MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
HANUM CS


__ADS_3

Jika hatimu tidak pernah untukku, maka orang lain juga tidak akan ku beri kesempatan mendapatkan hatimu


-Hanum-


***


"Num.. liat liat itu kan Zidan. Eh, kok duduk depan depanan sama si Nida gitu, jangan-jangan mereka..." celetuk Dini sembari menutup mulutnya yang sedang duduk bersama Hanum.


"Ihhh kesell banget," jawab hanum dengan sedikit berbisik dan melanjutkan ocehannya.


Lamunanku dikejutkan oleh Zidan yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Entah takdir atau apapun semacamnya, Zidan seaka memang terjadwal untuk selalu menemuiku. Sejujurnya, aku merasa sedikit aneh. Bagaima tidak, kenapa sifat Zidan bisa berubah secepat ini. Padahal dulu untuk menyapa saja Zidan terkesan acuh kepadaku.


"Loh Rifan buru-buru amat, baru aja aku nyampe ni," tanya Zidan sambil mengeluarkan beberapa buku dan laptop dari ranselnya.


Aku masih bergeming, fikiranku masih belum bisa fokus. Masih saja terbayang Rifan dan sekolah musiknya. Padahal Zidan, laki-laki yang kusukai sedang berada di depanku.


"Eh, iya nggak tau tuh, dia mah nggak sibuk tepatnya sok sibuk." jawabku mencoba mencairkan suasana, berusaha mengendalikan diriku sendiri yang sedari tadi masih terfikir tentang Rifan.


"Hahaha iya kali. Anu Da, kamu lagi nggak ada kelas kan? aku mau minta ajarin cara jawab soal test ni. Ada soal matematikanya dikit, kalo pure itung-itungan gini agak nggak mudeng."


"Ooo itu, boleh boleh. Kalo aku ngerti tapi ya? hehehe." jawabku menarik beberapa lembar soal milik Zidan.


Aku memang tidak berani menatap Zidan, tapi aku tau kalau pandangan matanya sedang tertuju ke arah wajahku.


Ahh! jadi grogi gini, kenapa si ni orang ngeliatinnya gitu amat!


"Siapa yang dapetin kamu pasti beruntung Da," ucap Zidan spontan.


"Hah? kamu ngomong apa tadi?" tanyaku berusaha memperjelas, padahal sebenarnya aku mendengar apa yang barusan Zidan katakan.


Apa lagi ngegombal ya ni cowo! hahaha pengen guling-guling saking senengnya.


Coba lihat, betapa pesona Zidan dengan sekejap mampu menghipnotisku, mengalihkan duniaku. Ah!


Tiba-tiba.


BRAKKKK


Hanum menggebrak meja tempatku dan Zidan akan memulai diskusi untuk menyelesaikan soal tes milik Zidan.


"Ehhh cewe gatel, setau gue, lo tuh ngalor ngidul nya selama ini kan sama si Rifan ya? kok ini sekarang mau coba-coba godain Zidan!" gertak Hanum sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.


Tentu aku tidak terima dengan perlakuan Hanum yang tiba-tiba kasar seperti itu. Menghela nafas sebentar kemudian berdiri sambil melipatkan kedua tanganku di depan dada.


Sementara Zidan masih menatap heran pada Hanum.


"Sotoy banget si jadi cewe, dari tadi gue diem ya lo nggunjingin gue, kenapa nyolot gini? mau sama Rifan kek, Zidan kek atau sama Dekan sekalipun bukan urusan lo!" Nadaku santai tapi benar-benar menantang.

__ADS_1


"Lo berani sama gue, sini nihhh iiiiii," Dengan sigap tangannya menarik pashmina berwarna pink saleem yang sedang ku kenakan. Sehingga menimbulkan sedikit robek di bagian dagu karena jarum yang terlepas juga meninggalkan sedikit luka disana akibat goresan jarum.


"Hanum cukup! kamu sebenarnya ada masalah apa sama Nida? kelakuan kamu yang seperti ini bisa aku laporin ke Dekanat," menahan tangan Hanum yang masih berusaha menarik pashminaku


"Aww sakit Zidan, lepasin tangan aku. Aku nggak suka cewe sok suci ini deket-deket sama kamu!" Hanum memberontak, berusaha melepaskan cengkraman dari Zidan.


"Why not?" jawab Zidan sambil menatap sendu kedua bola mataku yang masih sibuk terduduk merapikan pashminaku yang terlepas.


"Aku pacarnya!" jawan Zidan singkat, padat dan jelas.


Satu ruangan tiba-tiba hening, suasana perpustakaan memang mulai sudah tidak begitu nyaman sejak Hanum menggebrak meja. Keadaan menjadi semakin kikuk saat Zidan dengan lantang mengakui bahwa kami berpacaran.


Apa ini? dadaku sesak, fikiranku melayang. Apakah Zidan sedang mengigau?


Sontak, semua mata tertuju pada kami yang memang posisi kami berada di tengah ruang baca. Sehingga memudahkan siapapun bisa langsung melihat keributan yang kami timbulkan dari tempat duduknya masing-masing.


Mendengar pernyataan Zidan, dengan setengah tidak percaya Hanum berangsur mundur meninggalkan kami berdua.


Bahkan, saat mereka (Hanum dan Dini) meninggalkan perpustakaan masih terlihat jelas wajah penuh dendam Hanum. Sepertinya masalahnya denganku memang belum selesai.


"Kamu nggak apa-apa Da? duhh, kok jadi gini si," Zidan terlihat cemas menanyakan kondisiku.


"Nggak apa-apa kok."


Tidak ada percakapan lain. Aku sengaja langsung saja mulai membahas soal, mengalihkan pembicaraan agar suasana sedikit mencair.


***


Hanum kembali menarik rambutku dari sisi luar pashmina.


"Aw sakit... " rintihku yang sadar sedang menghadapi dua wanita setengah gila.


"Lepasin atau lo bakal habis sama Zidan! " tegasku mengancam, tak masuk akal. Padahal aku saja masih belum mengerti apa maksud dari pengakuan Zidan di perpustakaan tadi.


"Kalo gue nggak mau gimana? kalo begini masih mau ngadu ke Zidan? bisa-bisa nya ya Zidan macarin lo, jelas cantikan gue kemana-mana!" cengkeramannya makin keras, kali ini Hanum menghempaskan tubuhku ke lantai wc hingga posisiku berlutut di depannya.


Aku yang sedang berusaha berdiri, ditahan oleh Dini yang menggenggam erat mengunci tanganku ke belakang.


"Nih mandi dulu ya anak manis... " ucap Hanum sambil mengguyurkan segayung air dari keran.


"Hebat juga ya lo, nggak nangis." lanjutnya mengguyurku untuk yang kedua kali.


"Uuu kaciannn," imbuh Dini yang masih dalam posisi mengunci tanganku kebelakang.


Sudah hampir setengah jam, kampus juga mulai sepi karena waktu menunjukkan sudah setengah enam sore. Wc kampus yang ini memang letaknya jauh dari kelas-kelas, hanya digunakan untuk para cs yang tugas di pagi hari.


"Daaa, lo di dalem? gue nyariin kemana-mana ni, haduuu mana telfon nggak di angkat, katanya mau pulang bareng?" panggil Rifan setengah teriak mencariku dari arah luar.

__ADS_1


"Awas aja kalo pulang duluan ama Zidan!" Rifan berdecak kesal dalam hati sambil masih mengotak-atik hp dan terus mencoba menghubungi hp Nida yang memang lowbat dari siang.


Benar, itu memang suara Rifan.


"Rifaaannn!!! gue di sini!"


Hanum dan Dini masih belum menyerah menyiksaku. Kini tangan Hanum menutup mulutku, tentu aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, langsung ku gigit saja tangannya.


"Aww!!!" jeritnya keras.


Rifan yang mendengar teriakanku dan jeritan Hanum, langsung mendobrak pintu wc.


Hanum dan Dini dengan cepat melepaskan cengkramannya pada tubuhku. Seolah tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Sinting ya lo pada!" teriak Rifan yang menyaksikan peristiwa pembullyan di depan matanya dengan penuh amarah.


Rifan langsung menghempaskan tas ransel miliknya tepat ke arah muka Hanum hingga mukanya merah sekali, aku yakin hempasan itu terasa menyakitkan diwajahnya. Dini yang berada di belakangku kini berpindah mendekati Hanum, wajahnya memucat sambil menarik-narik lengan baju Hanum.


Rifan merangkul bahuku, aku yang masih dalam keadaan terduduk dan basah kuyup.


"Abis ini kalian bener-bener bakal abis di ruangan Dekan!" ancam Rifan dengan tatapan tajam yang menakutkan, apalagi bagi para wanita yang menatapnya.


"Loo!!!!" dengan sok berani Hanum menjawab Rifan, beberapa detik berusaha menahan caci makinya, takut emosi Rifan meledak, Hanum mengubah gaya bicaranya.


"Tapi nggak apa-apa coba aja sana! yang penting gue udah puas ngerjain si gatel yang sok suci ini, gue nggak takut. Lagian di sini nggak ada cctv juga, jadi nggak ada bukti. Semoga berhasil!"


"Oiya satu lagi, Rifan iya nama lo Rifan kan? lo itu pura-pura **** apa beneran **** si Fan? masih aja belain cewe orang, kalo udah bertepuk sebelah tangan ya mundur aja kali! ahahaha."


Mendengar ucapan Hanum, Rifan setengah tidak percaya. Memandang kearahku dan kembali bertanya pada Hanum.


"Cewe orang?" tanya Rifan dengan tatapan bingung kepada Hanum.


"Din, cabut!" ajak Hanum pada Dini untuk segera meninggalkan kami.


Ku lihat tangan Rifan yang merangkul bahuku sudah mengepal keras, takut terjadi hal yang tidak diinginkan kugenggam erat tangannya yang masih berada di bahu sebelah kananku.


"*******!!!!" ucap Rifan geram dan berusaha berdiri.


Kembali aku menarik tangan Rifan. Mencoba menenangkan Rifan, membiarkan dua sosok wanita berkelakuan setan itu meninggalkan kami berdua. Mereka melenggang keluar dari wc sambil mengibaskan rambutnya.


Sementara otakku masih berputar mencari alasan apa yang tepat untuk kuceritakan pada Rifan tentang pengakuan Zidan di perpustakaan.


"Udahhh, bantu aku berdiri! besok-besok aja balesnya." pintaku pada Rifan.


BERSAMBUNG...


Terimakasih sudah berkenan membaca episode 4 "Mencintai yang hilang"

__ADS_1


😊😊😊


__ADS_2