
"Sebenarnya, aku baru di sini. Tidak tahu mengajak siapa untuk mengobrol. Kamu bisa kan menemani ku seharian?" tutur Joan ingin lebih dalam mengenal Kinan.
"Duuh, aku kan harus ke supermarket beli kebutuhan kehamilan ku, apa nanti aku bisa tepat waktu pulang kalau menemaninya nanti?" gumam Kinan bimbang.
"Pas sekali, biarkan aku juga yang menemanimu, Nona."
Kinan tersentak. "Emm, jadi merepotkan anda lagi nih?"
"Tidak masalah, aku senang dapat menolong mu," ucap Joan.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih." Kinan pun mengenalkan dirinya dari Indonesia dan ke London untuk liburan bersama suaminya. Sedangkan Joan memalsukan identitasnya. Jika Kinan tahu disebelahnya seorang Mafia maka bisa saja Kinan shock dan melahirkan anak di dalam mobil sportnya. Bukan kah itu agak lucu?
Joan senyam-senyum memikirkan ekpresi Kinan itu. Dia pun menoleh ke Kinan ingin tanyakan soal suaminya mengapa membiarkan Kinan sendirian di jalanan. Joan pikir mungkinkah gadis ini punya suami atau tidak?
"Nona Kinan,"
"Ya ada apa, Tuan?" tanya Kinan deg-degan hanya berdua di dalam mobil.
"Saya jadi penasaran mengapa tidak ada suami yang menemanimu, apa dia sedang sibuk?" tanya Joan juga grogi.
Kinan diam sejenak. "Itu, suamiku memang sibuk. Dia akhir-akhir ini mengurus saham ayahku, tapi walau dia sibuk, dia sangat baik dan sayang padaku, bahkan berkali-kali memberiku kejutan indah. Aku jadi merasa bersalah sering mengganggunya, dan tidak membalas kebaikannya," ucap Kinan berbohong. Sama sekali ucapannya itu terbalik. Kinan hanya ingin Joan tidak macam-macam padanya sehingga bicara Wira sosok suami yang baik. Tapi dalam benak Joan, apakah Wira mencintainya?
__ADS_1
"Bahagia sekali ya dapat suami yang dapat mencintai dengan tulus," ucap Joan menatapnya lagi. Kinan menunduk. Bahagia? Apa di raut wajahnya memancarkan cahaya kebahagiaan? Seandainya pria itu tahu, dia sedang sangat terluka sekarang, menderita, tersiksa, dan bahkan terasa hidupnya hampa, pasti kata bahagia itu tidak akan terucap.
Kinan pun bicara dan sedikit bergetar "Ya, su-suamiku sangat mencintaiku, sampai-sampai dia tidak bisa bernafas jika tidak melihatku seharian." Perih hati Kinan berdusta di depan Joan.
Joan pun hanya tersenyum singkat mendengar kalimat lucu itu, ia pun kemudian fokus menyetir. Dia dapat menebak, ada tekanan batin yang tertahan di dalam hati gadis itu. Joan tahu, kebohongan Kinan.
Setelah jalan-jalan seharian ke supermarket dan beberapa tempat, Joan pun mengantar pulang Kinan. Saat turun dari mobil, pandangan Joan menangkap satu mobil di depan rumah Kinan. Ya, mobil Wira yang sudah pulang. Kinan tersenyum lebar melihat sudah ada mobil suaminya, ia pun menoleh ke Joan.
"Sepertinya suamiku sudah datang. Terima kasih, Tuan Joan sudah baik hati menemani dan mengantar ku pulang, lain kali aku akan balas kebaikan anda, permisi Tuan."
Joan menghembus nafas berat melihat Kinan masuk, ia pun melihat ponselnya tertera satu kontak baru. Sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Tidak sia-sia aku tadi menyembunyikannya. Sekarang aku harus ke rumah Rayden, melihat dua ponakan kecil ku." Joan pun ingin masuk ke dalam mobil, akan tetapi pandangannya sore ini menangkap sosok anak kecil.
"Mama?"
"Joan?"
Kamelia berdiri di sebelah Barsha setelah melihat Joan membuka sebentar kumis tebal palsunya.
"Mama, dia siapa?" tanya Kamelia belum kenal. Barsha segera menjawab. "Dia saudaranya Om Rayden, Joan Edrian." Barsha bergegas memeluk Joan, dia sangat terharu putra mahkota dapat langsung melihatnya. Air matanya berderai turun.
__ADS_1
Joan pun diajak masuk, dan sekarang duduk di sofa bersama Kamelia. Sementara Barsha ke dapur membuatkan jamuan untuk anaknya itu.
"Om!" sahut Kamelia memanggilnya.
Joan menoleh. "Kenapa?" Joan sudah tahu anak manis di dekatnya itu adik tiri Arum. Berkat Arleya, ia juga sudah tahu Barsha adalah Ibu kandung Arum.
"Om Mafia, ya?" tanya Kamelia polos. Joan tersenyum lalu mengangguk kecil. Kamelia pun berseri-seri dapat bertemu Bos Mafia dengan jarak sedekat itu.
"Om!" lagi-lagi Kamelia memanggil.
"Kenapa?"
"Om, ke sini tidak bawa pengawal? Kok sendirian saja sih? Om tidak takut diculik musuh?" tanya Kamelia bertubi-tubi. Joan pikir anak itu ingin meminta hadiah berupa sepeda, tapi malah menganggapnya remeh. Sedikit ada rasa kesal di hatinya.
'Anak ini cukup menyebalkan.'
Begitu pun Kinan yang sudah masuk dan melihat Wira menelpon diam-diam. Kinan melangkah maju, ingin mendengar apa yang Wira bicarakan sampai CEO es itu tidak menyadarinya.
Spontan, ia berhenti tepat di belakang Wira.
“Ya sayang, kamu mau berapa? Mau 50 juta? 100 juta? Atau aku kasih hadiah rumah mewah?”
__ADS_1
Tidak sangka Wira diam-diam menafkahi wanita lain.
.....