MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
SALING MENYEMANGATI


__ADS_3

"Bu, Doni udah cerita semuanya. Rifan cuma mau nanya ke Ibu dan Ibu tolong jawab dwnhan jujur dan apa adanya. "


GLEKKK


Air mata lebih dulu mendahului jawaban dari wanita paruh baya yang posisinya berdiri di depan Rifan.


"Apa bener Nida?" Rifan menggantungkan pertanyaannya.


Lagi-lagi belum sempat Bu Hanna menjawab pertanyaan Rifan, Nida justru menyusul Bu Hanna dari arah kamar. Malam itu seakan sudah terencana dengan rapi bahwa Rifan dan Nida harus bertemu dan segera mengakhiri segala ketidakjelasan yang selalu di tutup-tutupi.


"Siapa Bu? " tanya Nida.


DEGGG


Betapa hancur Rifan melihat Nida berjalan ke arahnya dengan meraba-raba dinding dan berusaha mencari pegangan. Dari cara Nida berjalan sudah menjawab segala hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Rifan sebelumnya.


Bu Hanna berbalik ke arah Nida sehingga Rifan nampak jelas bagaimana Nida berjalan ke arahnya.


"Da, lo kenapa? " tanya Rifan parau masih berdiri di depan pintu.


"Bu siapa? "


Bu Hanna hanya diam dengan air mata yang sudah membuat pipinya basah.


"Da, lo kenapa? " merasa Nida belum menyadari suaranya, Rifan mengulang pertanyaannya.


DEGGG


Langkah kaki itu terhenti seketika, Nida sadar siapa laki-laki pemilik suara berat nan serak yang baru saja menanyakan apa yang terjadi pada dirinya itu.


Bukannya menjawab pertanyaan Rifan, Nida segera membalikkan tubuhnya berusaha melangkah kaki untuk kembali ke kamar.


"Tunggu! " menahan lengan Nida.


Posisi Rifan kini membelakangi Nida.


"Kenapa lo nyiksa gue begini Da? "


"Lepas Fan! "


"Sampai lo nangis darah pun nggak akan pernah gue lepas tangan lo. "


"Kenapa lo masih peduli sama gue? "


"Da, lo tanya kenapa? " kali ini Rifan membalikkan tubuh Nida dengan tangannya masih menggenggam erat pergelangan tangan perempuan yang matanya sudah berkaca-kaca itu.


"Kenapa bisa begini Da? "


"Lepasin Fan, lepas! " Nida berusaha menarik lengannya dengan sesegukan.


Merasa Nida tidak bisa di tenangkan lagi, Rifan refleks memeluk Nida yang tingginya hanya sebatas bahu Rifan.


"Lo boleh nangis sepuas lo Da, gue di sini. Maaf karena udah gagal jagain lo, maaf!"


"Fan, lepas. " ucap Nida pelan tanpa perlawanan lagi melainkan isak tangis yang sukses membuat bahu rifan basah oleh air mata Nida.


Gue selalu butuh lo Fan, ternyata berat banget jalanin semuanya tanpa lo.


*Andai gue bisa terus terang ke lo!


Da, maafin gue udah gagal jagain lo. Padahal gue udah janji bakal selalu ada buat lo*!


***


Doni : Ly, gue udah ceritain semuanya ke Ipan.


Lily : Seriusan! kapan? kok bisa?

__ADS_1


Doni : Ceritanya panjang, besok deh kalau ketemu gue cerita Ly.


Lily : Jadi sekarang Rifan dimana?


Doni : Lagi di rumah Nida.


Hampir lima menit berlalu Lily tidak kunjung membalas pesan Doni.


Doni : Ly, tidur?


Doni : Selamat tidur Ly, have a nice dream.


Masa si gue jatuh cinta sama cewe sompral kaya lo Ly.


Ucap Doni sambil mengusap foto profil wa Lily.


Drrrttt... Drrttt... Drrttt


Eh ngajakin vidcall? angkat aja deh.


"Yaelah baru di ucapin selamat malam udah kangen aja lo! "


"Dih geer banget, ceritain dong kok bisa lo cerita ke Rifan. "


"Gue pikir lo udah tidur, itu lagi ngapain si muka lo pake apaan itu? "


"Lagi pake night cream, lo tau nggak si Don. Barusan gue sama Adel abis nangkep maling di rumah gue, gokil nggak tuh hahahha. "


"Maling? Kok bisa? Satpam kemana? "


"Lagi pada pulang kampung, jadi Adel kasi jebakan ke malingnya dengan naburin tepung terigu di depan pintu. Ya alhasil malingnya jatoh dan ketangkep deh, keren kan? "


"Adel emang selalu jenius! "


"Ihh kok Adel doang, gue juga kaliii. " ucap Lily tidak mau kalah sambil menepuk-nepuk pipinya dengan skincare.


"Ceritain Rifan Don! "


"Cewe? "


"Iya cewe, terus... "


"Fandi, where are you!"


Ditengah percakapan Doni dan Lily tiba-tiba Novia terbangun dan memanggil nama Rifan.


"Eh bentar Ly, nanti gue telpon balik. "


Tuttt... Tuttt... Tuttt...


Apa gue salah denger ya, kaya ada suara cewe? dan kamar Doni kok beda dari biasanya? Apa jangan jangan, ah masa si?


Selesai dengan rutinitas skincare malamnya, Lily memilih segera mematikan semua lampu dan tidur. Sebenarnya ia belum bisa benar-benar lelap dalam tidurnya, ia terus terfikir dengan suara perempuan yang sedang bersama Doni.


Sementara itu, Doni nampak begitu keget melihat Novia sudah dengan posisi duduk dan memegangi keningnya.


"Nov, are you okay? Kamu butuh sesuatu? "


"Oh terima kasih saya hanya sedikit pusing, bisa kah tolong ambilkan air? "


"Sebentar. "


"Ini minum, "


"Terima kasih, dimana Fandi? "


"Rifan ada urusan sebentar, nanti pasti kalau urusannya udah selesai dia kesini lagi kok. "

__ADS_1


"Aw! " Novia kembali menekan pelipisnya.


"Nov, kamu pusing?"


"Aku seperti masih berada dalam mimpi. Aku masih tidak percaya Dady sudah pergi untuk selamanya."


Hening, Doni kehabisan kata-kata untuk menanggapi ucapan Novia.


Makin kesini urusannya makin ribet gini tuhan, kasihan banget temen lo ini Pan. Dia pasti kebingungan sekarang, dia nggak punya siapa-siapa lagi.


"Mau nonton tv? "


"Ah tidak usah, apa kamu mengenal perempuan itu? "


"Perempuan? "


"Nida, "


"Oh Nida, Rifan cerita ke kamu juga? "


"Apa dia begitu mencintai perempuan itu? "


"Hah? "


***


Cukup lama Nida terisak di pelukan Rifan, seakan bahu Rifan adalah tempat paling nyaman untuk menyandarkan segala beban yang sebelumnya terasa begitu berat bagi Nida.


Fan, lo nggak pernah nyakitin gue. Gue yang bodoh nggak dengerin apa kata lo.


"Gue salah Da, maafin gue! " ucap Rifan menenangkan Nida.


"Da kita sahabatan kaya dulu lagi ya Da, kita harus lewatin semua ini bareng. Gue yakin lo bakal sembuh, lo bakal balik kaya dulu. "


"Lo nggak salah Fan, gue yang nggak dengerin omongan lo. Andai aja waktu itu gue percaya lo daripada Zidan pasti kejadiannya nggak gini. "


"Kita nggak boleh berandai Da, semuanya udah diatur sama yang maha kuasa. Semua ini nggak akan terjadi tanpa ada hikmah yang bisa kita ambil. Jangan menghindar dari gue lagi, janji! "


Rifan mengulurkan jari kelingkingnya, merenggangkan pelukannya dari Nida.


"J-janji. "


Melihat puteri kesayangannya akhirnya bertemu dengan Rifan membuat hati Bu Hanna merasa begitu senang. Ia dapat melihat semangat di wajah Nida meskipun sekarang Nida masih terisak.


"Ya sudah duduk di ruang depan tv ayok, " ajak Bu Hanna.


Mereka bertiga duduk di depan tv dengan memilih chanel lawak yang dulu sering mereka tonton.


"Rifan sudah selesai pendidikannya di sana? "


"Belum Bu, dikasi libur seminggu. Abis ini berangkat buat ambil profesi. Doain ya Bu, "


"Pasti Nak, "


"Dokter nggak nyaranin cari donor mata buat Nida Bu? "


"Sudah, rencananya Nida mau di bawa ke Swiss disana ada kenalan Papanya Azlan. "


"Alhamdulillah, bisa dong Rifan nengokin Nida nanti. "


"Da, janji sama gue lo nggak boleh lemah semangat, lo mesti bisa lewatin semua ini gue yakin lo bisa!" ucap Rifan menggenggam erat kedua tangan Nida.


"Lo semangat juga!" jawab Nida.


"Besok sore Rifan mesti balik ke Swiss Bu, ayah temen Rifan meninggal. "


"Kita bakal ketemu disana ya Da, gue nungguin lo! "

__ADS_1


Nida tersenyum sambil membayangkan wajah menggemaskan sahabat kecilnya, Rifan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2