MENCINTAI YANG HILANG

MENCINTAI YANG HILANG
HILANG... GELAP...


__ADS_3

Untukmu yang namanya mengakar dalam dada.


Kuucapkan selamat atas hatiku yang seutuhnya milikmu.


Meski sepihak, aku tetap seperti ini.


Seperti hujan yang menghadirkan pelangi.


Kamu harus tinggal, biar aku saja yang pergi.


-Puisi untuk Dinda dari Devan-


***


"Gila tuh anak nge-mc iya nulis juga iya, gaya bar bar kaya preman lah hati kaya mimi peri ehh ibu peri deng! "


Rifan baru saja selesai membaca episode 11 novelpedia karya Doni. Meski atas segala dorongan dan semangatnya, Rifan sendiri tidak mau terjun langsung ke dunia menulis ia lebih menyukai musik.


Drrrttt... Drrrtttt...


Panjang umur nih anak!


"Ha Assalam... ***** gw selalu lupa lo kristen! "


Lamunan Rifan dikejutkan dengan panggilan wa dari Doni.


"Yaelah sianyingg!!! sombong bener, mentang-mentang besok uda mau caw aja lo! "


"Yaiyalah udah sebel banget ketemu lo tiap hari di kampus, mau ganti selera lah liatin bule bule ahahaha! Eh kesini dong lo kampret! "


"Suee lo! iya nih otw lagi beli martabak, yah itung-itung sebagai tanda perpisahan lah ya! "


"Martabak aja riya' lo, Sippp dah! "


***


Entah apa yang membuat Nida masih enggan berkomunikasi seperti dulu dengan Rifan.


Padahal Rifan sangat ingin bertemu meski hanya sekedar candaan garing di lapak bakso pak Hardi untuk terakhir kali sebelum keberangkatannya.


Berkali-kali mencoba datang ke rumah Nida dan berkali-kali juga Nida beralasan sedang tidak enak badan dan lebih memilih mengurung diri di kamar. Meskipun Nida bersikap begitu dingin, Rifan sama sekali tidak memiliki rasa kesal dan benci pada Nida.


Sementara itu di rumah Nida.


"Nduk! "


"Nida, kok lama sekali kalian marahannya! ngga kasihan tah sama Rifan kamu cuekin terus? "


"Hhhhh"


Nida sangat ingin, kangen banget main sama Rifan buk! tapi Nida malu, ngga sanggup bahkan untuk sekedar ketemu.


"Ibu lagi ngomong loh ini malah ngelamun gitu, kalo marahan terus gini jadinya kan kamu uring-uringan, nggak ada tempat bercerita ngga ada tempat becandaan kan? "


"Nggak apa-apa Bu, Nida masih butuh waktu aja untuk menyendiri! "


"Yang berlalu biarlah berlalu Nduk, nggak mungkin semua ini Allah kasi untuk kita tanpa ada hikmah di sebaliknya! ya udah, tidur gih besok kesiangan sahurnya! "


Sebelum keluar meninggalkan kamar, Bu Hanna mengelus rambut Nida dan mengecup keningnya.


Doni yang baru saja sampai di rumah Rifan langsung nyelonong masuk ke dalam rumah seperti biasanya.


"Kenalin Tante, ini Doni dia mah setelah aku berangkat nggak bakal main di sini kok. Jadi tenang aja makanan di dapur pasti aman! "

__ADS_1


Rifan mengenalkan Doni pada tante nya yang baru saja sampai dari luar kota.


"Kampret lo! "


"Nenek nggak usah sedih nek, hilang cucu yang itu cucu yang ini masih ada! "


Celoteh Doni kepada nenek sambil menepuk-nepuk dada menandakan pengakuan dirinya sebagai cucu nenek juga.


"Hayuuu tes DNA hayuu gelut hayuuu! " ucap Rifan menantang sambil melipat lengan baju.


"Kalian ini selalu bercanda, besok pasti saling kangen ini kan! " jawab nenek melerai adu mulut Rifan dan Doni.


Malam itu keluarga Rifan juga Doni larut dalam tawa.


Begitu indah rasanya, malam hangat yang dua tahun kedepan tidak bisa Rifan rasakan.


Di tengah keramaian Rifan masih saja terfikir tentang Nida.


Da! gue kangen. Kemana sahabat kucel gue yang dulu? cinta pertama yang gue sendiri nggak berani buat ngakuin itu semua? apa bener Da kita cuma ditakdirkan sebagai sahabat? bahkan sekarang kita jauh, lo nggak mau sahabatan lagi sama gue. Da! kapan lo bisa berhenti mengisi hati dan fikiran gue!


"Pan, gue bakal jagain Nida buat lo! gue janji! dan lo juga harus janji bakal balik dan nyatain perasaan lo ke Nida, cari duit yang banyak Pan, nikahin Nida! " bisik Doni yang sedari tadi memperhatikan Rifan sedang melamun.


Rifan hanya tersenyum tipis menanggapi Doni.


***


Setelah berkali-kali mencoba menghubungi Nida via wa tapi tidak kunjung direspon.


Rifan memaksakan menyempatkan diri ke rumah Nida sebelum berangkat ke bandara. Sayangnya, Nida dan bu Hanna sedang kepasar untuk belanja persiapan buka puasa. Rifan mengetahui hal itu dari tetangga Nida.


Rifan memutuskan untuk meninggalkan pesan kepada tetangga Nida yang sedang menyiram tanaman di depan rumahnya itu.


"Bu Nettt, nanti kalo Bu Hanna sama Nida pulang sampaikan kalo saya pamit berangkat ke Swiss ya buk! "


"Ahaha bilang aja gitu Bu nanti, daah assalamualaikum!"


Waalaikumussalam, aneh! masih muda, ngganteng lagi kok mau jadi TKI.


Tetangga Nida yang satu ini memang terkenal agak lola. Buk Neti namanya, lumayan akrab dengan Rifan karena sering tidak sengaja bertemu di depan rumah Nida.


Tidak lama kemudian, Nida dan ibunya pun pulang.


"Daaa! apa iya Rifan temen kamu itu mau jadi TKI? sayang sekali! "


"Bu Neti ngomong apaan si? hahaha. "


"Itu loh, Rifan tadi kesini bilangnya suruh nyampaikan salam dia mau berangkat ke Swiss! "


"Tunggu! Ibu hari ini tanggal berapa?"


Tanpa menunggu jawaban dari Bu Hanna. Nida segera menghidupkan mesin motornya menuju ke rumah Rifan.


"Faan! Assalamualaikum nenek! ... assalamualaikum! Rifaan! "


Nida beberapa kali menggedor pintu dan memanggil-manggil nama Rifan dan nenek. Tapi hasilnya nihil, tidak ada jawaban. Menandakan mereka semua pasti sudah pergi ke Bandara.


Nida kembali membawa motornya melaju menuju Bandara yang jaraknya sekitar 30 menit dari kompleks rumahnya.


Entah apa yang ada di fikiran Nida, ia merasa badannya ringan melayang. Nida tidak perduli apapun yang menghalangi jalan di depannya. Tidak sadar, dengan ngebut seperti itu akan sangat membahayakan keselamatan nyawanya.


"Citttttt...." ngerem mendadak.


"Woy pelan woy nggak liat matanya itu lampu merah! "

__ADS_1


Mata Nida mulai memerah. Bukan karena ucapan kasar bapak-bapak yang hampir ia tabrak di lampu merah itu. Tapi karena bayangan Rifan yang semakin memenuhi isi kepalanya juga rasa bersalah semakin menyesakkan dadanya.


Nida hanya diam menanggapi ucapan kasar bapak-bapak yang menyebrang tadi.


Bulir air mata tidak lagi mampu tertahan untuk membasahi pipi gadis berjilbab maroon itu.


*Samar,


Dinda, jangan menangis


Tidak selalu ada telapak tanganku untuk menghapus air matamu


Pundakku terlalu jauh jaraknya untuk menjadi sandaranmu


Telingaku tak mampu mendengar keluhmu


Tunggu saja dengan duduk manis dirumah


Percaya, saat jauh darimu


Setiap saat adalah usahaku untuk selalu sedang dalam perjalanan pulang kepadamu


-Puisi untuk Dinda dari Devan*-


***


Di Bandara.


"Pan kayanya nggak harus nunggu abis lebaran deh buat nyampe 20 episode gue nih. Nggak tau kenapa dah otak gue akhir-akhir ini lancar banget ngehalu hahaha." ucap Doni sambil menatap layar hp.


Rifan tidak terlalu menghiraukan perkataan Doni terkait novel miliknya.


"Kenapa Nang! kok gelisah gitu?" ucap nenek sembari menepuk-nepuk pundak Rifan pelan.


"Eh nggak apa-apa kok nek, hehe."


Sesekali menatap pintu masuk Bandara, berharap orang yang ditunggu-tunggu muncul dari sana.


Ah nggak mungkin!


***


Pagi itu tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya, seolah mengisyaratkan bagaimana susana hati Nida.


Setelah lampu merah berganti dengan hijau, Nida kembali melaju menerobos hujan. Padahal jas hujan terlipat rapi di dalam jok motor. Tapi ia memilih untuk tidak membuang waktu untuk segera sampai ke Bandara.


Air matanya telah menyatu dengan air hujan yang mengguyur seluruh tubuh. Nida mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Citttttt... citttt... cittt... "


BRAAAAKKKKK


***


Tiga jam berlalu, Nida berhasil melewati masa kritisnya.


"Ibu, Nida mau ketemu Rifan! " ucap Nida parau.


"Ibu, kenapa semuanya gelap? Nida nggak bisa liat Ibu! "


BERSAMBUNG...


Terima kasih sudah berkenan membaca episode 11 "Mencintai yang hilang"

__ADS_1


Author jadi sedih sendiri sama keadaan Nida huhuhuwww


__ADS_2