
Kesal dengan ujung yang tak pasti dari penantian bukan alasan untuk berpindah hati di tengah perjalanan.
-Doni-
***
Rifan pov.
"Kamu disini juga? " tanya Nida ditengah keramaian.
Raut wajah Nida terlihat begitu bersemangat menatap Zidan.
"Iya tadi nyariin kamu, hp kamu nggak aktif ya?" jawab Zidan sambil mangambil hp dari saku celana.
"Eh iya, sorry lowbat."
"Kebiasaan aja terus lowbat, besok besok nggak usah bawa hp nggak guna juga lemot kayak orangnya." timpalku mencoba menutupi rasa tidak sukaku pada Zidan.
Walaupun tidak begitu akrab dengan Zidan, aku pernah menjadi panitia acara ulang tahun fakultas. Disitu lah sedikit banyak aku mengenal Zidan.
"Ihhh nyebelin ya lo. " Nida menjawab kesal sambil mencubit pinggangku.
"Da, gue ke Doni dulu ya nanti kalo mau pulang kalo nggak di taman sama Doni palingan di musholla fakultas ya, duluan bro! "
Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka dengan menepuk bahu kanan Zidan sok akrab.
Acara belum sepenuhnya selesai. Masih terdengar riuh gemuruh dalam ballroom padahal Doni sudah mengakhiri acara dan pamit undur diri.
Sementara Hanum dengan wajah yang tidak tau lagi mau di tutupi pakai apa menuruni pentas dan langsung berlari keluar meninggalkan keramaian. Tentu saja disusul dengan cenayangnya, Dini.
Aku dan Doni sudah janjian untuk nongkrong di taman selesai acara. Sebenarnya dengan Nida juga, tapi setelah ku fikir lagi apalagi Nida sudah bertemu Zidan lebih baik dia bersama Zidan dulu.
Di taman kampus.
Aku duduk di bangku panjang di bawah pohon palm dekat gedung dekanat.
"Wasapppp brow!" Doni datang mengejutkanku meloncati sandaran bangku dari arah belakang.
"Nah minum aus kan lu! "
"Kurang ajar lo, hormatin yang puasa dong. "
"Hahaha sengajaaa. Puas banget gw sumpah liat ekspresi Hanum tadi beuhhh. "
Doni memang non muslim tapi dia satu-satunya sohib paling dekat denganku bahkan dari zaman ospek.
"Eh Pan! " panggilan akrab Doni padaku.
"Paan? "
"Berarti tinggal berapa hari lagi dong lo di sini? ga asik bener si jadi maba bareng, lulusnya ke luar negeri. Enak amat ****! "
"Eh gagang panci dengerin ya, apa enaknya ninggalin tempat yang menurut lo paling nyaman yang udah lo tinggalin dari bayi, ninggalin temen-temen, keluarga pokoknya orang-orang tersayang lah. Trus harus langsung bisa beradaptasi di lingkungan yang baru yang sama sekali ga pernah lo tau sebelumnya? kan lo tau Don gue mah ngga pernah jauh dari nenek apalagi setelah mamah sama papa ngga ada."
"Iya si gw ngerti Pan, jadi melow gini pengen mengeluarkan air mata gue jadinya." ucap Doni sambil mengusap-usapkan muka ke lengan bajuku.
"Dih jijay jauh-jauh lo, dikira homo ntar nih sueee!"
"Yah Pan, ntar siapa dong yang ngasi ide gw nulis? beneran sedih gw nih."
"Yaelah Don, tanpa gue tulisan lo tetep idup percaya deh. Coba liat sampai mana? "
__ADS_1
"Baru aja bab 12, pihak novelmedia nargetin harus tamat 20 bab abis lebaran. Biasanya gw kan mesti nanya lo dulu sebelum publish."
*Untuk kepergian yang entah kapan kembali...
Penantian yang tak kunjung memiliki temu...
Juga lirihku menyebut penggalan namamu dalam setiap doa yang kupanjatkan...
Adalah usaha tak berujung yang belum berkesudahan, bahkan hingga hela nafasku hari ini...
Hari ini, saat kau membaca tulisan ini...
Aku tetap seperti tiga bait di awal puisi* *ini...
-Puisi untuk Dinda dari Devan*-
"Dalemmmm bener borrr! Lah ini mantep nih." ucapku salut pada hasil tulisan Doni.
Mendengar responku yang seperti itu, entah kenapa Doni justru memperlihatkan muka lesu kemudian menyandarkan panggungnya ke sandaran bangku.
"Hhhh" menghela nafas panjang sambil sesekali meneguk air dalam botol mineralnya.
"Don, gue bakal balik kok dan pas gue balik nanti tolong janji kalo buku lo udah terbit dan udah kerja dengan sesuai harapan lo, gue yakin lo bisa jadi jurnalis sekaligus penulis buku yang hebat! "
Doni masih diam dengan tatapan lurus kedepan.
"Ngapa dah lo kayak cewek aja si hahaha diem diem ntar ujung-ujung bilang terserah, awas aja lo! "
"Gue keinget pas jaman kita baru kenal Pan, waktu bokap sama nyokap pisah dan memilih menikah lagi dengan selingkuhan mereka masing-masing, waktu itu ngga ada satupun orang yang gue rasa ada dipihak gue sampe suatu malem lo dateng nanyain kenapa gue jarang masuk kelas... "
"Waktu itu lo mabok berat kamar lo udah ngga bebentuk kamar sumpah guepengen nyemprotin parfum sekebon ke kamar lo... "
"Padahal kan kita baru aja hangout 2 kali an lah tapi lo respect banget sama gue, nggak cuma sama gue, si lo itu memang punya jiwa penolong, salut hmm. "
"Pan malem nanti gue kerumah lo yak! "
"Iyeee, gue cabut bye! "
Setelah selesai sholat ashar aku berniat menunggu Nida. Ternyata Nida menghampiriku lebih dulu.
"Fannn!"
"Oy, udah sholat lo? "
"Udah barusan, mmm gue pulang sama Zidan ya Fan, segen mau nolak ajakannya hehe"
"Ohh iyaudah awas ya kalo mampir pacaran dulu di emperan, gue aduin ke ibuk! "
"Nggak nggak, langsung pulang kok, janjiii! " mengulurkan jari kelingking padaku yang sedang memasang tali sepatu.
"Dikit dikit jari kelingking ah males ahahaha hati-hati!"
"Daaaah. "
***
Sepulang dari teraweh bersama nenek, Doni sudah menunggu di depan pintu rumahku sambil main game mobile legend dengan menggunakan earphone ditelinganya.
"Doni sudah lama nunggunya ya? " tanya nenek.
"Mana denger nek dia pake penyumpel kuping, gini nih caranya biar dia denger, liatin nih nek! "
__ADS_1
Padahal aku dan nenek sudah berdiri kurang lebih lima menit di samping kursi tempat Doni fokus dengan hpnya tapi Doni belum juga menyadari keberadaan kami.
Gue bikin budek, budek dah luuuu.
"KEBAKARANNNNNN!!! " berteriak sambil menarik earphone ditelinga Doni.
"Bangs... ehh nenek ehehe udah lama nek? "
"Bangs apa ha? bangs apa? " jawabku menantang.
"Nggak itu tadi ada abang tukang bakso mari mari sini."
"Sudah, ayo masuk ke dalam rumah nanti dikirain ada apa lagi sama warga, ayo Doni!"
Setelah kenyang dan menghabiskan dua piring nasi di dapur, Doni memasang raut menyedihkan, memulai drama yang ratu lebay pun kalah dengan tingkahnya.
"Neneknya Rifan yang cantik sungguh nikmat masakan nenek, aku jadi ingin main kesini tiap hari... aaaaakkkh ups kelepasan. "
"Lebay lebay gue tampol ni ya! "
"Ada ada saja kalian ini, kalau begitu nenek mau tidur dulu ya sudah mengantuk kalian lanjutkan ngobrolnya. "
"Dadaaaah nekkk have a nice dreammm. "
Setelah selesai makan, kami pun berpindah ke kamarku merebahkan diri sambil mabar.
"Pan?"
Doni beranjak dari kasur dan langsung terduduk.
"Apa ngagetin aja **** lagi seru nihh."
"Besok pas lo udah berangkat nenek tinggal sama siapa dong? "
"Ada tuh tante gue, dia bakal tinggal di sini kebetulan banget suaminya pindah tugas di sini."
"Pan? "
"Pan pen pan pen ah males main kan jadinya gue Don!"
"Gue mau nanya ini buat yang terakhir kali, tolong jawab nya jangan becanda ya bambang? "
"Nanya apa? utang lo? udah gue ikhlasin sumpah dah. Nah gue harap kalo gue ada hutang ke lo ya ikhlasin juga yak ahhahaha. "
"Becanda aja teros bisul kuda!"
"Kasian amat tu kuda bisulan hahaha, iya apa gue jawab nih cepetan nanya! "
"Lo yakin nggak mau jujur tentang perasaan lo ke Nida?"
Aku terdiam mendengar pertanyaan Doni. Pandanganku fokus pada hp yang sebenarnya sudah terkunci layarnya.
"Dua tahun lo pergi itu ngga sebentar Pan, gue tau seberapa sayang lo sama Nida, kenapa susah banget si mengakui 'iya' ke gue Pan."
"Lo bisa bohongin semua orang tapi ke gue nggak bisa Pan, lo yakin bakal ngelepasin Nida buat Zidan? nggak lucu."
Aku menghela nafas panjang.
"Gue nggak tau, perasaan ini bener apa salah buat Nida, gue cuma pengen ngeliat Nida selalu bahagia. Dan gue liat kebahagiaan Nida pas dia sama Zidan, gue bisa apa Don? "
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Terima kasih sudah berkenan membaca episode 8 "Mencintai yang hilang"