
Menemukan alasan terbaik untuk meninggalkan adalah sulit yang tidak memiliki solusi bagi perasaan yang tidak mendapat balasan.
-Rifan-
***
“Kok bisa si ya Allah... perasaan selama ini Hanum nggak pernah kayaknya punya masalah sama lo,” ucap Rifan sambil membantuku berdiri.
“Ya nggak tau lah, memang dari dulu kan suka ngelabrak aja dia mah,” jawabku asal.
Aku kembali membersihkan diri, duduk di bangku koridor kampus bagian depan, dekat parkiran. Melihat baju yang kukenakan basah kuyup, Rifan melepaskan jaketnya.
“Nah pake jaket gue, ntar kedinginan meninggal gue yang repot dah.”
“Ngasi tu yang iklas donggg! pake nyumpahin segala ihh, ”
Mengingat waktu buka puasa yang tidak lama lagi. Rifan mengajakku berbuka puasa ditempat bakso favorit langganan kami sejak SMP.
“Pinjem hp dong, mau wa ibu pulangnya telat ni.”
“Passwordnya!”
“Hah? apaan dah nggak lucu, jangan becandaan udah mau maghrib ini.”
“Ya udah nggak usah.” ucapnya di atas motor sambil memasukkan kembali hpnya ke dalam saku celana.
“Rifan yang ganteng, baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung, pinjem hp mahal lo dong, penting ni, plissss?”
“Nah gitu dong, nih pake aja sepuasnya.”
Untung butuh, kalo nggak issss nggak sudi banget.
Gerutuku kesal dengan sikap Rifan, selalu saja bercanda tidak mengenal tempat dan waktu.
Kami berjalan menuju parkiran motor, aku memilih menunggu di gerbang kampus. Sambil menunggu Rifan mengeluarkan motornya, aku memberitahu ibu akan pulang telat menggunakan hp Rifan, karena hpku benar-benar kehabisan batrai.
Rifan : Ibu, ini Nida. Nida pulang telat kayaknya Bu, mau buka puasa di tempat bakso biasa sama Rifan, nggak apa-apa nggak Bu?
Ibuk Hanna : Iya ndak apa, jangan makan banyak-banyak nanti lauk di rumah nggak ada yang habisin ini. Habis buka langsung pulang ya, bilangin ke Rifan.
“Udah bilang Ibu?”
“Udah.”
__ADS_1
Rifan membawa motor dengan pelan, seakan tau bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
Kami saling diam, tidak ada obrolan receh seperti biasanya. Jarak diantara kami semakin terasa karena tidak ada yang berani memulai pembicaraan.
Memang, Rifan selalu menjaga jarak denganku. Bahkan, kelihatannya dengan semua wanita. Sampai sempat terfikir olehku bagaimana bisa dia mendapatkan pacar. Tapi, kurasa dia masih laki-laki normal seperti laki-laki lain pada umumnya. Alih-alih bercerita tentang wanita yang disukai, keesokan harinya paling sudah ditikung orang lain. Menyedihkan, sebenarnya tidak jauh beda denganku. Hanya kami merasa paling beruntung saja dan selalu membela diri.
“Ngelamun jorok ya lo senyum-senyum sendiri?” tegur Rifan sambil melirik spion.
“Enak ajaaa!” jawabku kesal sambil memukul helm bagian belakang sampai terdengar bunyi.
Plakkk
“Gue tu ya kepikiran, di Indonesia aja yang cewe-cewe nya cantiknya standar, aurat masih lumayan nggak kemana-mana, terus masih sama bahasanya sama yang lo ngerti dan lo pake sehari-hari aja lo nggak bisa dapet pacar, apalagi di Swiss? hahaha cupu banget lo baru nyadar dah gue.”
“Eh pentol bakso dengerin nih ye, lagian seorang Rifandi ahmad kesana tu mau ngejar cita-cita. Aku kan cowo, masih lama lah buat mikir kesitu. Kalo buat seneng-seneng terus pacar-pacaran doang ah males. Kalo udah punya banyak tabungan baru deh nggak usah pacar-pacaran langsung nikah aja biar bisa kelonan tiap hari tanpa takut dosa hahaha,” jawab Rifan setengah berteriak ke belakang karena bibirnya yang tertutup helm.
“Gaya amat lo, otak lo tu yang dibenerin. Tadi sok-sok an ngatain gue yang mikir jorok taunya elo yang otak mesum."
“Dibilangin juga, lo tu jangan asal pilih. Kalo salah pilih, nanti nyeselnya seumur hidup. Selain gue deh yang menurut lo cowo paling sempurna, ya palingan satu diantara seribu lah nemuinnya saking langkanya.”
“Pede gila! ngeremehin selera gue lo?”
“Gue turut seneng deh kalo lo udah nemuin seseorang yang bisa jagain lo selain gue Da,”
Aku mendengar ucapan Rifan, aku tau apa yang dia maksud. Rencana keberangkatannya memang menjadi topik horor untuk dibahas. Saat aku mulai merasakan bahagia karena perasaanku terbalaskan oleh Zidan, disaat yang bersamaan aku harus berpisah dari orang yang selalu disampingku, selalu menjadi tempat keluh kesahku. Sehari tidak bertemu saja bisa uring-uringan karena mengumpulkan sendiri unek-unek dalam hati. Apalagi harus dua tahun?
“Woy! ngelamun kok hobi, udah nyampe ni mau di atas motor sampe teraweh lo?”
Setelah sampai di tempat bakso Pak Hardi, ya namanya pak Hardi, tukang bakso fenomenal sepanjang masa. Dari aku dan Rifan beli bakso pakai sepeda, pakai kaos oblong, celana selutut sampai sekarang kami mulai beranjak dewasa, Pak Hardi tidak jauh berubah. Kini bangku dan meja di sekitar gerobak baksonya saja yang makin bertambah.
“Wah coba lihat siapa yang datang, yang suka pesen bakso dua porsi bayarnya setengah iniiii,” teriak pak hardi yang sedang mengaduk kuah bakso di belakang gerobaknya.
“Syuttttt! jangan kenceng-kenceng dong pak, lagi rame ini. Yaelah pak Hardi mah, itu kan dulu jaman sekolah,” sangkal Rifan sambil mendekati gerobak bakso Pak Hardi.
“Emang sekarang nggak?” tanyaku heran sambil meletakkan tas di meja paling dekat dengan gerobak bakso.
“Yaaa, masih lah ahhahaha. Pak, kayak biasa yaaa,”
“Siap den bagussss,”
Sambil menunggu antrian bakso dan menunggu azan Maghrib aku melepaskan jaket Rifan. Kurasa baju yang kukenakan sudah mulai kering terkena angin.
Melihat Rifan yang asik mengobrol dengan Pak Hardi mengembalikan memori di kepalaku, mengingat banyaknya kenangan manis sekaligus konyol di tempat ini. Dulu kami sering sama-sama kehabisan uang jajan karena membeli mainan-mainan tidak penting. Takut untuk minta uang jajan lagi, kami memutuskan untuk patungan membeli bakso dan selalu saja hanya ku sisakan satu bakso untuk Rifan dan lima lagi aman damai sentosa masuk kedalam lambungku. Anggap saja impas, aku sangat suka pedas sejak kecil karena Rifan tidak suka pedas dan aku harus makan semangkok berdua dengannya tentu saja harus dengan syarat aku boleh makan lima dari enam bakso yang di sajikan Pak Hardi.
__ADS_1
Dasar wanita! Hahahaha.
Pak Hardi yang sedang sibuk membuatkan pesanan untuk para pembeli yang lain belum sempat menyajikan pesananan untuk kami. Daripada menunggu lama, Rifan memutuskan untuk membawa dua mangkok berisi bakso ukuran jumbo dengan kedua tangannya sendiri dengan sangat hati-hati. Dia memang menunggu di dekat gerobak bakso sejak dari pertama turun dari motor.
“Taraaaaaa! sumpah kangen banget kan sama baksonya Pak Hardi Da” Rifan meletakkan dua mangkok bakso di atas meja dengan teriakan penuh semangat.
“Aduhhhh, ngilerrrr Fan.” timpalku sambil menghirup uap dari mangkok bakso di depanku.
Azan maghrib berkumandang. Kami memulai buka puasa dengan meneguk segelas es teh manis. Pak Hardi yang kelihatannya sudah hampir rampung melayani para pembeli memilih berbuka puasa di meja tempat aku dan Rifan duduk. Kulihat peluh di dahinya, wajahnya penuh dengan ikhlas juga nampak pekerja keras, anak-anak pak Hardi pasti bangga dengannya.
“Alhamdulillah masih dikasi rezeki buat berbuka, ngomong-ngomong ni ya kalo bapak liat kalian ini berjodoh lo”
“Aduhhh pak jadi ilang selera makan saya ni Pak.” Rifan menjawab dengan ekspresi seakan kesal.
“Apanya yang nggak selera bambang, orang tinggal kuah begitu.” tegasku sambil menunjuk mangkoknya yang licin menggunakan garpu.
Rifan hanya tertawa kesil sambil menyendokkan kuah bakso terakhir ke dalam mulutnya.
“Den Rifan kan ganteng, gagah lagi lahh nak Nida cantik, imut, kalo kata anak muda jaman sekarang mah apa ya kawat eh kawaiii.” ucap pak Hardi sambil meletakkan kedua telunjuk di pipinya.
“Wihhh pak Hardi gaul pisannnn ey, ini baru ni setuju banget sejuta persen Nida pak.” jawabku heran sambil mengacungkan dua jempol.
“Kawai apaan si?”
“Aku tu imutzzzzzzz, iyakan pak Hardi?”
Kami larut dalam tawa, ditambah dengan ekspresi Rifan seolah ingin memuntahkan semua isi perutnya setelah pengakuan pak Hardi tentang ke-imutanku.
Malam semakin menjelang, setelah selesai menghabiskan semangkok bakso, kami pun berpamitan pulang dengan pak Hardi. Beliau juga sepertinya akan langsung berkemas untuk segera pulang ke rumahnya. Rifan mengantarku pulang sampai di depan pagar rumah.
“Nih helmnya, btw makasih udah nolongin dan nraktirin. Ngaku dehhh you are the only one hero’s after ibu sama mendiang bapak.” ucapku setengah ingin menangis.
“Gue tau kenapa tadi Hanum sampai segitunya ke lo, " ucap Rifan sambil memasang helm yang tadi kukenakan di jok belakang.
"Pasti karena dia nggak terima lo deket sama Zidan kan? gue lihat semuanya, saat Zidan memperjelas hubungan kalian di perpustakaan tadi, gue harus banget nggak ni ngucapin selamat atas status baru lo? ah, nggak usah lah kan? ya udah masuk sana! keburu magribnya abis. Salam sama Ibu." sambil menghidupkan mesin motornya.
"Ngomong-ngomong, tadi itu gue nggak nraktir lo, gue itung lo ngutang hahaha daaah assalamualaikum!”
Rifan meninggalkanku yang masih mematung di depan pagar rumah. Sayup suara motornya makin samar kudengar.
BERSAMBUNG...
Terimak kasih sudah berkenan membaca episode 5 "Mencintai yang hilang" 😊😊😊
__ADS_1