MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
SETELAH RIFAN PERGI


__ADS_3

Semua masih asing, di keramaian pun aku tidak merasa bising. Lihat! Bagaimana kita berjarak, tapi hadirmu selalu memenuhi isi kepala.


***


"Kejadiannya seminggu yang lalu, Nida sangat terburu-buru menyusul Rifan ke Bandara. Qodarullah Ibuk juga lupa kalo hari itu Rifan berangkat."


"Saya nggak tau harus ngomong apa Buk! sumpah saya nggak tau kalau kejadiannya jadi gini, saya turut sedih Buk! "


"Buk, apa nggak sebaiknya Nida tetap melanjutkan kuliahnya?" tanya Lily setengah membujuk.


Bu Hanna tidak menjawab pertanyaan Lily, pandangannya seakan jauh menerawang. Pelupuk matanya sudah di genangi air yang siap tumpah membasahi pipi.


"Nak Lily semua keputusan ada di tangan Nida." jawab bu Hanna.


"Buk! boleh saya bicara sama Nida? "


Ucap Doni memberanikan diri meminta izin untuk berbicara dengan Nida.


Pan, Nida kecelakaan dia buta sekarang ! gue ancur banget ngeliat Nida gini. Maap, belum apa-apa gue nggak bisa jaga pujaan hati lo.


Meninggalkan Lily dan Bu Hanna di ruang tamu yang posisinya langsung mengarahkan ke kamar Nida, Doni berlutut di depan kursi roda tempat Nida duduk.


"Daa... " ucap Doni teramat pelan.


Tatapan Nida masih kosong ke arah luar jendala.


"Nida... " kali ini dengan sedikit menepuk pelan lutut Nida.


Nida tersentak dan matanya berusaha mencari arah sumber suara.


"Ly, itu lo Ly? "


Tangannya masih berusaha meraba apapun yang berada di sekeliling untuk memastikan keberadaan seseorang.


"Bukan Da, ini gue Doni."


Matanya tidak lagi mencari arah sumber suara, tangannya ditarik ke pangkuan.


Ada genangan air di ujung matanya.


Cukup lama mereka saling terdiam.


"Da, maaf gue... "


"Nggak perlu minta maaf Don bukan salah lo. " jawab Nida singkat.


"Lo boleh keluar dari kamar gue."

__ADS_1


"Tapi Da, gue harus ngomongin ini... "


"Nggak perlu! "


"Da, gue bisa mati berdiri dibantai Ipan kalau... "


"Pergi!" perintah Nida yang tidak lagi kuasa menahan tangisnya.


"Oke gue pergi tapi setelah lo dengerin gue ngomong! " setengah membentak.


Nida tidak menjawab.


"Da, Rifan sayang banget sama lo! lebih dari sekedar sahabat."


"Jangan kasi tau Rifan Don, gue mohon!" jawab Nida mulai menanggapi Doni.


"Gue bisa nebak kalo sebenarnya lo juga udah tau gimana perasaan Rifan yang sebenernya."


"Untuk itu plis jangan kasi tau Rifan gue memohon dengan sangat Don, gue mohon!"


Nida benar-benar memohon pada Doni agar menyembunyikan hal ini dari Rifan. Rifan tidak boleh tau kondisi Nida saat ini.


Doni hanya diam menatap lekat pada wajah sendu yang menyimpan sejuta luka milik Nida. Hanya mampu bergumam di dalam hati


Kenapa takdir membuat kalian seperti ini? kenapa tuhan harus buat lo buta Da? kenapa begitu sulit bagi lo Pan untuk sekedar menyatakan perasaan? kalau aja semua nggak terlambat pasti ngga gini kejadiannya! gue nggak tau Pan gue harus apa?


***


Dengan tidak mampu lagi untuk melihat Nida merasa akan lebih menyenangkan dalam sunyi dan kesendirian.


Setelah Doni dan Lily pulang Nida meminta tolong ibunya untuk membantu mengambilkan wudhu mengingat waktu ashar telah menjelang.


"Buk..."


"Iya sayang, ada apa? "


"Maaf selalu nyusahin Ibuk."


Keduanya berpelukan dengan air mata tumpah membasahi mukenah yang masih mereka kenakan.


Fan, gue cuma bisa berdoa semoga lekas Allah wujudkan segala impian lo, selalu menjaga kesehatan lo di sana, menjauhkan segala hal buruk yang ingin mendekati lo. Lebih baik seperti ini Fan, kita tidak lagi bisa seperti dulu. Berbahagailah selalu tanpa ada gue.


Setelah kepergian lo, gue masih berusaha hidup dengan baik, setidaknya gue selalu ingin mendengar alunan piano lo meski nggak lagi mampu melihat.


***


Rifan baru saja selesai pada kelas malam. Ia pulang ke perumahan dengan jalan kaki mengingat perumahan yang tidak jauh jaraknya sambil mengingat-ingat not baru yang di dapat pada pertemuan kelas tadi.

__ADS_1


Tinggal bersama dengan berbagai orang dari belahan dunia membuat Rifan jadi sedikit banyak terbiasa menggunakan berbagai bahasa.


Siapa sangka benar saja Rifan selalu menjadi pusat perhatian teman-teman baru wanita nya disana. Bagaimana tidak, badannya yang tinggi tegap, postur wajahnya yang tidak bosan di pandang juga cara bermain pianonya yang menawan selalu sukses membuat yang melihatnya jadi jatuh hati.


Tapi begitulah seorang Rifandi Ahmad, karunia yang tuhan berikan pada fisiknya berbanding terbalik dengan mentalnya dalam urusan mendekati perempuan. Entah mungkin karena Rifan hanya mengenal satu wanita dalam hidupnya, yang sekarang bahkan Rifan tidak tau bagaimana keadaannya di Indonesia sana.


Novia, berasal dari Jerman namun fasih berbahasa indonesia karena ayahnya merupakan orang jawa timur dan sempat lama tinggal di Indonesia.


"Haii Fandi!" sapa Novia saat hampir sudah sampai perumahan tempat tinggal Rifan.


Nama Rifan lebih populer dengan panggilan Fandi di sana.


"Eh haii, mmm... " Rifan masih berusaha mengenali perempuan yang menyapanya.


"Iam... Novia, menyebalkan sekali kamu melupakan nama saya! "


"Aaa i see, sory Nov... efek capek ni! loh kamu tinggal di perumahan sini juga? "


"Iya, aku sering melihat kamu, kamu saja yang tidak tahu saya juga tinggal di sini, ya tepatnya disitu!" sambil menunjuk rumah dengan nomor 29.


"Terlalu sering becandaan sama bule-bule buaya darat dalam rumah jadi ngga terlalu ngeh sama sekitar hehe, sory sekali lagi Nov! "


"Iya tidak apa! mari pulang bersama! "


Mereka berjalan melewati rumah-rumah padat yang lampunya menyala terang. Saling bertukar cerita tentang apapun yang bisa di ceritakan.


Ketidakpekaan Rifan membuat satu kesalahan besar yang akan dia hadapi.


Meski tidak berniat memberi harapan, nyatanya Rifan selalu bersikap baik nan sopan pada siapapun. Hal itu membuat Novia jatuh cinta pada Rifan bahkan sejak pandangan pertama.


Terbiasa dengan laki-laki kasar dan cenderung suka berselingkuh, Novia seperti menemukan sosok terbaik pada diri Rifan. Hal-hal yang tidak pernah Novia temui pada mantan-mantannya.


"Oke sudah sampai, byeee... "


Novi mendekatkan wajahnya pada pipi Rifan.


"Eehh... mau ngapain Nov? "


"Kenapa? hal ini wajar di lakukan orang-orang disini bukan?"


"But sory i can't. See u Nov, bye! " ucap Rifan meninggalkan Novia.


Sikap Rifan yang menolak hanya untuk di cium Novia makin membuat Novia tertarik padanya. Bagi Novia itu mungkin hal biasa tapi berbeda dengan Rifan.


"Da bener kata kamu aku cupu banget ternyata, cewe disini maen nyosor aja, untung aku kuat iman ahahha mana cantik-cantik lagi Da Daa!" gumam Rifan lirih sambil memasukkan kedua tangannya pada saku jaket kemudian melanjutkan langkahnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Terima kasih sudah berkenan membaca episode 13 "Mencintai yang hilang"


__ADS_2