MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
PERMINTAAN SULIT


__ADS_3

Mungkin kedepan keadaan tidak akan selalu baik-baik saja, tapi percayalah usahaku tetap untuk kembali kepadamu.


***


Selesai berbincang-bincang dengan Nida dan Bu Hanna, ada sedikit rasa lega di hati Rifan. Meski nyatanya hatinya begitu hancur melihat Nida yang sekarang tidak bisa melihat.


Sambil menaiki moge kesayangannya, Rifan menarik nafasnya dalam. Melaju dengan kecepatan standar di tengah keramaian malam kota.


Da, gue nggak akan pernah lupain janji gue buat jagain lo. Lo mesti sembuh, gue nggak peduli meskipun nyawa gue taruhannya.


Sesampainya Rifan di lobi hotel, ia teringat untuk segera mengabari Tantenya.


Rifan : Tan gue nggak pulang yah, bokapnya Novia meninggal dunia di rumah sakit.


Maya : Innalillahiwainnailaihirojiun, Novia siapa si?


Rifan : Itu temen gue yang bule Jerman.


Maya : Jadi lo tidur di rumah sakit?


Rifan : Nggak di hotel Tan.


Maya : Ya Allah lo mau ngapain anak gadis orang si?


Rifan : Ada Doni, ya kali gue berduaan doang -_-


Maya : Ya mana tau, ngikut pergaulan di sana lo hahaha.


Rifan : Udah ah brisik amat lo Tan, masakin sarapan yang enak Tan ya! sore nya gue kan mau balik.


Maya : Nanti deh dipikir-pikir dulu ya. Bye.


Rifan mengetuk pintu kamar Novia, ia berharap Novia sudah tertidur dan Doni yang membukakan pintu.


Tokkk... Tokkk... Tokkk...


"Don, tidur! " ucap Rifan dari luar pelan.


CEKLEK


Benar saja Doni yang membukakan pintu kamar tapi ternyata Novia belum tertidur seperti yang Rifan bayangkan.


"Novia panas banget badannya dari tadi, ini udah gue kompres nggak turun turun panasnya! "


Rifan mendekati tempat tidur Novia dan menempelkan punggung tangannya pada dahi Novia.


"Nov, kita ke rumah sakit ya? "


"No, tidak mau. "


"Gue juga udah bujukin dia dari tadi, tapi nggak mau. " timpal Doni.


"Nov, kalau panas kamu tinggi seperti ini gimana kita mau pulang besok sore?"


"Saya hanya ingin kamu di sini. "


Doni membelalakkan matanya mendengar perkataan Novia. Ia tidak menyangka Novia begitu berani mengucapkan hal seperti itu pada Rifan. Karena merasa salah tingkah, Doni berpura-pura memainkan hpnya.

__ADS_1


Bukannya menanggapi Novia, Rifan malah diam seakan ada hal lain yang sedang difikirkan.


"Fandi, are u hear me? "


"Iya, kalau gitu biar aku beli paracetamol buat kamu dulu ya! "


"Kenapa kamu menghindariku, kamu padahal tau saya sangat lemah sekarang ini. "


"Kalau aku menghindari kamu, aku nggak akan balik kesini buat nemenin kamu. Aku bakal biarin Doni sendiri. "


"Kalau begitu, penuhilah janjimu pada Dady!"


"Aku sedang berusaha menjaga kamu Nov. "


"Nikahi aku, aku ingin menjadi islam seperti kamu Fandi!"


Hah? apa? gue nggak salah denger ini?


Mendengar perkataan Novia, sekarang Rifan dan Doni sama terkejutnya dan hampir tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar dari mulut seorang perempuan cantik yang sedang panas tinggi.


"Bukankah kamu sudah berjanji? "


Iya gue janji jagain lo, bukan buat nikahin lo. Gue masih pengen yang jadi ibu dari anak-anak gue itu Nida bukan lo. Tapi gue nggak tega juga sama kondisi lo sekarang Nov.


"Nov, kamu lebih baik istirahat. Biar aku yang ngompres kamu, sini Don mangkoknya! "


"Hah? Nah. " Doni menyodorkan mangkok berisi air hangat dan selembar handuk kecil.


"Kenapa kamu tidak menanggapi permintaan saya? apa kamu begitu mencintai Nida? "


"Nov,"


Rifan melirik ke arah Doni yang berdiri di sampingnya.


Posisi Rifan memang sedang duduk di tempat tidur Novia.


"Kalau kamu tidak mau ya sudah, iam fine. Tinggalkan saya sendiri. "


"Nov, badan kamu panas banget ini. "


Novia menyelimuti tubuhnya sampai sebatas leher, ac pun sudah di matikan. Tapi tubuh Novia tetap menggigil, padahal suhu tubuhnya sangat panas.


Dadd, dadyyy...


Rintih Novia dalam setengah sadarnya.


"Gimana nih, tambah menggigil! " ucap Doni pada Rifan khawatir.


"Please Nov, Dady kamu pasti sedih lihat kamu seperti ini! dengerin aku, aku akan menjaga kamu sesuai janjiku padi Dadymu, percayalah! "


Novia membuka selimutnya dan menatap tajam ke arah Rifan.


"Selamanya? "


"I-iya." jawab Rifan ragu.


"Berjanjilah! "

__ADS_1


***


Dinda,


Sudah reda marahmu, muncul kembali merah di pipimu


Warna kesukaan pada wajah wanita impian


Meski kamu sendiri tidak lagi mampu menikmati wajah cantikmu


Aku selalu disini, menjagamu


-Puisi untuk Dinda dari Devan-


Malam setelah bertemu Rifan membuat Nida kesulitan untuk tertidur. Ia terus saja memikirkan Rifan, akhirnya setelah setahun menahan diri untuk tidak berkontak dengan sahabatnya, kini ia kembali bisa mendengar langsung suara Rifan. Bahkan bisa dipeluk, ditenangkan dan disemangati oleh Rifan.


Huh, alhamdulillah. Ternyata bertemu lagi sama lo sama sekali nggak memperburuk keadaan Fan. Gue justru jadi semangat untuk bisa liat lagi, lo pasti udah tambag dewasa dan tambah rapi sekarang. Kangen ngelakban kumis tipis lo pas lo ketiduran di rumah gue. Apa lo sadar Pan kalau rasa sayang gue ke lo sekarang lebih dari sekedar sahabat, tapi apa mungkin lo juga sama?


***


Setelah berusaha dan membujuk Novia dengan berbagai cara, akhirnya Novia mau meminum obat yang dibeli oleh Rifan.


Pagi telah menjelang, Rifan bengun lebih dulu karena mendengar Azan subuh dari aplikasi di hpnya. Ia belum beranjak, menatap layar hp kemudian meletakkannya kembali di atas meja. Sesekali melirik ke tempat tidur Novia dan Doni yang tertidur dengan posisi telungkup. Dengan pencahayaan yang minim samar Rifan seperti melihat bayangan Ibu nya,


"Nang, sehat kamu? sudah lama Mama nggak jengukin kamu ya, Mama tau anak laki-laki Mama itu hebat. Mampu melewati berbagai masalah dan cobaan yang Allah kasi. Kamu harus semakin banyak berdoa, supaya Allah bantu kamu Nang! "


"Ma, Rifan kangen Mama! "


"Mama juga sayang."


Rifan beranjak dari sofa, gerak refleks membawa langkah kakinya menuju Mama nya berdiri.


Baru dua langkah kaki Rifan berpindah, bayangan wanita paling cantik dimatanya itu hilang seketika.


Rifan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengacak rambutnya.


"Mahhh, kenapa sebentar banget si. Rifan masih kangen! "


"Pan! " Doni yang masih belum sepenuhnya terbangun dari tidur, sepertinya sedikit terusik dengan langkah kaki Rifan.


"Lo ngapain berdiri disitu? " tambahnya dengan masih memejamkan mata.


"Nggak ada, gue mau sholat subuh. "


Mendengar jawaban Rifan, Doni melanjutkan tidurnya kembali.


Selesai mangambil wudhu Rifan mengambil sajadah yang memang sudah tersedia sebagai fasilitas kamar hotel. Ia membentangkan sajadah itu di sudut ruangan dekat jendela yang jaraknya tidak terhalang apapun dari tempat tidur Novia.


Rifan sengaja tidak menghidupkan lampu agak Novia dan Doni tidak merasa terganggu.


"Allahuakbar... "


Meskipun terkesan bar-bar Rifan benar-benar fasih dalam bacaan Al-Qurannya. Ditambah dengan suaranya yang merdu, hati perempuan mana yang tidak luluh lantak mendengar suaranya.


"Daddd... " lirih Novia sambil melihat kearah Rifan yang sedang sholat.


Fandi, saya tahu saya akan jadi orang yang jahat setelah ini. Karena saya tidak akan membiarkan Nida memilikimu!

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2