu Rifan juga ikut duduk di sebelahku.
"Jadi kata Doni, Hanum mau nyumbang lagu di akhir acara, terus..."
"Pas dia nyanyi kita bikin suaranya tu jadi kaya kodok kita koordinasi sama anak sound sistem nanti."
"Ihhh tumben sik temenku pinter. "
***
RIFAN POV
Lo terlihat teramat sangat bahagia setelah menghabiskan waktu bersama Zidan Da, gimana bisa gue menghalangi lo untuk semakin dekat dengan Zidan sementara gue melihat kebahagiaan lo di sana.
"Ya udah, lo ke dapur dulu gih bantuin nenek nyiapin bukaan. Gue mau mandi. "
Nida mengiyakan ucapanku hanya dengan anggukan dan segera melangkah menuju dapur.
Nida pasti mengira aku tidak melihat dengan siapa dia datang kerumahku, dan apa yang barusan terjadi sesaat sebelum Nida mengetuk pintu rumah.
Bagaimana caranya buat ngomongin semuanya sama lo Da. Lusa, perjanjian itu akan benar-benar terjadi. Semua akan segera di mulai saat Om kamu datang.
Aku masuk kedalam kamar, menatap sebuah foto berukuran 4R yang terpajang di samping meja belajar.
Foto manis dua bocah berumur sepuluh tahun saling beradu jari kelingking di atas rumah pohon belakang rumah. Meskipun pohonnya sudah ditebang sejak tiga tahun lalu tapi kenangannya tidak pernah hilang.
Tidak terasa sudah 11 tahun berlalu.
Apa lo tau apa yang gue fikirin waktu itu Da, untuk melindungi lo selamanya, gue harus selalu sama lo, untuk selalu bersama kata orang dewasa kita harus menikah. Dan hari ini gue sadar semua itu nggak akan pernah bisa jadi kenyataan.
Bukan karena lo nggak pernah membalas perasaan gue Da, tapi karena kekhawatiran gue sama bagaimana kebahagiaan dan keadaan lo setelah gue nggak di sini nanti.
"Fan, yaelahhh katanya mau mandi? malahan bengong liatin foto. "
Tiba-tiba nongol di depan pintu kamar.
"Apaan dah ngagetin aja si."
"Cepetan mandinya anterin gw pulang, hehehe."
***
Di Ballroom Kampus.
"Yeyyyy masih di sini bersama mc ganteng sepanjang masa, gimana masih semangat puasanya kannnn kaliannnn! "
"Semangattttt!"
Gema suara Doni terdengar jelas dari luar gedung, menandakan acara akan segera dimulai.
Doni memang sudah semester akhir, sama sepertiku dan Nida tapi masih saja sibuk dengan organisasi. Hampir setiap even kampus dia selalu muncul.
Selain sering nge-mc di kampus Doni juga sering mendapat job nge-mc di luar.
__ADS_1
"Hallo, dimana lo? udah mulai ni acaranya. "
"Iyaa tungguin di depan, gue udah di depan prodi, otewe."
Sebelumnya aku, Nida dan Doni sudah bersekongkol untuk mengerjai Hanum. Doni pernah naksir dengan Hanum tapi justru Hanum mempermalukan Doni dengan menolaknya mentah-mentah di kantin kampus di depan banyak mahasiswa lain.
Mulai hari itu Doni sangat kesal dengan Hanum.
Sangat menguntungkan kerjasama kami kali ini.
"Huhhh... Fan." Nida menepuk bahu kananku dari belakang.
"Ngos-ngosan gitu, kaya di kejar rentenir lo."
"Hayuk masuk udah rame nih, gue tu excited banget tau mau ngeliat Hanum kena batunya."
Menggemaskan sekali, sahabat kecil gue yang dulu kucel udah bermetamorfosis jadi gadis cantik. Lihat senyum lo Da, maaf gue nggak bisa untuk nggak jatuh cinta.
"Fan, woy!" sambil melambaikan tangan didepan mukaku.
"Eh yuk yuk."
Nida langsung menarik tanganku memasuki ballroom yang hampir penuh dengan mahasiswa.
Acara berlangsung dengan lancar. Kini giliran Hanum yang Doni panggil untuk naik ke atas pentas.
"Okeee, di penghujung acara ini bakal ada cewe cantik yang akan menyumbangkan suara emasnya, siapa lagi kalau bukan Diah Hanum!"
Aku dan Nida yang berdiri tidak jauh dari pentas mengkode Doni dengan acungan dua jempol.
"Hay semuanya... ehhm ehkkm ehm!"
"Keselek biji nangka neng?!" teriak salah satu penonton.
"Memang ya centilnya mendarah daging kan Fan, liat tuh tuh!" Ucap Nida setengah berbisik di telingaku.
Mencintai dalam sepi dan...
"Satuuu... " Nida memulai hitungan.
Dan rasa sabar...
"Dua... " aku tidak sabar ingin melihat Hanum benar-benar malu dan kapok.
Manalagi, yang...
"Tigaaaa!!!"
Seisi ballroom tertawa dengan suara yang dikeluarkan Hanum, persis seperti katak yang sedang meminta hujan. Bahkan perutku hampir kram rasanya karena terus tertawa.
"Nidaaa!"
Teriak seseorang yang sedang menerobos keramaian dari arah belakang, membuat aku dan Nida refleks menoleh.
"Eh Zidan..." Nida mengenalinya, iya dia Zidan.
BERSAMBUNG...
Terima kasih sudah berkenan membaca episode 8 "Mencintai yang hilang"
__ADS_1