
Tersebab cinta kebahagiaan di rasa. Apa benar ia cinta? bukan kagum semata?
-Rainida-
***
Melihat layar hpku mendapat notifikasi whatsapp dari Zidan, tanpa sadar membuat hatiku sedikit berdebar, ada simpul senyum malu-malu di ujung bibirku.
"Selamat tidur Nida," ucapnya.
Bagaimana bisa? dan kenapa Zidan selalu bersikap seperti ini? sudah hampir dua bulan terakhir dia intens menghubungiku. Padahal, sedikit banyak aku yakin dia sudah tau kalau aku naksir dia sudah sejak lama. Apakah ini pertanda, dia juga memiliki perasaan yang sama denganku? Ah, entah apa yang sedang ada dalam kepalaku ini.
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Menggenggam erat hp yang dari tadi sebenarnya aku sudah sangat siap untuk membalas pesan dari Zidan, tapi hatiku terlalu senang. Sampai langit-langit kamarku nampak indah sekali, seperti melihat Hyun Bin sedang tersenyum padaku.
"Udah tidur kok online?"
Dengan senyuman lebar aku membalas pesan dari Zidan.
"Belum, kamu?"
"Iya belum juga, kalo udah tidur terus siapa dong yang wa kamu ini?hehe Nida, boleh aku nanya sesuatu?"
Apa? apa yang akan Zidan tanyakan? Sungguh, kali ini jantungku berdebar sangat cepat.
"Boleh, nanya aja."
"Besok sore ada kuliah? boleh kita ketemu di taman? sekalian nunggu buka puasa."
DUARRRRR.
Bukan lagi debar yang aku rasakan dalam dadaku, rasa senang itu meledak. Aku bahkan kesulitan mengingat hal apa saja yang terjadi sesaat sebelum aku chating dengan Zidan.
Harus bagaimana aku merespon ajakan Zidan? mana mungkin aku menolaknya, kemarin-kemarin berpapasan saja sudah membuatku memikirkan Zidan sebelum tidur malam.
Sejak SMP aku tidak lagi berani berpacaran karena pernah teramat kecewa, siapa sangka semester awal perkuliahan aku kembali jatuh cinta pada pandangan pertama. Meskipun mampu aku sembunyikan sekian lama, tapi harus aku akui lumayan hebat perasaanku kali ini pada Zidan. Hilang timbul memang, tapi begitu berpapasan atau sekedar melihatnya, walaupun dari kejauhan benar-benar aku selalu terpesona dibuatnya.
Ingin sekali kubalas pesan Zidan dengan iya mau lah, gila aja gamau, mauuu banget Zidan.
Kembali kuhapus pesanku yang terkesan kegirangan tidak karuan itu, tentu aku harus sedikit jual mahal.
"Kenapa tiba-tiba?" tanyaku seakan heran, menutupi kegirangan yang sebenarnya.
"Aku ingin ngobrol lumayan banyak." balas Zidan.
__ADS_1
"Oke, habis sholat Ashar ya Zidan."
Bisa-bisanya membalas pesan dengan memanggil nama Zidan. Bisa saja kan, Zidan mengira bahwa aku sudah baper dan benar memiliki perasaan dengannya. Duh, semua diluar kendaliku.
Tunggu dulu, karena teramat senang aku hampir saja melupakan sesuatu.
Tapi bagaimana caranya izin ke ibu. Aku mengernyitkan dahi dan menopang dagu dengan hp yang masih dalam genggamanku, sembari memikirkan alasan apa yang cocok kugunakan untuk bertemu Zidan besok sore.
Seculun itukah aku? kenapa masih saja takut untuk menceritakan sosok laki-laki yang sedang kusukai. Bukankah aku bukan anak-anak lagi? Bukankah hal ini wajar? apalagi tahun depan aku akan segera menyelesaikan perkuliahan dan akan segera memasuki dunia kerja, harusnya aku sudah memikirkan dan merencanakan beberapa hal terkait masa depan tidak terkecuali tentang siapa yang akan menjadi pendamping hidupku kelak. Harusnya aku sudah terbiasa membicarakan hal-hal seperti ini dengan ibu.
Kenapa hanya pada Rifan aku merasa nyaman melempiaskan keluh kesahku. Kenapa?
"Bertanya pada diri sendiri tidak akan menemukan jawaban Nida!" gerutuku geram sendiri.
Coba bagaimana bisa aku mau minta pendapat Rifan, jelas aku sedang tidak baik-baik saja dengannya. Terlebih jika yang kumintai pendapat adalah hal tentang Zidan.
"Hoammmmh!"
Mataku mulai merasakan kantuk yang teramat berat, aku menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh wajah hingga aku terlelap.
***
Siang yang tak begitu terik, hari ini aku tidak ada kelas. Karena sudah semester akhir mata kuliah pun tidak banyak. Jadi bisa stay dirumah, mengangsur skripsi, sambil membantu beres-beres rumah bersama ibu.
"Lah kenapa bu? biasanya jam dua an." jawabku sedikit terkejut.
"Kamu kok ekspresinya kaget gitu? kenapa memangnya?"
Sampai kapan mau begini, aku harus berterus terang pada ibu. Aku coba memberanikan diri.
"Bu, Zidan ngajak ketemu di taman nanti sore."
DEGGG
Kira-kira bagaimana jawaban ibuku? Rifan pasti sedikit banyak sudah banyak bercerita tentangnya. Meski ibu tidak pernah menanyakan tentang Zidan padaku, tetap saja intinya dia sudah tau
"Anak Ibu kan sudah dewasa. Pasti tau lah mana yang baik dan mana yang buruk atas segala keputusan yang akan dipilih. Ibu nggak nanya bukan berarti ibu ngga tau dan bukan berarti ibu ngga peduli." jawab ibu sambil mengganti chanel tv, tidak berapa lama ibu melanjutkan perkataannya.
"Justru Ibu sangat mempercayai kamu, Ibu tau Nida tidak akan sembarang jatuh hati dengan sesorang bukan? sebelum mengambil suatu tindakan, banyak sekali konsekuensi yang harus kita fikirkan, diantara sekian banyak konsekuensi, fikirkanlah yang mana keputusan yang tidak akan menyakiti orang lain."
Aku hanya tersenyum menanggapi jawaban ibu. Hampir segala keputusanku selalu di-iyakan olehnya, asalkan hal itu merupakan hal yang positif tentunya. Ibu benar-benar wanita yang tak memiliki amarah dalam hidupnya, tidak pernah kulihat wajah marahnya, tidak pernah Ia menunjukkan sedih dan kecewanya, tidak pernah Ia berbagi tentang sedih yang sedang Ia rasakan, yang aku tau Ia selalu sedang baik-baik saja. Meskipun perekonomian keluarga kami tergolong menengah keatas dan cukup untuk segala kebutuhan hidup, aku yakin Ibu pasti selalu berusaha tegar di depanku untuk menyembunyikan segala sedih yang Ia rasakan. Iya Ibuku seorang PNS, guru di sekolah dasar.
Entahlah, tidak bisa kubayangkan bagaimana menjalani hidup tanpanya. Aku teramat, sangat mencintainya.
__ADS_1
***
Sesudah sholat Ashar ku lipat dan ku gantungkan mukenah dan sajadah di gantungan hanger belakang pintu. Berjalan menuju lemari baju, terbesit olehku ootd seperti apa yang akan aku kenakan?
Sepertinya tidak berlebihan jika aku memakai setelah rok pliskirt berwarna mocca, cardigan panjang berwarna hitam dan pashmina yang warnanya sedikit lebih muda dari rok yang akan kupakai.
Mari kita lihat setelan ini di cermin besar yang letaknya tepat di sebelah kanan tempat tidurku, sengaja kuletakkan cermin seukuran badanku itu di sana agar tidak membelakangi cahaya dari jendela.
"Oke, not bad lah." ujarku sambil memutar badan di depan cermin.
Ting...
Notifikasi whatsapp.
"Da, aku udah ditaman. See you, ditunggu."
Mendapati pesan Zidan, dengan segera kuraih slingbag berwarna hitam di dekat meja rias.
"Bu... Nida jalan dulu ya." agak terburu-buru keluar kamar dan langsung mencium tangan ibu.
"Loh nggak bawa motor?" tanya ibu sambil mengikutiku menuju pintu depan.
"Udah pesen gojek kok bu, daah assalamualaikum."
"Waalaikumussalam. Hati-hati nak, jangan sore-sore pulangnya! buka puasa dirumah aja ya? "
"Iyaaa bu" teriakku yang sudah berada di atas motor pak gojek yang perlahan melaju.
***
Sore itu begitu menyenangkan dan menenangkan. Taman yang begitu ramai seakan hening, aku hanya mendengar suara Zidan.
"Hahaha... jadi jadi gimana? kamu jadi ngambil S2 di Malaysia? ya nggak heran si aku, cewe pinter kaya kamu mah, siapa si yang nggak kenal orang dengan ipk tertinggi di fakultas kita selama dua semester terakhir?" tanya Zidan dengan antusias.
"Jadi kamu ngajak aku ketemu cuma gara-gara mau nanya rencana S2 ku?hahaha." jawabku dengan ketawa kecil.
"Ya nggak juga, kan sekalian nyari topik pembicaraan. Dari pada aku nanya makanan dan minuman kesukaan kamu? kan ga berbobot banget."
Kami larut dalam perbincangan lumayan panjang. Aku senang sekali bisa ngobrol sedekat ini dengan Zidan, entah apapun itu tujuan utama Zidan mengajakku bertemu di taman, semoga Ia tidak sedang mempermainkanku.
BERSAMBUNG...
Terimakasih telah membaca episode 2 "Mencintai yang hilang"
__ADS_1