
"Waalaikumussalam... "
Bu Hanna hendak membukakan pintu melihat siapa tamu nya yang datang kali ini. Tapi Nida menahan lengan Bu Hanna yang sedang bangkit dari duduknya.
"Bu, kalau itu Rifan... " Nida memberi jeda sebelum melanjutkan perkataannya.
"Ibu akan coba cari alasan Nduk, "
"Nggak Bu, kalau itu Rifan biarin dia ketemu sama Nida. "
Benar saja, setelah melalui perdebatan panjang antara Rifan, Doni dan Lily. Akhirnya pertahanan Doni roboh, begitupun dengan Lily. Kata-kata Rifan yang menohok, cukup membuat keduanya mati kutu. Mereka memang tidak memberi keterangan secara gamblang apa yang terjadi pada Nida. Doni lebih memilih untuk mengajak Rifan langsung ke rumah Nida.
Rifan lebih dulu melaju dengan motornya, sementara Doni dan Lily masih melanjutkan sesi foto-foto bersama keluarganya masing-masing.
Bagi Nida hari ini mungkin memang sudah waktunya Rifan tau semuanya. Sebelumnya, Nida sudah memiliki firasat bahwa Rifan akan segera menyusul ke rumah, setelah tau dirinya tidak bersama Lily.
Bu Hanna hanya tersenyum kemudian perlahan melepaskan genggaman tangan Nida pada lengan kanannya. Seakan tau siapa yang berada di sebalik pintu, Bu Hanna juga telah siap menyaksikan pertemuan dua anak manusia yang kisahnya penuh drama bak film di layar kaca.
"Waalaikumussalam... sebentar! " jawab Bu Hanna sambil berjalan ke arah pintu.
Ceklek
"Rifan! alhamdulillah..." tak kuasa menahan air mata, Bu Hanna meneteskan air mata bahkan saat pertama kali tatapan mereka bertemu.
Rifan tentu saja merasa aneh dan bingung dengan ekspresi ibu dari Nida itu.
"Loh Ibu kok nangis? kenapa Bu? Rifan salah ya main ke sini? " tanya Rifan dengan nada bersalah.
Sambil menyeka air mata, "Ndak, ndak kok Fan, ayo masuk! "
"Kenapa cepet banget pulang dari acara wisudaan Bu? biasanya Nida pecicilan dulu? Eh tapi dia nggak tau kan kalo Rifan kesini? "
Rifan mengira Nida sedang membersihkan diri setelah dari pagi lelah di acara Wisudanya.
"E-enggak kok Fan, kamu kapan sampainya? " tanya Bu Hanna pada Rifan.
Belum sempat Rifan melangkah ke ruang keluarga, tempatnya biasa bermain ps dan belajar bersama Nida, tiba-tiba hp nya berdering.
Drrttt... Drrttt...
"Fandi, help me! my Dadyyy! "
"Hallo Nov? kenapa? Dady kamu kenapa?"
Hanya sebatas itu lah obrolan yang Bu Hanna dengar dari mulut Rifan menanggapi sesorang yang sedang menelpon nya. Sepertinya keadaan yang mendesak.
"Bu, Rifan balik dulu ya Bu, nanti Rifan kesini lagi. "
__ADS_1
Rifan memutar langkahnya dan bergegas menuju apartemen tempat Novia dan ayahnya beristirahat.
Baru saja Rifan menghidupkan mesin nototnya Lily dan Doni menyusul dengan wajah kebingungan.
"Mau kemana lo? udah ketemu Nida? " tanya Doni berusaha memastikan.
"Bokap temen gue jantungnya kambuh, kasian dia nggak ada temen. Eh jangan bilang Nida, nanti gue kesini lagi. "
Tanpa menunggu jawaban dari Doni, Rifan meninggalkan halaman rumah Nida dengan kecepatan tinggi.
"Rifan mah makin gede makin ugal-ugalan si ngeri amat! " Lily terkekeh melihat kelakuan Rifan yang tidak berubah caranya mengendarai motor.
"Iya tuh emang, kan bahaya! "
"Dihh lo juga, sama! "
"Kalo boncengin kamu kan nggak Ly." sangkal Doni dengan tersenyum menggoda.
"Eh apa tadi? kamu? nggak salah denger gue? gombal terus gue tabok nanti ya lo! "
"Galak amat, ahahaha ya udah yuk masuk yuk! "
*Entah usahaku yang keberapa yang akan menghadirkan temu,
Taukah kamu
Sedang kamu diam tanpa tanggapan
Taukah kamu
Ini lebih sakit dari sekedar usaha melepaskan
-Hati yang patah milik Devan*-
***
Rifan tergopoh-gopoh berlari menuju kamar rumah sakit yang alamatnya sudah lebih dulu di kirim melalui maps oleh Novia.
Bagaimana tidak, Rifan merasa bertanggung jawab atas Novia dan ayahnya di sini.
"Nov, are you okay? " tanya Rifan pada Novia yang sedang duduk di depan kamar ayahnya.
"Iam okay, but Dady... "
"Tenang Nov, insyaallah Dady kamu nggak kenapa-napa. "
Mr. Jhon memang memiliki riwayat penyakit jantung akut. Meski Rifan tidak mengenal betul ayah Novia, nyatanya Novia sering menceritakan ayahnya pada Rifan. Mereka juga sering bertemu hanya untuk sekedar makan bersama. Sungguh, keluarga Novia terlampau baik bagi Rifan.
__ADS_1
Sambil menunggu Dokter keluar dari kamar Mr. Jhon. Novia terus saja menunduk dan membacakan doa untuk keselamatan ayahnya. Rifan yang juga duduk di sampingnya juga ikut merasakan kesedihan dari sahabatnya itu.
Entah sejak kapan bermula, perlahan Novia menyenderkan kepalanya pada bahu Rifan.
Dengan setengah terkejut Rifan refleks ingin menyingkirkan Novia dari pundaknya. Tapi tangannya terhenti ketika melihat kedua mata indah milik Novia terpejam dengan keadaan pipi sedikit basah karena air mata.
Bulu matanya yang lentik, pipi nya yang kemerahan juga bibir tipisnya yang berwarna merah muda.
"Astagfirullah...! "
Rifan menggelengkan kepalanya sambil mengusap-ngusap dadanya.
"Da... perasaan di senderin lo nggak bikin deg-degan begini Da, apa karena waktu itu kita masih bocah ya?"
Dengan Novia yang terlelap di bahunya, masih sempat Rifan memikirkan Nida. Betapa kenangannya bersama Nida memang tidak pernah hilang dari ingatan.
Hari sudah hampir gelap, Dokter pun keluar dari kamar Mr. Jhon.
"B-bagaimana my Dady?" tanya Novia berdiri antusias sambil mengucek kedua matanya.
"Ayah kamu sepertinya sudah lama sekali tidak kambuh jantungnya sehingga membuatnya lalai untuk cek up, benarkah begitu? "
"Iya saya kira begitu, sudah hampir dua tahun Dady tidak pernah mengeluhkan jantungnya. Kami pikir Dady baik-baik saja. "
"Kondisi ayah kamu memburuk, akan lebih baik jika perawatan di lakukan oleh Dokter yang memang menangani penyakit ayahmu dari awal. Dengan berat hati kami menyampaikan bahwa alat medis yang kami miliki juga kurang memadai di sini. Saya menyarankan agar besok Mr. Jhon segera di pulangkan agar mendapatkan perawatan di Swiss."
Novia terdiam mendengar jawaban dari Dokter yang baru saja menangani ayahnya. Kembali bulir air mata jatuh membasahi pipi nya.
"Its okay Nov, kita harus pulang besok sore. Aku yakin Dady pasti sehat kok! "
"But, bagaimana dengan kamu? kamu tentu belum puas untuk bersama keluarga dan teman-temanmu bukan? ah aku jadi merasa bersalah. " ucap Novia menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya sambil memposisikan diri untuk duduk.
"Untuk saat ini, kesehatan ayahmu yang paling penting! "
Rifan sedang dalam kondisi serba salah antara ingin segera menuntaskan pertemuannya dengan Nida atau memilih terus berada di samping Novia.
Sementara itu dirumah Nida.
"Rifan lama banget ya Bu, Doni sama Lily udah balik dari tadi. Apa sesibuk itu? "
"Ibu juga nggak tau Nduk, tadi kelihatannya sedang dalam keadaan mendesak sekali. "
Saat gue udah siap ketemu lo, kenapa seakan lo menghindar gini Fan?
BERSAMBUNG...
Terima kasih sudah berkenan membaca episode 22 "Mencintai yang hilang"
__ADS_1