
Tiga hari kemudian, lagi-lagi Rayden dikejutkan dengan kabar dilantiknya Bos Mafia di Veldemort. Tuan Joan, telah naik tahta.
"Ternyata tetap saja Joan yang akan jadi King, tidak sia-sia dia berobat. Apa rencana dia masih berlaku?" gumam Rayden menatap televisi di sebuah Bank yang ia datangi untuk melihat card goldnya, dan benar saja card goldnya sudah berfungsi lagi. Akhirnya harta triliunnya balik lagi. Kemarin jadi kismin dadakan, sekarang jadi orkay mendadak.
"Apa ini kerjaan Joan? Dia telah membantu ku?" gumam Rayden menggesek cardnya.
Tiba-tiba dan lagi-lagi ia berjumpa dengan Wira.
"Hai, Bro! Kita ketemu lagi nih."
Raut wajah Rayden langsung tidak karuan.
____
Rayden : 'Thor, ini sengaja bikin emosi gue ya?'
Aurhor : 'Yaelah, gak papalah ketemu tokoh ketiga wkwkw
Rayden : 'Awas ya kalau sampai jadi orang ketiga, bakal aku kucek-kucek matamu, Thor'
Author : 'Ciee ada yang marah, kabur aahhh, xixixi'
_____
"Hem, apa ini kebetulan lagi?" ucap Rayden datar.
"Rasanya sudah bukan," cengir Wira sedikit lalu menekan tombol-tombol di mesin itu.
"Tadi sebelum ke sini, aku melihatmu, dan pas banget aku ikut masuk buat ngecek rekening deh. Siapa tahu ada kiriman uang." Wira kembali bicara lalu membuang nafas karena tidak ada isi rekeningnya.
"Ooh, gitu. Aku pikir kau sengaja mengikutiku dari awal," ucap Rayden masih mengamati tampilan Wira.
"Hahaha... apa untungnya aku mengikutimu? Tidak ada yang penting juga, kan?" tawa Wira ingin pergi.
"Tunggu, ini ambillah! " Rayden memberi uang tunai setara dengan jumlah yang dulu Wira berikan padanya.
"Eh tidak perlu, aku masih punya uang kok, Bro." Wira menolak.
"Ambilah, aku tidak ingin terbebani olehmu!" desak Rayden menaruh uang tunai itu ke telapak tangan Wira, lalu pergi gitu saja.
"Diiih, gayanya sombong sekali. Tapi uangku juga sudah menipis nih gara-gara kemarin kirim uang lima juta ke rekening Kakakku. Ya sudahlah, aku pakai saja uang ini." Wira pun pergi dari Bank itu juga.
Selama ini, pertumbuhan kehamilan Arum mulai membaik lagi. Nafsu makan Arum pun juga sudah kembali. Bodynya sedikit gendutan dirawat dan dijaga oleh Rayden beserta selir Barsha. Sedangkan Arleya pulang ke negaranya untuk melihat Kastilnya. Takut Organisasi Mafianya dimasuki penjahat.
Kini usia kandungan Arum sudah masuk ke tujuh bulan. Arum merayakan syukuran bersama suami tercinta yang seyakinan dengannya dan selir Barsha yang juga telah menganut agama yang sama. Berkah luar biasa yang dirasakan Arum saat ini. Namun sayangnya, Rayden belum bisa kembali ke Veldemort karena ia tidak mau Arum dalam bahaya. Ia akan kembali ke sana setelah Arum lahiran.
Saat ini, ada kejutan yang sudah disiapkan Rayden. Arum ditutup matanya pakai kain, dan dituntun ke halaman belakang rumah.
__ADS_1
"Mas, kita mau kemana? Kok di sini dingin banget?"
"Mas ada kejutan untukmu, beby." Rayden berbisik.
"Kejutan apa?" tanya Arum sangat penasaran.
"Kalau dikasih tau bukan kejutan namanya, beby!" celetuk Rayden gemas.
"Hehehe... iya juga." Arum terkekeh. Rayden pun berhenti dan berdiri di depan istrinya itu.
"Duh, sudah sampai ya Mas?" cemas Arum agak takut membuka mata.
"Ya sayang, sekarang lihatlah!" seru Rayden melepaskan penutup mata Arum.
Arum perlahan membuka, samar-samar ada dua kursi dan satu meja yang diatasnya terdapat kue tart.
"Wow, ini kejutan buat aku?" Arum tersenyum lebar, terharu melihat suasana romantis malam ini di bawah gugusan bintang.
Rayden menarik pelan-pelan istri hamilnya, ia mendudukkan Arum di salah satu kursi dan ia duduk di kursi lain.
"Mas, ini romantis banget, aku suka!" riang Arum ingin menangis.
"Happy Birthday yang ke 19 tahun, my beby."
Chuup! Rayden mencodongkan tubuhnya dan mencium kepala Arum dengan kelembutan. Arum berdiri, ia memeluk Rayden.
"Duh, jangan nangis dong. Aku kan bikin ini bukan buat kamu nangis, yoklah senyum, beby." Rayden cubit-cubit gemas pipi tembem istrinya.
"Ihhh, aku ini nangis bahagia, Mas." Arum mendengus.
"Cup... cup... ya sudah tipu lilinnya terus minta doa terbaikmu, sayang." Rayden kembali duduk bersama Arum. Arum pun keras-keras melontarkan keinginannya.
"Semoga kebahagiaan selalu datang di keluargaku dan semoga Kamelia--" Arum berhenti. Ia masih saja memikirkan adik tirinya.
"Kenapa berhenti?" tanya Rayden berdiri.
"A-aku kepikiran Kamelia, hiks." Arum terisak, ia ingat jelas berkat anak itu ia dapat bertemu Rayden.
Rayden memeluknya lalu berbisik ke telinga Arum. "Maaf, aku sudah bohong padamu, beby." Arum tersentak, ia pun mendongak.
"Maksudnya?" tanya Arum tidak paham. Seketika, ia terkesiap setelah suara yang dia rindukan menyahut dari belakangnya.
"Ka-kakak," lirihnya memanggil. Arum secepat menoleh. Air matanya tumpah deras melihat anak perempuan blasteran itu berdiri tepat di depannya.
"Ka-kamelia, kau di sini, Dek?" Arum menghampirinya. Dipeluknya gadis kecil cantik itu. Kamelia yang kini sembuh total memeluk Arum. Ia menangis kencang dipertemukan sekarang.
"Kakak, Amel rindu Kakak, hiksss. Kakak jangan tinggalkan Amel lagi." Kamelia sesugukan mengingat ingatan terakhirnya saat Arum pergi mencari-cari pinjaman. Saat itu ia takut akan ditinggal.
__ADS_1
"Tidak Dek, Amel tetap sama Kakak." Arum ingin jongkok, tapi perutnya cukup besar jadi hanya bisa membelai rambut Kamelia. Arum pun menoleh ke Rayden yang tersenyum.
"Ter-terima kasih, Mas sudah tepati janji." Mulutnya bergetar, ia memeluk Rayden dan Kamelia. Setelah itu, ketiganya bersama-sama menyelesaikan ultah indah itu.
Arum lega melihat Kamelia makan kue dengan lahap. Kini ia menatap Rayden.
"Mas, tahu tanggal lahirku dari mana? Kok bisa tahu aku ultah hari ini?" tanya Arum baru sadar ada yang janggal.
Rayden mengelus perut besar istrinya lalu menjawab jujur.
"Dari Nenek anak kita," jawab Rayden penuh kelembutan.
"Maksudnya?"
"Dari Ibu kandungmu, Arum." Rayden menunjuk ke balik semak-semak.
"A-apa? Ibu kandungku?" Arum terkejut sekali.
"Ya, dia ada di sini, beby."
"Tidak Mas, kata ayahku, Ibu kandungku sudah meninggal," lirih Arum air matanya lagi-lagi menumpuk.
"No beby, Ibumu ada di sana, cobalah kau temui dia."
Arum mengusap kedua matanya, ia bersusah payah berjalan ke semak-semak itu, diikuti Rayden dari belakang.
"Mama, mama kau di mana?" Arum memanggil lantang mencari sana sini. Sontak, ia berhenti setelah seorang wanita berdiri di belakangnya.
"Mama.... " Arum mendekatinya perlahan. Wanita itu mengepal tangan, lalu berbalik.
DEG! Arum terdiam melihatnya.
"Mama Barsha? Ke-kenapa ada di sini?" tanya Arum terbata-bata.
Barsha sudah lama memedamnya, ia memeluk Arum dan terisak pilu.
"Ini Mama, Nak. Mama yang melahirkan mu, sayang."
_____
Jujur, nangis bayanginnya huhuhu....
Selamat ya buat Arum ♡ Rayden.
Tinggalkan like dan komen..
Terima kasih😘
__ADS_1