
"Kenapa diam saja, manis?" tanya Sekar memegang pipi Amel.
"Amel takut," jawab Amel mundur.
"Takut kenapa?" tanya Sekar heran.
“Om ini ganteng-ganteng tapi menakutkan, Amel cantik begini tapi dipelototin begitu, Amel kan takut, Tante,” jawab Amel sambil menunjuk Marsel.
Sekar menahan tawa mendengar pengakuan Amel yang lucu.
"Om ini baik kok orangnya, cuman mukanya aja yang garang. Amel jangan takut ya, kami berdua orang baik-baik," ucap Sekar membelai rambut Amel.
Amel terdiam merasakan kepalanya dielus, terasa menyejukkan.
"Mama," bisik Amel segera mengusap air matanya yang tiba-tiba berlinang jatuh membuat Sekar dan Marsel terkejut.
"Ehhh, Amel kenapa nangis?" tanya Sekar jadi tidak enak.
"Amel kangen Mama," jawab Amel lalu tersenyum.
“Memangnya Mama Amel ke mana?” tanya Sekar dan Marsel sibuk melihat-lihat ke dalam.
“Mama lagi keluar tadi beli takjil, tapi belum pulang,” jawab Amel menunjuk.
"Ini sudah waktu berbuka puasa, Amel hari ini puasa?" tanya Sekar melihat jam tangan Marsel.
"Puasa dong, Tante." Amel pun tersenyum lebar menjawabnya.
"Kalau begitu, Tante dan Om tidak apa-apa bisa masuk ke dalam? Nanti Tante dan Om yang bantuin Amel jaga adeknya," ucap Sekar melihat baby Ai dan Key.
Amel ragu-ragu, tapi melihat jam 20 menit lagi akan berbuka, terpaksa Amel setuju.
“Baiklah, sini masuk,” ajak Amel mendorong kereta bayi ke dalam, disusul Sekar dan Marsel. Setelah itu, hanya Marsel yang duduk di sofa ruang tamu menjaga baby Ai dan Key. Pria yang terlihat agak mencolok itu ditatap oleh dua bayi menggemaskan itu.
Sedangkan Amel dan Sekar di dalam dapur menghidangkan menu buka puasa.
__ADS_1
"Oh ya, Amel di sini tinggalnya sama Mama dan dua adiknya saja?" tanya Sekar sambil meletakkan piring di atas meja. Sekar merasa rumah sebesar ini memiliki keamanan yang masih kurang dan ceroboh membiarkan anak seperti Amel menjaga dua anak bayi sendirian.
"Tidak, Tante. Amel tinggal sama Kakak Arum dan Om Rayden, Mama, dan dua keponakan Amel," jawab Amel menunjuk dua bayi Rayden di sebelah Marsel.
“Kenapa Tante diam?” tanya Amel heran melihat Sekar tampak berpikir.
"Arum? Nama kakak Amel, Arum?" tanya Sekar terbata-bata. Merasa nama ini tidaklah asing.
"Ya, Tante. Nama kakak Amel itu Arum Marchelya," jawab Amel jujur.
Praaang!
Gadis kecil itu terkejut melihat Sekar menjatuhkan piring, mungkin wanita lumpuh itu syok mendengar nama yang disebut Amel. Sekar meroda kursinya ke arah Amel yang ketakutan.
"Siapa namamu, Nak?" desak Sekar memegang dua tangan Amel.
"Kamelia," jawab Amel ingin melepaskan diri tapi genggaman Sekar semakin kuat.
"Kamelia?" batin Sekar melihat lekat-lekat netral gadis kecil itu. Ia pun dengan kedua tangan mengatupkan mulutnya lalu memeluk Amel dan terisak.
"Ya Allah, kamu anakku."
"Lepasin, Tante!" ronta Amel tapi Sekar tenggelam tubuh Amel lalu menarik celana Amel turun. Dua mata coklatnya pun terbelalak melihat tanda lahir bulat di pantat Amel. Tangis Sekar pun semakin menjadi-jadi.
"Ahhhh....kenapa Tante tarik celana Amel?" Amel menepisnya tapi sekali lagi Sekar memeluk tanyanya.
"Sayang, putriku. Ini Mama, Nak."
Amel menggelengkan kepala, tidak paham melihat Sekar menangis di depannya. Akibat suara tangisnya itu, Marsel lari ke arah dapur dan terkejut melihat istri keduanya memeluk Amel.
"Sekar, apa yang terjadi?" tanya Marsel menghampiri mereka.
"Mars, aku menemukan, kita berhasil menemukannya! Arum, putrimu, ada di sini dan dia putri kita, Kamelia, Marsel!" jawab Sekar menarik tangan Marsel dan menunjuk Kamelia.
"Tante, Om, jangan sembarangan bicara! Kalian bukan siapa-siapa, Amel!" teriak Amel mundur namun Marsel meraih lengan gadis itu.
__ADS_1
"Om, lepasin Amel, jangan pegang Amel!" ronta amel ketakutan. Gadis polos itu mengira keduanya sedang berencana menculiknya, namun dugaan Amel salah. Marsel berjongkok di depannya dan menatap teduh gadis itu. Tatapan yang tadi tajam, seketika berubah sedih.
Namun, saat pria itu ingin bicara, seseorang masuk sambil mendorong kereta bayi Rayden lalu meletakkan takjil di atas meja.
"Kamelia, kamu dengan siapa, Nak?" tanya Barsha melihat dua tamu yang membelakanginya. Barsha mengira itu tamu Rayden dan Arum.
"Mamaaaaa!" Teriakan Amel lari memeluk Barsha dan menangis.
"Mama, Amel takut, mereka bilang mereka orang tua Amel."
DeG. Barsha yang membelai rambut Amel langsung berhenti dan menatap beku pada dua orang yang membalikkan pandangannya.
"Kalian...." ucap Barsha mengenal mereka.
"Bella?" balas Marsel dan Sekar bersamaan.
Barsha memeluk Amel di sebelahnya, dia tidak sangka dua orang yang telah berpisah dia dengan Arum selama 19 tahun kini bertemu secara langsung.
"Bella, kamu masih hidup?" seru Marsel terkejut bertemu istri pertamanya. Air mata yang tertahan pun menetes dari pelupuk Barsha.
"Kalian, apa yang kalian lakukan di sini!!!" bentak Barsha pada mereka. Mengira kedatangan Marsel dan Sekar ingin merebut putri. "Tunggu, jangan-jangan kalian ingin merebut putriku dan cucuku, kan?" tebak Barsha.
Sekar pun maju, menjelaskan semua ketakutan Barsha.
"Bel, dengarkan kami dulu," ucap Sekar.
"Dengar apa? Apa yang harus aku dengar? Kalian berdua setan! Kalian bersekongkol menculikku dan paksa aku untuk melahirkan anak, setelah itu kalian berdua ingin membunuhku, apa belum cukup saat kalian menghancurkan hidupku! Gara-gara kalian, hidup sepertinya tidak berarti. Tapi beruntung, Rayden menemukan putriku, dan kali ini aku tidak akan menyerahkan putriku dan cucuku untuk kalian!" jelas Barsha marah disertai isak tangisnya. Mengingat Sekar adalah wanita yang merawatnya saat mengandung Arum tapi setelah itu Sekar menghilang seolah-olah menderita.
"Bella, kamu salah paham. Semua yang kamu anggap tidak benar, kami berdua--"
"Cukup! Aku bukan Bella, aku Barsha! Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari wanita iblis sepertimu!" ucap Barsha menunjuknya. Kamelia semakin ketakutan melihat apa yang mereka rasakan. "Mama, jangan marah-marah, ini bulan puasa." Amel mencoba menenangkan Barsha sebelum bayi di dalam kereta menangis.
Sekar terguncang, sangat terguncang melihat putri yang dia lahirkan memanggil Mama kepada wanita lain. Sedangkan Marsel tertunduk, hatinya bergemuruh di sana melihat wanita yang memang dia cinta dari awal sudah berubah. Tidak ada ketakutan di mata Barsha sehingga membentaknya.
"Marsel, jangan diam saja. Kamu jelaskan semuanya! Apa kamu mau, putrimu menganggap ayahnya penjahat?!" desak Sekar pada Marsel.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu dijelaskan! Kalian memiliki harta yang bisa kalian gunakan membeli anak di luar sana, lebih baik kalian pergi dari sini!" usir Barsha.
"Marsel! Katakan sesuatu! Bagaimana pun, dia masih menjadi Istrimu! Apa kamu akan sia-sia kan kesempatan ini?!" ucap Sekar memohon pada Marsel. Pria itu mengangkat wajahnya, melihat bergantian Barsha dan Sekar, dua wanita yang pernah dia ikat dalam pernikahan.