MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
TERUNGKAP


__ADS_3

Cinta seringkali membuat buta untuk hal-hal baik yang seakan buruk, juga untuk hal-hal buruk yang nampak baik.


***


AUTHOR POV


Rifan sedang berusaha mencari cara untuk menyatakan perasaannya dengan Nida. Bagaimanapun, apa yang dikatakan oleh Doni itu benar.


Sesekali membuka whatsapp dan mencari kontak dengan nama "Nida" mencoba memulai chat, kemudian menghapusnya kembali.


Seterusnya begitu.


Aneh banget si lo Fan, apaan dah jadi canggung begini!


Ucap Rifan kesal dalam hati sambil mengetuk-ngetukkan pelan hp di keningnya.


Ting...


*W*hatsapp dari seseorang yang asing namanya. Kontaknya sudah lama tersimpan, tapi rasanya baru kali ini berkontak.


Zidan : Bro, misi gue selesai. Sorry banget semua gue lakuin demi Bokap!


Tidak ada sedikitpun niat Rifan untuk merespon pesan Zidan. Tangannya sudah mengepal keras.


Bergegas Rifan mengambil jaket menuju ke rumah Nida.


Da, maafin gue. Gue kira Zidan nggak mungkin ngelakuin ini. Gue salah Da, gue gagal ngelindungin lobDa!


"Assalamualaikum Nidaaa! "


"Waalaikumussalam, eh Rifan ayok masuk! "


Kedatangan Rifan disambut hangat oleh bu Hanna.


Rifan masuk ke ruang tamu dan menemui om Azlan juga kak Endah.


"Sudah besar saja kamu Fan, dulu perasaan masih pake kaos singlet sepedaan depan rumah hahaha. " sapa kak Endah hangat.


"Ya kan juga dikasi makan sama nenek ya gede lah kak, oh iya ngomong-ngomong Nida kemana nih Bu? "


"Ada tuh di taman belakang, samperin gih! " suruh kak Endah.


Di taman belakang


"Da!"


"Dihhh nangis lo, ngapain?"


Nida tidak menjawab pertanyaan Rifan. Hanya tatapan kosong lurus kedepan.


"Da, gue ngerti. Om Azlan udah cerita semuanya tadi."


"Tinggalin gue sendiri Fan! "


"Kali ini gue nggak bakal nurutin kemauan lo Da, lo harus dengerin gue! "


"Orang yang om Azlan maksud itu kita kenal Da!"


"Maksud kamu? "


"Keluarga Zidan! mereka hanya ingin manfaatin lo, Zidan mau lo menandatangani surat persetujuan pengalihan hak kekayaan yang om Azlan bicarakan tadi, Da gue fikir Zidan nggak sejahat itu, makanya gue biarin dia deketin lo!"


"Ngaco! hhhh."

__ADS_1


"Karena lo nggak suka Zidan lo malah nyari keuntungan dari keadaan genting ini untuk memfitnah Zidan? Fan, gue ngerti lo nggak pernah suka sama Zidan karena Zidan punya segalanya kan? karena kamu merasa kalah populer di fakultas dengan Zidan? gue benci sama lo Fan?!"


PLAKKKKK


Rifan meraba pipi sebelah kanannya yang tertinggal bekas lima jari dari tamparan keras Nida.


Nida kembali masuk ke dalam kamar.


Sementara itu keadaan di ruang tamu belum sepenuhnya mencair. Om Azlan, kak Endah dan buk Hanna masih berusaha mencari solusi terbaik untuk pertemuan nanti malam.


Hari menunjukkan pukul 05:00 sore.


"Bu, Om, kak Endah. Nida pergi sebentar! "


"Lah mau kemana Da, bentar lagi buka puasa ini! " Om Azlan berusaha mencegah.


"Bentar doang om, Assalamualaikum! "


Sementara itu Rifan masih di taman belakang mengelus-elus pipi nya yang masih terasa panas.


***


"Kamu kenapa nangis gini si sayang? "


Nida hanya memikirkan Zidan, entah apa yang ada dalam kepalanya sampai di saat seperti ini pun hanya ingin menemui Zidan.


Tidak habis fikir Rifan tega mengatakan hal-hal buruk dan menfitnah Zidan.


Bukannya menenangkanku, malahan menjelek-jelekkan Zidan. Lo kenapa Fan? lo bukan Rifan yang gue kenal!


Ucap Nida dalam hati sambil menyeka air mata dihadapan Zidan.


Mereka bertemu di salah satu cafe dekat kampus.


"Da, kamu ternyata polos banget si!"


"Maksud kamu? "


"...?" Nida masih belum mengerti dan mengernyitkan dahi.


Zidan terlihat mengeluarkan map berwarna merah dengan selembar kertas bermatrai di dalamnya.


"Kamu lihat ini! " sambil memperlihatkan selembar kertas bermatrai tadi.


"Itu surat apa Zidan? "


"Kamu tau ayahku?"


"Iya tau. Salah satu investor terbesar kampus! "


"Sebelumnya aku mau minta maaf kalau cara aku salah ahahaha, sebenernya aku nggak pernah bener-bener cinta sama kamu Da!" ucap Zidan bengis mendekatkan wajah sambil mengangkat dagu Nida dengan tangan kanannya.


"Kamu!"


Seakan mengerti isi surat yang di perlihatkan Zidan, Nida berusaha merebutnya dari tangan Zidan.


"Eitss nggak semudah itu sayangku! lihat ini! ini kamu yang tanda tangan sendiri loh. Coba ingat lagi deh sayang pas kemaren kita sering belajar bareng itu lo! "


"Brengsek!!!!"


Nida melayangkan tamparan keras yang mampu ditangkis lebih dulu oleh Zidan. Kini keadaan berbalik, pergelangan tangan Nida di cengkeram keras oleh Zidan.


"Aw sakit! "

__ADS_1


"Kamu, Ibumu dan keluarga besarmu itu sampai kapanpun nggak akan bisa milikin sepeser pun uang dari perusahaan ayahku! "


"Cihhhh?! jaga mulut kamu!"


Ucapan sombong Zidan dibalas dengan ludahan dari mulut Nida.


Suasana cafe sore itu mulai ramai mengingat waktu berbuka puasa tidak lama lagi.


Zidan yang makin terbakar emosi kini mencengkeram pipi Nida dengan keras, hingga Nida sulit untuk berbicara. Tanpa memperdulikan para pengunjung cafe melihat ke arah mereka berdua, Zidan masih dalam posisinya.


"A-aa ku pi-kir k-amu ora-ng y-ang ba-ik, a-ku sa-lah apa Zidan!" ucap Nida terbata-bata dan meringis kesakitan.


BUGGGGGH


"Sekali lagi lo berani nyentuh Nida gw bikin lo nyesel seumur hidup anj***!!!!"


Rifan sedikit terlambat, Nida telah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Zidan hampir tiga puluh menit berlalu.


Lengan tangan juga rahangnya yang dirasa begitu sakit akibat perlakuan kasar Zidan semakin sakit rasanya ketika cengkraman Zidan itu terlepas tiba-tiba.


BUGGGGH


Zidan membalas pukulan keras Rifan tapi bukan pada wajah, melainkan bagian perut.


Nida yang masih kesakitan tidak kuasa lagi untuk melerai adu tinju dua laki-laki di depannya.


Untung saja pihak cafe segera memisahkan perkelahian Zidan dan Rifan.


Zidan meninggalkan cafe lebih dulu.


"Urusan gue sama lo belum selesai!" ucap Zidan keluar dari cafe sambil menatap Rifan dengan tajam.


***


Seminggu berlalu sejak kejadian di cafe sore itu.


Sehari sebelum keberangkatan Rifan ke Swiss.


Belum ada solusi terbaik dari permasalahan keluarga Nida. Mengetahui bahwa surat pengalihan hak kekayaan sudah ditandatangi oleh Nida sendiri membuat om Azlan benar-benar kehilangan peluang untuk membantu merebut kembali hak mendiang ayah Nida.


Om Azlan dan kak Endah sudah pulang ke Malaysia.


Seperti biasa Bu Hanna tetap tabah dan selalu mengatakan hal-hal positif pada Nida. Memang bukan masalah harta, tapi harga diri dan martabat yang sudah direndahkan oleh keluarga Zidan. Terlebih Nida yang telah menjadi umpan pada permainan licik Zidan.


Entah kapan dan bagaimana cara Zidan mendapatkan tanda tangan Nida, pastinya dengan cara licik yang tanpa Nida sadari.


Nida sangat terpukul, tidak menyangka bahwa laki-laki yang teramat ia cinta yang baru saja kemarin rasanya mereka saling menyatakan perasaan suka, justru yang kini membuat hatinya hancur tidak berbentuk.


Gue malu mau ketemu lo Fan, gue bahkan nggak bisa maafin diri gue sendiri! gue gelap mata Fan! gue nyesel nggak dengerin lo!


Ucap Nida dalam hati sambil memeluk erat foto masa kecil mereka berdua.


Benar, foto yang sama persis Rifan pajang di meja belajar di kamarnya. Hanya saja foto yang Nida miliki berukuran lebih kecil.


***


"Hallo Da, udah mendingan? gue besok... "


"Udah kok, gue mau istirahat Fan! "


Tuttt... tuttt... tuttt...


Nida tidak sadar ia baru saja melewatkan detik-detik berharga.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Terima kasih sudah berkenan membaca episode 10 "Mencintai yang hilang"


__ADS_2