
Flashback on
"Siapa tuh! "
"Nabrak apaan tuh?!"
"Nggak keliatan, deres begini juga!"
Begitulah gambaran perdebatan kecil orang-orang yang sedang berteduh di emperan kaki lima. Mereka mendengar suara tabrakan yang teramat keras tapi tidak bisa langsung melihat jelas karena pandangan mereka terhalang derasnya hujan.
Darah segar mengalir menyatu bersama genangan air menuju ke aliran yang lebih rendah. Bau amis jalan aspal yang terkena hujan semakin menyengat bercampur dengan darah manusia.
"Hallo, benar ini sama... eh siapa nama di ktpnya? "
Salah satu dari mereka yang menolong Nida akhirnya menemukan dompet di saku jaket yang Nida kenakan. Beruntung, hp Nida masih aktif dan layarnya tidak terkunci.
"Rainida! " teriak orang lain yang kedengaran tidak jauh jaraknya.
"Ibu benar orang tuanya Rainida? "
"Iya saya? ada apa dengan anak saya pak? "
Bu Hanna menjawab telpon dengan begitu gugup dan takut. Firasatnya mengatakan telah terjadi sesuatu dengan putri kesayangannya itu.
"Anak Ibuk kecelakaan Buk! kami langsung bawa ke Rumah Sakit Nusa Indah ya Buk, Ibuk bisa menyusul kesana! " tegas bapak-bapak dengan suara setengah berteriak karena keadaan yang ramai dan masih sedikit gerimis.
Bu Hanna lemas terduduk di samping meja tempat meletakkan telpon rumah.
Setelah tiga jam menunggu dengan mulut yang tidak berhenti berdoa dan berzikir untuk keselamatan Nida, akhirnya dokter keluar dari ruangan.
"Dok? anak saya? "
"Ibu tenang dulu ya, anak Ibu berhasil melewati masa kritisnya."
"Alhamdulillah ya Allah..."
"Tapi dengan berat hati harus kami sampaikan kepada Ibu, benturan keras yang anak Ibu alami di bagian kepala membuat salah satu saraf di bagian otaknya mengalami disfungsi Bu! "
"L-lalu Dok? " Bu Hanna memberanikan bertanya dengan suara begitu lemah nan terisak.
"Anak Ibu harus kehilangan penglihatannya untuk jangka waktu yang tidak bisa kami prediksikan."
***
Keluarga Rifan yang mengantarkan Rifan ke Bandara menaiki mobil suami tante Rifan sudah keluar jauh meninggalkan Bandara.
"Wihhh ambulan Nek ngebut amat! "
"Ada yang kecelakaan, ya Allah kasihan sekali! "
Tanpa mereka tau, mereka berpapasan dengan ambulan yang membawa Nida yang penuh lumuran darah.
Flashback off
Tuhan, maafkan diri ini...
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya...
Namun, apalah daya ini...
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta dia...
__ADS_1
Rifan sudah berada dalam pesawat yang mengudara, sambil mendengarkan lagu Rossa dengan earphone melekat di telinga.
Membawa angan yang tidak kesampaian. Ternyata memang serendah itu level pertemanan mereka.
Belum juga gue mulai hidup di Swiss Da, kita udah jauh-jauhan gini. Atau bahkan sekarang lo udah benci sama gue Da?
Rifan menghela nafas panjangnya untuk yang entah ke berapa kali setelah pesawat take off.
Matanya mulai merasakan kantuk meski hati dan fikirannya terus berkecamuk.
Gue cuma bisa berdoa supaya lo selalu bahagia Rainida Saqeena, aamiin.
Rifan terlelap.
***
Seperti hari-hari sebelumnya, Doni masih dengan kesibukannya skripsian, ng-mc di sana-sini juga dengan karya novel bucin miliknya yang sedang on going.
Seminggu telah berlalu sejak keberangkatan sohib kesayangannya.
Doni sedang mencari beberapa bahan materi di perpustakaan untuk melengkapi sumber referensi skripsi miliknya.
"Ehhmm ehmm!"
Doni yang tengah sibuk memilah-milah buku di rak tidak memperdulikan suara batuk yang dibuat-buat oleh Hanum, wanita yang sudah tidak asing lagi.
"EHMMM EEHMMM EHHMMM! " dengan nada dua kali lebih tinggi.
"Kenapa?" jawab Doni cuek dengan tatapan masih lekat pada susunan buka di raknya.
"Ehm btw si Rifan temen lo itu kemana? kok jarang keliatan sekarang? "
"Bukan urusan lo! "
"Urusin aja gebetan lo Zidan noh, ajarin biar nggak suka mainin cewe!"
Sedikit banyak gosip tentang Zidan dan Nida memang sudah menyebar luas di kampus, dengan brengseknya Zidan tetap beraktivitas seperti biasa di kampus, seolah-olah tidak terjadi apapun.
Hanum berlalu begitu saja, duduk di samping Dini yang berada di meja baca.
Samar Doni mendengar perbincangan dua wanita itu.
"Ihh Doni nggak tau Rifan kemana, padahal gue udah kesel banget pengen ngerjain tuh cewe, biasanya kan sepaket sama si Rifan kalo kemana-mana! "
"Iya kan Num, btw semenjak si Rifan jarang keliatan si Nida juga ikut nggak ada keliatan batang hidungnya di kampus ini tau! "
Sial, kenapa gue nggak kepikiran untuk ketemu Nida setelah Rifan berangkat. Aneh! masa dia sama sekali nggak nanyain Rifan ke gue?
Drrttt... drrrttt...
"Idihhhhh sombong amat ngga kangen orang Swiss lo?"
"Baru juga seminggu udah berasa orang sana aja lo! hahaha."
"Sedih banget nggak kerasa tiga hari lagi lebaran, lebarannya jauh dari keluarga lagi hhhh."
"Cengeng amat, tenang aja gue masih sanggup bantu ngabisin opor di rumah lo! "
"Kamprettt emang lo hahaha, eh gimana kabar Nida dikampus Don? "
"Lo nggak hubungin Nida Pan? "
__ADS_1
"Nomor hpnya nggak aktif, Bu Hanna juga nggak bisa di hubungi. Apa mungkin gue di blokir yak? "
Seketika otak Doni mulai memutar memori dalam seminggu terakhir. Mencoba mengingat kembali bahwa benar, memang ia tidak bertemu Nida dalam seminggu terakhir.
"Aneh deh Pan, gue nggak liat Nida di kampus dalam seminggu ini. "
"Seriusan lo? jangan bikin perasaan gue jadi nggak enak gini dong Don! "
"Ntar deh gue nanya temen sekelasnya, Nida sering juga kan nongkrong sama Lily? "
"Iya tanyain tolong Don, perasaan gur mendadak nggak enak gini. Apa sakit ya tu anak? perasaan Nida mah jarang sakit lama, palingan biasanya dua hari sembuh."
"Udah sante ae bos, gue tutup ya! lo ati-ati disana bro! "
"Daah!"
***
Kebetulan sekali, Doni yang hendak mengambil motor berpapasan dengan Lily teman sekelas Nida.
"Eh tunggu Ly! Lily! "
"Iya, eh lo bukannya yang ng-mc di acara kemaren? temennya Rifan kan? "
"Iya bener, kenal juga sama Rifan? berarti bener dong kalo lo temen sekelas Nida? "
"Iya kenal dari Nida juga si."
"Gue Doni, ini nih gue mau nanya, Nida jarang masuk apa sakit apa kenapa gitu? seminggu terakhir jarang ketemu perasaan."
"Loh lo nggak tau? "
"Nggak tau apa? "
"Ikut gue, kebetulan gue mau kerumah Nida sekarang!"
Doni benar-benar di buat bingung oleh Lily. Tapi ia memilih tidak banyak bertanya. Mengekor di belakang mobil yang di kendarai Lily menuju rumah Nida.
Betapa terkejutnya Doni melihat keadaan Nida yang sedang duduk di kursi roda dengan pandangan kosong menatap ke arah luar jendela kamarnya.
"Ly, Nida kenapa?" tanya Doni setengah berbisik pada Lily.
Belum sempat Lily menjawab pertanyaan Doni. Bu Hanna muncul dari arah dapur.
Sebelumnya, Bu Hanna hanya mempersilakan Lily untuk langsung masuk karena sudah mengenal akrab suara Lily. Mungkin sedang ketanggungan di dapur sehingga belum sempat menyambut kedatangan Lily bersama Doni.
Mereka pun bersalaman bergantian.
Bu Hanna menatap Doni dengan tatapan sedang mengingat-ngingat.
"Doni Buk, temen Rifan. Dulu pernah dua kali main ke sini juga hehe."
"Oohh iya ingat Ibuk."
BERSAMBUNG...
Terima kasih sudah berkenan membaca episode 12 "Mencintai yang hilang"
Kira-kira apa yang bakal di obrolin sama Doni, bu Hanna dan Lily ya?
Trus gimana hari-hari baru Rifan di Swiss?
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin like dan komentar terbaik dari kalian, wuf you to the moon and back readers! (alay ya hahahaa)