MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
TERTAWA LAGI


__ADS_3

Seperti ini ternyata rasanya hati yang tidak bisa kemana-mana, fikiran yang isinya kamu semua.


-Rainida-


***


Hari yang ditunggu telah tiba, lebaran tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada gelak tawa antara Nida dan bu Hanna.


Bu Hanna sedang membantu Nida mengenakan gamis polos berwarna putih dengan aksen pita pada bagian dada. Dipadukan dengan pashmina berbahan ceruti berwarna cream yang menambah manis penampilan gadis yang sedang menatap kosong ke arah cermin besar di dekat jendela.


"Sini Ibu, biar Nida pasang jarumnya sendiri! " pinta Nida sambil meraba dagunya untuk mengaitkan kedua sisi pashminanya menggunakan jarum.


"Sudah cantik anak gadis Ibu, mau pakai lipstik warna apa nduk?"


"Yang warna nude aja Bu, ada di rak susunan paling kanan, hehe."


Untuk pertama kali setelah Nida kecelakaan Om Azlan dan keluarganya memutuskan untuk merayakan lebaran di Indonesia. Setidaknya bisa mengurangi sedikit rasa sedih dan sepi ibu dan anak itu.


Setelah selesai berdandan alakadar, Bu Hanna menuntun Nida keluar kamar menuju ruang tamu, Nida sedang tidak ingin menggunakan kursi rodanya pagi itu.


Kinan dan kedua orang tuanya sudah lebih dulu di sana, menunggu hampir 15 menit berlalu.


"Anti cantik sekaliiii! " ucap kak Endah seakan menirukan ocehan bayi berumur satu tahun yang sedang di pangkunya.


"Terima kasih sayang Anti! " jawab Nida sambil mencubit gemas pipi Kinan.


Proses sungkeman pun selesai dilaksanakan.


***


Tuttt... tuttt...


"Assalamualaikum Nek! pengen pulaaang! pengen makan opor Nenek! " rengek laki-laki berbadan besar yang sedang ldr dengan neneknya, siapa lagi kalau bukan Rifan.


"Hoyyyy! enak Nekkk aduh rugi banget kan nek si Ipan nggak di sini, nyammm nyammm nyammm! "


Dengan sembrono, Doni langsung masuk memenuhi layar hp yang tadinya tersambung ke nenek sambil memegang sepiring opor lengkap dengan ketupat.


"Eh kutu kudanil ngapain lo di rumah gue! Nek usir Nek! "


"Sudah sudah, jangan berkelahi terus kalian ini!"


"Pan minta maaf dong lo ama gue. Nggak sopan banget gini gini gue lebih tua dari lo! "


"Najis banget, ahahaha lagian lo kan kristen *****, sadar lo numpang makan terus di rumah gue! "


"Lah iya ya lupa ahahaha."

__ADS_1


"Don, tolongin dong!"


"Bayaran berapa dulu ni? "


"Serius kampret! "


"Ha apaan? "


"Tolong lo kerumah Nida, terus pura-pura aja gue vc lo tiba-tiba nah, kan nggak mungkin dia nolak tuh kan? Eh tapi apa dia mau ya, kayanya Nida mah bener-bener benci gue ya Don? buktinya sekedar nanya kabar pun nggak, jangankan nanyain kabar, semua akun sosmednya off, deuhh. "


"Gue bingung, salah gue dimana dan se-gede apa sampe Nida begini ke gue! Menurut lo kenapa coba, masa iya Nida masih cinta ama Zidan trus marah ke gue? masa gitu si? nggak mungkin kan ya Don? "


Doni masih melahap makanannya. Seolah tidak terlalu menghiraukan perkataan Rifan. Padahal jantungnya berdetak cepat, takut kelepasan menyampaikan sesuatu yang tidak boleh di sampaikan. Rifan memang sohibnya tapi janji dengan Nida tetaplah janji yang harus di pegang.


*Pan, asal lo tau Nida juga sayang sama lo. Dia nggak mau lo khawatir di sana!


Dosa apa aku tuhan! Kenapa aku terlibat drama percintaan serumit ini*!?


"EH KUPING BADAKKKK! "


"Ntar Pan yak gue keselek ni, nah ngomong sama nenek lo nah! "


***


"Daa makan ya sayang, kamu makannya dikit banget nanti Ibu sedih lo liat kamu makannya dikit gini." ucap kak Endah sambil menyuapi Nida.


"Nanti ya Kak lanjutin makannya, Aku udah kenyang, Kak Endah di sini lama kan? aku masih kangen Kinan, plis jangan cepet-cepet balik ke Malaysianya! "


"Yahhh... "


"Ya udah kita jalan lagi ya! "


Untuk mengatasi jenuh mengurung diri di kamar, sore itu kak Endah memang berinisiatif mengajak Nida makan sambil jalan-jalan menggunakan kursi rodanya ke halaman depan. Sekedar menghirup udara segar.


Endah adalah salah satu orang yang menyaksikan hubungan pertemanan Nida dan Rifan dari bayi. Entah kenapa detik itu juga Endah ingin menanyakan sesuatu hal pada Nida.


"Boleh Kakak nanya Da? "


"Iya boleh Kak, tanya aja Kak. "


"Kamu nggak pengen nelfon Rifan Da? "


Raut wajah Nida yang semula ceria berangsur berubah menjadi sedih.


"Ehmm eh maksud Kakak anu... " Endah yang merasa salah melontarkan pertanyaan menjadi kikuk dan berusaha mencari pengalihan pembicaraan.


"Nggak apa-apa Kak, sejak kejadian di cafe sore itu aku sadar Aku udah ngelakuin kesalahan besar yang... yaaa akhirnya bikin Aku jadi seperti hari ini, tapi... Aku bahagia, Aku bahagia sekarang Rifan sedang dalam proses menggapai cita-citanya."

__ADS_1


Endah tersenyum mendengar jawaban pasrah dan penuh pengharapan dari Nida. Nampak jelas rasa sayang yang teramat sangat dari sorot mata Nida yang menatap kosong, ternyata kebahagiaan Rifan yang membuat Nida turut bahagia meskipun Nida telah kehilangan segalanya sejak kepergian Rifan.


"Kamu tau Da, Om kamu itu dulu pemalu banget tauuu! "


"Masa si kak, cerita dong Kak awal mula bisa kalian deket !"


"Dulu pas pertama kali Kakak magang di perusahaan mertua Kakak itu kan om kamu udah mau selesai S2 tuh jadi dia sering banget ikut papahnya ngantor, beuhhhh siapa yang nggak kenal anak yang punya perusahaan! "


"Terus terus Kak! "


"Kami itu ketemunya bener-bener kaya yang di ftv ftv gitu Daa, pas Kakak bawa banyak berkas yang mau di kerjain Kakak kan buru-buru tuh jalannya mana berkasnya banyak sampe nutupin muka ehh nabrak dong! "


"Ihh beneran kaya yang di ftv ini mahhh! "


"Pas jatoh itu Kakak cuma fokus ngambilin berkas yang berserakan, setttt... kami saling pandang dalem hati Kakak waktu itu ngomong gini Da, ya Allah nih orang depan mata tolong di jadiin suami hamba ya Allah, ganteng bangetttt mata sayunya kumis tipisnya! "


"Ahahahaha ihh alay! "


Alhamdulillah, Kakak seneng banget liat kamu ketawa lepas gini Da.


"Trus Dia mah bukannya minta nomor hp kek bantuin bawain berkas yang jatoh tadi kek atau paling nggak minta maaf lah kan harusnya, lah ini nggak. Langsung kaya salah tingkah gitu benerin dasi trus pergi, duhhh deg-degan banget Kakak Da, apa kakak terlalu cantik sampe anak yang punya perusahaan aja grogi liat Kakak! "


"Jijayyy banget si ceritanya Kak duhhh nyesel mau dengerin tadi ahahaha! "


Om Azlan tiba-tiba datang dengan membawa Kinan dalam gendongannya.


"Ketawa kok nggak bagi-bagi si kalian ini! "


"Ini nih om mamanya Kinan lagi ghibahin Om nihh! "


Untuk pertama kali setelah kecelakan yang merenggut penglihatannya Nida tertawa lepas seakan mampu melihat dengan jelas celoteh dan kelucuan keluarga kecilnya itu.


Allah itu maha baik, aku bersyukur diberikan keluarga yang luar biasa peduli denganku. Sayangi mereka yang menyayangi saya ya Allah.


Nida larut dalam tawa bersama pasangan suami istri yang saling membela diri dalam perdebatan kecilnya sore itu.


Dalam tawa lepasnya, terbesit tentang seseorang dalam fikiran Nida.


*Fan, mohon maaf lahir bathin ya!


Rasanya aneh, nggak ada rebutan makanan, nggak ada maen kembang api sama anak-anak tetangga, nggak ada suara ribut lo main ps di ruang keluarga, nggak ada rutinitas jengukin mamah papah lo dan ayah gue di makam, nggak ada nenek yang selalu misahin kita pas berantem, gue nggak bisa gangguin kamu ngegame, ngeledekin cupu pas lo lagi ke gep stalking ig cewe-cewe seksi, hahaha


Gemasnyaaa sahabat kecil guee, sahabat? tapi wajar nggak si sahabat punya perasaan ingin memiliki?


Ahh mikir apa si lo Nidaa*.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Terima kasih sudah berkenan membaca episode 14 "Mencintai yang hilang"


Ngga enak bet sama-sama sayang kehalangan keadaan kan readerssss huhuwww


__ADS_2