MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
PENGAKUAN LILY


__ADS_3

Aku tlah tau hati ini harus menghindar, tapi kenyataan ku tak bisa.


Maafkan aku terlanjur mencinta.


-Lyodra,Tiara,Ziva-


***


"Lo ngapain injek kaki gue *****! " bisik Rifan di telinga Doni.


"Gue kira gue lagi mimpi lo diminta nikah sama bule, ternyata ini bukan mimpi. "


***


Malam semakin menjelang, Lily sedang mengemas beberapa buku yang tidak lagi terpakai di meja belajarnya.


Ah waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemaren gue maba barengan Nida, haha hihi sana sini.


Tatapannya terhenti pada sebuah buku tulis.


Loh ini buku catatan rumusnya Nida nih, tulisan Nida emang bener-bener rapi. Daa gue kangen hangout bareng! gue harap lo segera dapetin donor mata itu Da.


"Ly, Mami sama Papi pergi dulu ya. Jangan lupa kunci pintu depan sebelum tidur! " teriak sang Mama dari arah ruang keluarga.


"Mami nggak pulang? "


"Nggak, dadaaah! "


Setelah selesai mengemas buku dan memasukkannya ke dalam kardus, Lily merasakan cacing-cacing di perutnya meminta makanan.


Padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Harusnya Lily sudah tidak makan apa-apa. Mengingat pola makannya yang benar-benar dijaga.


"Mbak!" teriak Lily memanggil Mbak Sumi.


"Yah kok lupa sendiri begini gue, kan Mbak Sumi lagi pulang kampung. "


"Dek!" teriak Lily di memanggil Adel.


"Kemana lagi tu bocah, apa udah tidur kali ya? "


Lily memutuskan untuk ke kamar Adel, Adel adalah adik kandungnya yang masih bersekolah SD.


Tok... Tok... Tok...


"Dek, lo tidur ya? Dek? "


Pasti dia nggak nyaut karena takut gue suruh-suruh ni!


"Dek, keluar yuk beli nasgor. Laper Kakak, Kakak beliin deh! "


CEKLEKKK


"Ayuk, Adel udah siap kak! "


"Giliran makan aja cepet! " ucap Lily menoyor Adel.


Tanpa menunggu Lily, Adel lebih dulu keluar rumah dan menunggu di samping gerbang.


Mereka berjalan menuju tempat jualan nasi goreng tidak jauh dari rumah mereka, karena malam semakin larut jalanan kompleks pun semakin sepi.


"Kak? kok sepi amat ya? "


"Syutttt diem deh lo, buruan jalannya! "


"Kak ngomong-ngomong tadi pintu udah di kunci?"


GLEKKK

__ADS_1


Udah gue kunci apa belum ya!


"U-udah. "


Setelah pesanan nasi goreng mereka selesai di masak, Lily dan Adiknya segera pulang ke rumah. Sebenarnya Lily ragu apakah pintu rumahnya sudah terkunci atau belum.


"Kak, lo tau nggak nenek-nenek di kompleks sebelah yang meninggal kemaren sore? "


PLAKKK


"Ihh apaan dah nampol-nampol, orang gue nanya juga? "


"Tau situasi dan kondisi dong Adel, "


"Cemen banget si gitu aja takut,"


"Kak! "


"Huh? "


"Itu di-di di belakang lo, Aaaaaaaaaaaa!"


Dengan jahilnya Adel berlari mendahului dan meninggalkan Kakaknya yang penakut. Meskipun Lily merupakan seorang Kakak, Adel justru jauh lebih pemberani.


Adel lebih dulu sampai rumah, betapa terkejutnya ia melihat gerbang dan pintu depan yang terbuka lebar.


"Kakkkk astaghfirullah, lo lupa ngunci pintu? "


"Huh huh huh, " Lily masih berusaha mengatur nafasnya karena kelakuan Adel tadi.


"Kak, liat pintu rumah kita! "


Lagi-lagi Lily masih mengatur nafasnya, berusaha mencerna apa yang sebenarnya Adel bicarakan.


"Ya Allah Dek, pintu rumah kita kok? "


"Syutttt jangan kenceng-kenceng takutnya ada maling di dalam rumah kita. " kata Adel menenangkan kakaknya.


PRANGGG


"Suara apaan tu Dek?" tanya Lily di belakang Adel dengan setengah berbisik.


"Tuh kan bener Kak, ada maling. "


"Terus kita mau ngapain ini dong malahan kita yang kaya maling begini, mana perut laper lagi!"


"Lo tuh Kakak nggak ada akhlak emang ya, ini nasib harta benda Papi lagi mau di ambil maling sempet-sempetnya mikirin laper. "


Kruyuukkk Kruyuukkk...


"Ye ngomong gue nggak ada akhlak tuh perut lo berisik. "


"Kalo berdebat terus keburu malingnya kabur nih Kak! "


"Iya terus mau ngapain kita ini? "


"Taraaa, inget nggak lo Kak ini tepung sisa temen-temen gue ngerjain gue pas ulang tahun gue minggu lalu, kita sebarin di depan pintu biar pas malingnya keluar kepeleset dehhh. Nah, abis itu baru kita teriakin maling biar di grebek warga. "


"Cerdas gila, siapa dulu Kakaknya! "


Adel menyeringai menanggapi ucapan sombong sang Kakak yang tidak tahu diri.


"Kak! "


"Apa? "


"Kok lama banget ya malingnya keluar keburu pegel nungguin jongkok begini di bawah jendela. Mana kebelet boker! "

__ADS_1


"Perasaan tadi laper kenapa jadi kebelet boker? "


"Nggak tau Kak, "


Perasaan gue nggak enak gini, ini bocah kentutnya kan mematikan. Gue posisinya di belakang dia lagi.


Dua orang laki-laki berbadan besar dengan bertopeng sarung keluar dengan mengangkut tv dan beberapa guci kesayangan Mami.


Beberapa detik mereka berempat saling bertatapan, Lily dan Adel masih dalam posisi jongkoknya di bawah jendela. Sedangkan sang maling menatap dengan tatapan bingung pada Lily dan Adel tepat di tengah pintu.


"Kak itu maling nya! " teriak Adel membuyarkan lamunan Lily dan para maling.


Dua laki-laki bertopeng sarung itu refleks segera berlari kabur.


Benar saja, ide jenius Adel berhasil belum sempat maling-maling itu melangkah lebih jauh, mereka sudah terpelanting dengan posisi tertimpa barang curiannya.


"Ahahahaha! Kak cepet Kak teriakin maling! "


Lily baru saja ingin meneriaki maling yang sedang terkapar di teras rumahnya, niatnya terhenti karena mencium aroma tidak sedap.


"Mal... uh bau telor busuk, lo kentut ya Dek? "


"Hehehe! maliiiiiing... maliiiingggg... maliiiiing! "


Mendengar teriakan Adel, warga sekitar kompleks pun segera berkumpul menuju rumah mereka.


Alangkah terkejutnya warga melihat para maling sudah KO duluan dibuat Adik Kakak yang tinggal di rumah besar nan mewah itu.


"Loh sudah tewas malingnya? " kata salah satu warga.


"Gimana nggak tewas Pak, udah jatuh tertimpa guci sama tv terus di kentutin Si Adel lagi. " ucap Lily malas.


"Ya sudah kami langsung bawa ke kantor polisi saja ya ini Nak Adel dan Nak Lily. Satu lagi pesan Bapak, kalian berdua ini kan anak perempuan, kenapa tidak minta orang tua kalian memperkerjakan pembantu dan beberapa satpam lagi? "


"Mbak Sumi lagi pulang kampung, satpam Mang Diman juga ada acara di kampungnya Pak, tapi nanti deh kami omongin sama mami Papi. Terima kasih Bapak semuaaaa!"


"Ya sudah, sama-sama. Kami akan ronda sekitar kompleks malam ini. "


Setelah warga bubar, Lily dan Adel sama-sama membersihkan teras mereka yang kotor kemudian mengembalikan guci dan tv ke posisi semula.


Mereka menghempaskan tubuh di atas sofa di ruang keluarga, mereka juga kelelahan sampai melupakan rasa lapar.


"Kak! "


"Hah?"


"Lo jadinya mau nikah apa S2? Papi sama Mami kayanya niat banget mau ngejodohin lo sama Kak Agung. "


Lily menoleh lesu ke arah Adiknya. "Dari zaman gue masih bocah kaya lo Dek jawaban gue nggak berubah tentang perjodohan ini! titik. "


"Kenapa? lo punya cowo ya!"


"Nggak, gue suka sama seseorang tapi Dia mah kayanya biasa aja ke gue. "


"Kan bener! "


"Bener apaan? "


"Lo pacaran! "


"Ih sotoy banget udah di bilangin nggak juga, Agung memang sempurna tapi buat Mami sama Papi, gue nggak suka Dek sama Agung. Gue suka sama orang yang nggak akan mungkin keluarga besar kita setuju! ... karena perbedaan yang nggak akan bisa di tentang."


"Susah ya jadi orang gede, mendingan kaya aku cinta monyet nggak mikirin nikah! udah ah Adel laper! "


Adel melenggang ke kamarnya membawa bungkusan nasi goreng miliknya dan meninggalkan bagian Lily di atas meja ruang keluarga.


Gue jatuh cinta sama lo Don! meskipun gue ngerti kita nggak akan bisa bersatu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Terima kasih sudah berkenan membaca episode 26 "Mencintai yang hilang"


__ADS_2