
Novia membantu Doni untuk segera berdiri. Ia merasa bersalah karena membuka pintu secara tiba-tiba.
"Apa kamu baik-baik saja? " tanya Novia berlutut.
"Aw!" teriak Doni pelan saat berusaha mengangkat tangan kanannya.
Doni masih sibuk dengan posisi jatuhnya sehingga belum sempat menatap wajah cantik Novia yang justru sangat dekat dengannya.
"Kita butuh Suster! " ucap Novia sambil menoleh ke arah kanan dan kiri memastikan ada Suster atau Dokter yang lewat.
Sayangnya, keadaan benar-benar sedang sepi. Mungkin sebagian dari mereka sedang melaksanakan sholat Maghrib. Novia kini berinisiatif mengalungkan lengan sebelah kiri Doni pada pundaknya.
Setelah dengan susah payah Novia membantu Doni untuk duduk di kursi akhirnya ia berhasil, meskipun Doni sangat berat bagi Novia.
Aduhhh pergelangan tangan gue! ini patah pasti iniiii!
Doni masih meringis kesakitan dan memegangi lengan kanannya. Posisi jatuhnya yang menumpu pada telapak tangan membuat pergelangan tangan Doni mengalami terkilir. Ia belum juga sadar siapa gadis cantik yang menolong sekaligus membuatnya jatuh barusan.
"Hallo, are you okay! kamu tunggu sebentar biar saya panggilkan Dokter! "
Saat Novia berdiri hendak memanggilkan Dokter, Doni refleks mendongak ke arah Novia yang berdiri di sebelahnya. Seketika pupilnya membesar, perutnya mual, ingin mimisan, juga nafasnya tak beraturan.
PLAKKK
"Biasa aja ngeliatin nya! "
Tiba-tiba Rifan datang mengejutkan sambil menampol bahu Doni.
"*******! sakit anjirrrr! "
"Fandi, what are you doing? dia baru saja terjatuh karena aku, pergelangan tangannya sepertinya terkilir. Aku baru saja ingin memanggil Dokter. "
"Mana coba liat? " tanya Rifan memastikan seakan tidak percaya.
"Astagfirullah, ini kok bisa sampe biru keunguan agak kemerah-merahan begini!"
Bukannya merespon ucapan Rifan, Doni sudah kembali melongo menatap Novia tanpa berkedip.
"Mata woy mata! "
"Apaan sih lo, gue lagi menetralisir rasa sakit di pergelangan tangan gue nih. "
Novia tidak memperdulikan apa yang sedang diperdebatkan oleh dua laki-laki di depannya. Ia justru merasa bersalah dan khawatir dengan Doni. Segera memanggil Suster yang kebetulan lewat.
"Please help me, sepertinya tangannya akan patah? " tanya Novia polos pada Suster yang sedang memeriksa pergelangan tangan Doni.
Sementara Doni yang tadinya melotot mendengar perkataan Novia, kini mencoba tenang menutupi rasa sakit dan takutnya.
"Tidak kok, ini hanya..."
"Kaya nya harus di amputasi ini lo Sus, coba lihat udah biru begini Sus! " ucap Rifan dengan santai sambil menunjuk-nunjuk pergelangan tangan Doni.
"Tidak perlu amputasi Mas, Mas ini lebay sekali. Ini hanya terkilir, mari Mas yang ini ikut saya ke ruangan Dokter. " jawab Suster sambil tersenyum.
__ADS_1
Kali ini Rifan memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan karena sebenarnya ia tau kalau Doni benar-benar sedang kesakitan. Mereka bertiga mengikuti Suster tadi menuju ruang Dokter yang tidak jauh dari kamar Mr. John dirawat.
Doni masuk ke dalam ruangan Dokter sendirian, sedangkan Novia dan Rifan menunggu di bangku tunggu di luar ruangan.
"Apa kamu sudah beribadah? "
"Sholat maghrib? "
"Iya. "
"Ooo udah, kamu udah makan Steak nya? "
"Sudah, enak sekali. Aku suka!"
"Alhamdulillah syukur. "
"Apalagi jika kamu menemani aku makan. "
"Hah? "
"Fandi, apa kamu punya wanita spesial? selama aku mengenalmu, aku tidak pernah melihatmu dekat dengan wanita, ya layaknya orang-orang berpacaran. Apa pacarmu berada di sini? di Indonesia? "
"..."
"Kenapa kamu diam saja? "
"..."
"Apa foto wanita yang ada di galeri fotomu itu..."
Galeri? lah kapan ni bule liat galeri hp gue?
Apa sebaiknya gue ceritain aja kali ya tentang Nida?
"Fandi... "
"Ah iya iya sorry aku lagi nggak fokus, kalau pacar aku nggak punya Nov, tapi dari dulu aku selalu punya impian untuk bisa selalu bersama dengan seorang perempuan. Dia... "
Hancur sekali rasanya mendengar ucapan Rifan barusan, Novia benar-benar tidak menyangka bahwa Rifan sama sekali tidak sadar bahwa Novia memiliki perasaan padanya.
"Dia cantik, baik, keras kepala ah banyak yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata pokoknya kalau bahas dia hehe, jadi curhat gini. "
Novia yang tadinya menghadapkan wajahnya pada Rifan kini memilih memalingkan pandangannya lurus ke depan. Seakan tidak membiarkan Rifan melihat genangan air yang siap tumpah membasahi kedua pipi yang kemerahan miliknya.
Sadar akan tidak ada respon dari Novia, Rifan menghentikan ocehannya tentang Nida.
"Nov, kamu mendengarkanku bercerita? "
"Ah, tentu saja. Boleh aku tau siapa nama wanita itu? " jawab Novia berusaha tegar.
"Namanya Nida, Rainida Saqeena." jawab Rifan sambil tersenyum masih belum menatap ke arah Novia.
"Cantik. " ucap Novia menanggapi Rifan.
__ADS_1
"Tapi semuanya berubah sejak aku berangkat ke Swiss. "
"Kenapa? apa dia tidak lagi mencintai kamu? "
"Ah cinta? entahlah. Boro-boro cinta, aku juga nggak tau jelas kesalahan apa yang udah aku lakukan ke Nida sampai dia begitu benci bahkan nggak mau lagi menghubungiku, kontaknya tidak bisa dihubungi. Kamu tau? sehari sebelum aku berangkat aku sudah mengabarinya tapi sama sekali dia tidak perduli."
"Apa kamu sudah menyatakan perasaanmu kepada Nida? "
"Aku pengecut Nov, aku nggak bisa. Aku takut saat aku jujur justru memperburuk keadaan dan aku benar-benar kehilangan dia. "
Mendengar ucapan Rifan yang nampak begitu menyayangi Nida, tanpa sadar Novia meneteskan air matanya. Hatinya begitu sakit, mendengar perkataan laki-laki yang di cintai ternyata begitu mendambakan wanita lain.
"Ngomong-ngomong kok lama si Doni ya, apa beneran di amputasi hahahaha. "
"Eh, kamu kenapa Nov? kamu nangis?"
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya sedih dengan kondisi Daddy. "
*Begitulah laki-laki,
Sering tanpa sadar memberi rasa,
Setelah rasa itu tumbuh dengan subur,
Yang memberi justru kabur,
Maunya apa?
Bohong atau tidak dengan kata-kata cinta,
Dasar Devan buaya!
-Isi hati Dinda saat cemburu buta*-
Selang beberapa menit, Doni keluar dari ruangan Dokter dengan keadaan pergelangan tangannya di balut perban.
"Apa kamu baik-baik saja? aku tidak sengaja tadi, apa rasanya sakit sekali? " tanya Novia segera bangkit dari duduknya begitu khawatir.
"Aman kok, ini mah cuma kaya di gigit semut hehe. Aku Doni, biasa di panggil ganteng. Udah nggak perlu memperkenalkan diri, Rifan udah cerita semuanya tentang kamu. "
"Semua?" tanya Rifan.
"Ganteng? " tanya Novia bingung.
"Iya ganteng itu anu apa ya, hensem. " jawab Doni dengan percaya diri.
"Gue tarik juga lama-lama perban lo ni, udah tua insaf dong Don. "
Begitulah persahabatan Rifan dan Doni, sudah layaknya saudara kandung. Selalu berdebat untuk hal-hal yang tidak sepantasnya diperdebatkan.
Di tengah obrolan kecil Rifan, Doni dan Novia tiba-tiba Suster yang berada di depan ruangan Mawar II berteriak memanggil nama seseorang.
"Nona Novia, apakah di sini ada yang bernama Nona Novia? Mr. John kembali kritis. "
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Terima kasih sudah berkenan membaca episode 24 "Mencintai yang hilang"